Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Al-Quran ditujukan semua golongan tanpa kecuali

Al-Quran merupakan petunjuk dan pedoman hidup manusia. Sehingga harapannya menjadi manusia yang adil dan beradab.

Sebab, bila manusia tidak diberi petunjuk maka kehidupan dunia ini rusak dan binasa sebelum waktunya. Karena di dalam diri manusia ada sifat baik dan buruknya. Bila tidak dikendalikan dan diatur dengan baik maka kecenderungan buruk lebih dominan daripada yang baik.

Jadi, Al-Quran itu siapa saja berhak memahami dan mengamalkannya. Dan tentunya yang mau adalah yang mengimaninya. Begitupun, ada juga yang mengikuti Al-Quran tetapi ilmunya saja yang diambilnya tetapi imannya tidak.

Maka, sikap manusia terhadap Al-Quran itu ada 3;
1. Mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran sepenuhnya
2. Mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran setengahnya
3. Memahami dan mengamalkan Al-Quran tetapi tidak diimaninya

Tentunya, dari 3 sikap tersebut yang terbaik adalah point pertama, yaitu mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran sepenuhnya. Sehingga cita-cita berkehidupan adil dan makmur benar-benar tewujud dan terasa.

Kalau ditanya sekarang ini bagaimana orang mensikapi Al-Quran maka jawabannya lebih banyak di point 2 dan 3. Untuk point 1 kemungkinan tidak ada atau sedikit sekali. Ini bisa dibuktikan bagaimana kondisi dunia hari ini dan siapa yang mengelolanya. Padahal di dalam Al-Quran sangat terang dan jelas siapa yang berhak menguasai dan mengelola kehidupan dunia ini. Walaahu a`lam bissowab.

Ketika eksistensi TUHAN "terlihat" hanya pada soal musibah

Dipercaya atau tidak bahwa alam ini tidak tercipta dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakannya. Dan yang menciptakannya adalah yang memiliki kuasa dan kekuatan besar. Dan yang memiliki kuasa dan kekuatan besar itu adalah Tuhan. Bagi orang Islam bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah yang Maha Esa. Dia ada tapi tidak berwujud seperti ciptaanNya.

Adanya kenikmatan dan musibah bagi manusia bagian dari kehidupannya. Karena tanpa diminta keduanya itu selalu hadir mengiringi selama dirinya hidup. Bila yang dirasakan senang, puas dan bahagia maka manusia menganggapnya sebagai kenikmatan. Dan bila yang dirasakan tidak menyenangkan, kurang memuaskan dan kesedihan maka manusia menganggapnya sebagai musibah.

Soal Tuhan, memang manusia merasa kehadirannya disaat musibah datang. Dan bila musibah berlalu maka tidak sedikit manusia "melupakan"Nya. Kenapa bisa begitu ?

Dalam diri manusia, ada kekuatan lagi kelemahan. Tidak bagi Tuhan. Dia Maha memiliki kekuatan dan tidak ada kelemahan bagiNya. Itulah yang membedakan diriNya dengan yang diciptakanNya. Ibarat kursi dengan sipembuatnya. Tentu secara fisik maupun kekuatan tentunya berbeda. Begitupun si kursi tidak bisa dikatakan bahwa dirinya anak si pembuat kursi. Ketika si kursi rusak dan patah maka dia akan membutuhkan perbaikan oleh si pembuatnya. Ketika sudah baik, si kursi mungkin saja tidak membutuhkan si pembuatnya.

Bagi orang yang bertakwa bahwa kenikmatan dan musibah itu sama saja cara menghadapinya. Yang berbeda hanya perasaannya. Dan itu alami. Tetapi tentu perasaan yang tidak berlebihan. Bila nikmat bersyukur dan bila susah bersabar. Hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh orang yang bertakwa. Berbeda dengan orang yang di luarnya. Bila nikmat kegirangan dan bisa susah berkeluh kesah.

Soal musibah, seolah-olah Tuhan hadir disitu maka berdoalah ia sesering mungkin sampai pertolonganNya tiba. Namun apa yang terjadi bila musibah itu berlalu ? Sudah tentu kebanyakan manusia itu melupakan kesusahannya dan Tuhan yang menenangkannya. Makanya dengan "jengkelnya" Tuhan bilang bahwa "manusia itu selalu melampaui batas".

Ketahuilah, bahwa Tuhan hadir di setiap saat. Dia tidak pernah mengantuk apalagi tidur sebagai makhlukNya. Dia terus menerus mengurus dan mengatur alam semesta ini dengan kuasaNya.

Pada dasarnya kenikmatan itu datangnya dari Tuhan dan musibah itu akibat dari manusia itu sendiri. Bukan Tuhan "cuci tangan" tetapi dibuatkan aturan dan hukum-hukumNya agar manusia itu senantiasa dalam kenikmatan. Namun karena manusia itu ada sifat kufur akibatnya kembali kepada manusia itu sendiri.

Begitupun di balik musibah sebenarnya ada kenikmatan dan hikmah-hikmah di dalamnya. Diantaranya adalah agar manusia itu sadar dan kembali kepada Tuhannya yang mungkin selama ini dilupakan dan dianggap "tidak ada".

Jadi, bersikap ihsan dalam suka dan duka. Yakinlah bahwa Tuhan bukan spesialis menangani "kesusahan" makhlukNya. Maka pantaslah manusia itu beribadah dengan rela hati dan tanpa paksaan. Diminta atau tidak diminta. Persoalannya adalah bagaimana pula dengan orang yang ketika senang tidak peduli terhadap Tuhannya apalagi disaat susah, tidak membutuhkanNya. Penulis berkeyakinan pasti tidak ada manusia yang demikian kecuali menipu dirinya sendiri. Wallaahu a`lam bissowaab.

Anda menuntut ilmu supaya apa ??

Kebanyakan orang-orang bila ditanya "Untuk apa anda belajar?" "Anda menuntut ilmu supaya apa?" Maka jawabannya sudah dapat dipastikan bahwa ada yang menjawab "Supaya pintar" "Supaya jadi orang" "Supaya paham" dan seterusnya.

Memang, jawaban-jawaban di atas tidak ada yang salah. Tetapi kemudian meninggalkan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk menguji jawaban-jawaban tersebut. "Untuk apa pintar?" "Kalau sudah pintar lalu mau apa?" dan seterusnya.

Tulisan kali ini bukan bertujuan untuk menghakimi atau membenarkan pandangan dan pendapat saya. Tujuan saya hanya ingin membuka wawasan baru barangkali atau mengulang kaji yang pernah ada. Walaupun nanti ada juga terdapat kekeliruan pada akhirnya maka konsekwensinya harus diterima. Karena hanya kebenaran yang absolut dan pengetahuan itu relatif.

Bila ditanya, anda menuntut ilmu supaya apa ?
Memang, ilmu tidak ada yang salah. Tetapi kenapa dituntut ? Dalam istilah agama kata menuntut itu diartikan dari kata THO-LA-BA. Maka dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai menuntut. Dan kata menuntut ini kemudian dipakai dalam istilah hukum. Akhirnya maknanya menjadi bias. Sehingga menuntut itu diartikan berkaitan dengan hukum. Dan Celakanya juga bahwa kata hukum diartikan sebagai memberi sanksi yang bersalah saja. Padahal kata hukum juga diambil dari istilah agama, yaitu HA-KA-MA yang artinya pasti. Kenapa bisa begitu ? Dalam ilmu bahasa bahwa kata-kata dasar dalam bahasa Indonesia banyak diambil dari bahasa-bahasa asing, termasuk bahasa arab yang kemudian dikelompokkan sebagai bahasa atau kata serapan.

Manusia diperintahkan oleh Tuhan agar menuntut ilmu adalah sebenarnya bukan ilmunya yang dituntut tetapi manusianya. Karena ilmu itu bukan orang tetapi kumpulan pengetahuan-pengetahuan yang kemudian diuji kebenarannya lalu menjadi sebuah ilmu. Dan kata menuntut itu diarahkan kepada manusianya. Jadi, menuntut ilmu itu mengandung arti bahwa manusia didesak bahkan kalau perlu dipaksa berilmu supaya apa ? Nah disini akan dijelaskan tujuan dan manfaatnya.

Dengan demikian, bila diperbaiki pertanyaannya adalah anda dituntut supaya berilmu untuk apa ? Maka jawabannya adalah untuk menuntun anda ke jalan yang benar. Soal pintar itu bisa masuk ke dalam wilayah pendidikan atau psikologi atau yang berkaitan dengan disiplin ilmu intelektual.

Lalu, apa pula yang dimaksud dengan jalan yang benar. Memang apa yang dimaksud dengan jalan yang benar ?

Jalan yang benar itu berarti banyak makna. Dan istilah ini terdapat dalam agama Islam, tepatnya Al-Quran sebagai sumbernya. Dan kalimat ini terdapat di dalam surah Al-Fatihah ayat 6, yaitu artinya "Tunjukilah kami jalan yang lurus (menurut teks terjemahan) atau benar".

Berdasarkan berbagai tafsir yang penulis temukan bahwa kata jalan itu mengandung arti agama, paham, kelompok, manhaj, cara pandang, cara hidup dan sebagainya. Dan disitulah salah satu bukti kesempurnaan Al-Quran yaitu memberikan sebuah kata sejuta makna untuk diambil sebagai kajian dan pelajaran berbagai ilmu. Subhanallah.

Maka soalan tentang "anda menuntut ilmu supaya apa?" maka jawabannya adalah supaya saya dituntun ke jalan yang benar. Dan dari situ silahkan dipergunakan untuk apa. Tentunya pasti untuk kebaikan. Karena kebaikan itu adalah kebutuhan bagi setiap orang kecuali bagi yang tidak merasa orang. Hehehe (Bercanda).

Demikian tulisan ini dipaparkan. Penulis mengabarkan, silahkan anda menyimpulkannya. Wallaahu a`lam.

Sebelum berdakwah, nabi "diisi pikirannya" oleh Tuhan

Penulis sadar betul bahwa judul artikel ini bagi sebahagian orang dianggap "kelancangan" dari kebiasaan orang belajar ilmu agama dari yang biasa saja tanpa kritis dan tajam. Karena penulis melihat hari-hari ini ummat diberikan kajian yang biasa saja tanpa ada action yang nyata sebagaimana telah dicontohkan oleh nabi dan para sahabat.

"Kelihatan sekali bahwa Tuhan menghendaki rasulNya supaya "pintar" menguasai ilmuNya dan sebagai upaya bekal pikiran untuk menghadapi ummatnya yang akan menghadang dan menolak dakwahnya."

Lihat saja bagaimana nabi saw. membangun "akal sehat" masyarakat Mekkah yang ketika itu larut dalam penyembahan berhala dan amoral. Di Madinah nabi saw. bersama sahabat menjalin kebersamaan antar ummat beragama membangun peradaban manusia. Kemudian dilanjutkan oleh para sahabat "menyempurnakan" teknis beragama dengan prinsip agama yang telah sempurna disampaikan oleh nabi saw. ditandai haji wada` sebelum akhirnya beliau kembali menghadap sang ilahi, Allah swt.

Menurut sejarah bahwa pada usia nabi Muhammad saw. tepatnya 40 tahun, beliau menerima wahyu Allah melalui Malaikat Jibril as. yang pertama yaitu Quran Surah Al-Alaq ayat 1-5
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. 

Mungkin sebahagian orang tidak menyangka bahwa semestinya nabi saw. menerima perintah dakwah sebagai bukti kerasulannya dan menerima perintah ibadah maghdhah (khusus) dan sebagainya. Tetapi yang diterima nabi pertama kali dari Tuhan justru wahyu IQRA` (bacalah dan kaji dirimu dengan pikiranmu).

Poin ayatnya adalah nabi dituntut untuk mengisi pikirannya sebelum berdakwah kepada manusia yang ketika itu dalam kondisi jahiliyah (zaman kebodohan dari segi keyakinan dan akhlak). Dimana ayat itu ada perintah baca dan mengenal diri sebelum mendakwahkan orang lain.

Jauh sebelumnya ketika nabi Adam as. hendak dijadikan Allah sebagai khalifah bumi (petugas bumi) bahwa nabi Adam as. juga diisi pikirannya oleh Allah swt. dengan ilmu pengetahuan. 2:31

Begitupula dengan nabi-nabi yang lain seperti nabi Ibrahim as ketika beliau bingung mencari Tuhannya sebagai upaya mengisi pikirannya sebelum berdakwah.

Kelihatan sekali bahwa Tuhan menghendaki rasulNya supaya "pintar" menguasai ilmuNya dan sebagai upaya bekal pikiran untuk menghadapi ummatnya yang akan menghadang dan menolak dakwahnya.

Dengan demikian, ketahuanlah bahwa Iman itu berdasarkan akal pikiran yang sehat. Hati bagian dari pikiran. Keduanya boleh jadi "translate" bahasa. Meski sebahagian orang menganggap bahwa akal dan hati itu dua anggota tubuh yang terpisah. Padahal bila dibaca dan dipikir dengan jujur maka akal dan hati itu adalah sama.

Soal beriman tidak beriman itu bukanlah dipikiran. Tetapi kehendak si makhlukNya dengan dasar syahwat bukan nafsu. Karena nafsu adalah jiwa. Ditambah dengan dorongan syaitan yang bertugas menghalang-halangi manusia dari jalan Allah swt.

Sebenarnya banyak hal bahwa dakwah itu berdasarkan akal sehatnya para sahabat lalu dikembangkan melalui disiplin yang bertujuan mengurai kebenaran kitab Tuhan (Al-Quran) agar ummat mudah memahami dan menerima kebenaran (Tuhan). Bukan melahirkan kebenaran baru. Karena kebenaran itu absolut.

Maka untuk memantapkan keimanan itu, isilah pikiran dengan mempelajari secara utuh Al-Quran sebagaimana dicontohkan nabi, para sahabat, dan para ulama sebelum kitab-kitab manusia agar hasil akhirnya mengakui dan menerima sepenuhnya kitab Allah swt. sebagai petunjuk manusia. Tetapi hari-hari ini akal pikiran itu "dibunuh" oleh orang2an yang membedakan dengan hati. Wallaahu `alam

Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis

Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gun...