Soal corona atau COVID-19 yang sedang mewabah hampir di seluruh dunia saat ini, membuat orang-orang meronta dan merana. Karena yang biasa menjadi di luar kebiasaan.
Yang biasanya bekerja menjadi meronta karena corona, yang biasanya berkumpul menjadi merana karena corona, Yang biasanya berkeliaran menjadi rumah aja karena corona. Sebab corona mengharuskan orang-orang menjaga jarak, memakai masker dan biasakan mencuci tangan.
Sebagai orang beragama, menyikapi situasi ini hanyalah dengan sabar dan shalat. Meskipun shalat berjama`ah dibatasi tetapi masing-masing orang masih bisa shalat meski di rumah aja. Kalaupun di masjid harus dipastikan dirinya tidak menularkan dan ditularkan.
Oleh karena itu, nampaknya corona ini mengajak orang untuk bersabar berjama`ah yang mungkin selama ini orang itu bersabar sesuai dengan masalahnya masing-masing. apakah masalah keuangan, masalah penghasilan, dan masalah-masalahnya secara munfarid (sendiri-sendiri) maka melalui corona agaknya "memaksa" orang-orang bersabar berjama`ah dengan hubungan dan kegiatan secara terbatas yang bagi tidak terbiasa pastilah menjadi luar biasa.
Barangkali inilah sisi "kebaikan" dari corona bagi yang mau berfikir positif. Dan bagi yang tidak mau, ya silahkan. Itu haknya. Bahwa kebaikan corona adalah mengajak orang bersabar berjama`ah sampai waktunya berakhir. Bagaikan aroma buang angin, pastilah tidak selamanya baunya di sekitar orang yang membuangnya kecuali berulang-ulang.
Tidak ada yang sia-sia di dunia ini yang Tuhan ciptakan. Meskipun corona buatan orang, tetapi pastilah Tuhan mengizinkannya. Supaya manusia mau mengambil pelajaran terhadap yang baik dan yang buruk sekalipun. Dan yang hanya mau mengambil pelajaran hanyalah orang yang memiliki akal sehat.
Semoga corona ini segera berlalu dan telah mengajari manusia bagaimana akibat buruk yang diperbuatnya bila melakukan kerusakan di bumi Tuhan ini. walaahu a`lam bissowab
Yang dikatakan nasehat itu adalah pengetahuan, ilmu, pelajaran, pengingat, teguran, dan lain sebagainya yang mengarahkan manusia kepada jalan yang lurus dari kota dunia menuju kampung akhirat dan menetap di surgaNya Allah robbul `aalamin
Showing posts with label akhlak. Show all posts
Showing posts with label akhlak. Show all posts
Kenapa hati yang dibersihkan, bukan akal ?
Yakin atau ragunya seseorang terhadap kebenaran maka penentunya hati. Memikirkan dan memahami sesuatu merupakan fungsi dari akal. Ketika akal memikirkan dan memahami sesuatu maka penentu paham atau tidaknya adalah hati. Bila terhadap kebenaran maka hati dapat menolak atau menerima setelah akal memikirkannya.
Hati yang menolak kebenaran bukan karena akal yang tidak mampu memikirkannya tetapi hati yang ragu-ragu bahkan tidak percaya sama sekali. Atau dikarenakan akal tidak difungsikan untuk memikirkannya. Begitu juga bila hati menerima kebenaran.
Antara hati dan akal maka yang berpenyakit adalah hati bukan akal. Yang sering didengar adalah akal yang rusak. Itupun kerusakan akal dikarenakan hati yang berpenyakit. Namun yang disebut ketika suatu amalan yang keliru adalah akal-akalan. Padahal amalan itu berangkat dari niat. dan niat itu ada di hati bukan di akal.
Penyakit di hati adalah dengki dan sombong. Dengki disebabkan ketidaksukaan terhadap sesuatu yang tidak pantas dibenci. Seperti ketika orang mendapat nikmat maka hatinya mendengki. Sehingga kedengkiannya itu menyuruh akal memikirkan bagaimana supaya orang tersebut celaka bahkan kalau perlu binasa.
Kesombongan disebabkan merasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Apakah itu soal harta, tahta dan ilmu. Sehingga hati menyuruh akal bagaimana orang-orang senantiasa memujinya bahkan kalau perlu memujanya sebagaimana fir`aun dan sejenisnya.
Dengan demikian, pantaslah dalam Islam agar menjaga dan merawat kebersihan hati. Agar hati tidak semena-mena menyuruh akal (memikirkan) dan anggota tubuh lainnya seperti lisan (ucapan), mata (memandang), telinga (mendengar), tangan (berbuat) dan kaki (berjalan) kepada hal-hal kedurhakaan dan kemaksiatan. Itu makanya nabi pernah bilang dalam sebuah hadits yang maknanya "Di dalam tubuh manusia ada segumpal darah yang bila bagus maka baguslah semuanya dan bila rusak maka rusaklah semuanya. Dan segumpal darah itu adalah hati."
Maka alasan mengapa hati yang dibersihkan dan bukan akal adalah hati yang bersih (qolbun salim) menentukan manusia senantiasa berbuat kebaikan dan hati yang berpenyakit menentukan manusia senantiasa berbuat keburukan. Oleh karena itu jagalah hati supaya tidak lari (dari kebenaran). Wallaahu a`lam.
Hati yang menolak kebenaran bukan karena akal yang tidak mampu memikirkannya tetapi hati yang ragu-ragu bahkan tidak percaya sama sekali. Atau dikarenakan akal tidak difungsikan untuk memikirkannya. Begitu juga bila hati menerima kebenaran.
Antara hati dan akal maka yang berpenyakit adalah hati bukan akal. Yang sering didengar adalah akal yang rusak. Itupun kerusakan akal dikarenakan hati yang berpenyakit. Namun yang disebut ketika suatu amalan yang keliru adalah akal-akalan. Padahal amalan itu berangkat dari niat. dan niat itu ada di hati bukan di akal.
Penyakit di hati adalah dengki dan sombong. Dengki disebabkan ketidaksukaan terhadap sesuatu yang tidak pantas dibenci. Seperti ketika orang mendapat nikmat maka hatinya mendengki. Sehingga kedengkiannya itu menyuruh akal memikirkan bagaimana supaya orang tersebut celaka bahkan kalau perlu binasa.
Kesombongan disebabkan merasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Apakah itu soal harta, tahta dan ilmu. Sehingga hati menyuruh akal bagaimana orang-orang senantiasa memujinya bahkan kalau perlu memujanya sebagaimana fir`aun dan sejenisnya.
Dengan demikian, pantaslah dalam Islam agar menjaga dan merawat kebersihan hati. Agar hati tidak semena-mena menyuruh akal (memikirkan) dan anggota tubuh lainnya seperti lisan (ucapan), mata (memandang), telinga (mendengar), tangan (berbuat) dan kaki (berjalan) kepada hal-hal kedurhakaan dan kemaksiatan. Itu makanya nabi pernah bilang dalam sebuah hadits yang maknanya "Di dalam tubuh manusia ada segumpal darah yang bila bagus maka baguslah semuanya dan bila rusak maka rusaklah semuanya. Dan segumpal darah itu adalah hati."
Maka alasan mengapa hati yang dibersihkan dan bukan akal adalah hati yang bersih (qolbun salim) menentukan manusia senantiasa berbuat kebaikan dan hati yang berpenyakit menentukan manusia senantiasa berbuat keburukan. Oleh karena itu jagalah hati supaya tidak lari (dari kebenaran). Wallaahu a`lam.
Ketika amalanmu dikoreksi oleh orang lain
Sudah sifat manusia bila ditegur dan dikoreksi tentang dirinya, apakah itu penampilannya atau ucapannya atau perbuatannya maka reaksinya pasti tidak suka, marah bahkan menolaknya.
Biasanya yang menimbulkan reaksi tidak suka itu adalah dari segi cara maupun isinya. Dan umumnya orang-orang pasti menolak dari segi caranya yang dianggap tidak etis dan tidak sopan. Ini biasanya karena faktor usia, kedudukan dan ilmu (pengetahuan) bagi si penerima teguran. Apalagi yang mengoreksi dianggap masih muda, tidak punya kedudukan (awam) dan dangkal ilmunya.
Dalam Islam soal tegur menegur, koreksi dan mengoreksi, nasehat menasehati dan seterusnya yang intinya saling mengingatkan adalah keniscayaan dan bahkan hukumnya wajib. Karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa. Makanya di dalam Al-Quran surah Al Ashr ditegaskan sungguh merugi manusia itu bila tidak ada iman, amal shaleh dan tidak saling mengingatkan.
Memang terkadang yang menegur ini niatnya ada dua; Memang tulus untuk memperbaiki orang atau memang ingin mengusik (mengganggu). Itu tergantung bagaimana cara si pemberi teguran dan pandangan yang menerima saran (teguran).
Ketika amalan seseorang dikoreksi maka biasanya bereaksi :
1. Menerima bila yang mengoreksi adalah dianggap tokoh atau yang dituakan. Sehingga tidak ada penolakan sama sekali bagi yang menerima koreksian itu.
2. Menolak bila yang mengoreksi adalah dianggap bukan tokoh apalagi usianya dianggap lebih muda daripada si penerima koreksian. Akhirnya pasti ditolak habis-habisan. dianggap kurang ajar dan mesti banyak belajar lagi.
Kalau boleh kita kembali kepada bagaimana perjuangan dakwah nabi saw. di Makkah bahwa beliau menerima penolakan yang luar biasa dari masyarakat Makkah. Apalagi di kota itu adalah kota kelahirannya dan tokoh yang terkenal menolak dakwah beliau adalah Abu Lahb yang kebenarannya adalah paman kandung beliau sendiri. Nah dari situ jelas sudah bahwa penolakan Abu Lahb terhadap dakwah nabi adalah karena faktor usia dan kedudukan. Dimana Abu Lahb menganggap bagaimana mungkin seorang keponakan menasehati pamannya sendiri.
Jadi, soal penolakan itu memang sudah menjadi kebiasaan bila dikarenakan faktor usia, kedudukan dan ilmu. Maka semestinya bagi si penerima teguran itu bijaksana menyikapi terhadap siapa yang menegurnya tanpa memandang faktor usia, kedudukan dan ilmu.
Kalaupun memang dianggap benar-benar keliru bagi si pemberi teguran maka semesti tidak buru-buru ditolak, Lihat substansi (isi)nya. Bila memang harus diluruskan maka luruskanlah dengan cara arif dan bijaksana. Bukan malah "menelanjanginya" dengan mengatakan "kau tau apa". "belajar sana". "dasar bahlul" dan seterusnya. Kalau demikian maka apa bedanya dengan orang-orang yang tidak mengenal agama yang mana dalam sebuah hadits disebutkan bahwa "AGAMA adalah NASEHAT". Wallaahu a`lam bishsowab.
Biasanya yang menimbulkan reaksi tidak suka itu adalah dari segi cara maupun isinya. Dan umumnya orang-orang pasti menolak dari segi caranya yang dianggap tidak etis dan tidak sopan. Ini biasanya karena faktor usia, kedudukan dan ilmu (pengetahuan) bagi si penerima teguran. Apalagi yang mengoreksi dianggap masih muda, tidak punya kedudukan (awam) dan dangkal ilmunya.
Dalam Islam soal tegur menegur, koreksi dan mengoreksi, nasehat menasehati dan seterusnya yang intinya saling mengingatkan adalah keniscayaan dan bahkan hukumnya wajib. Karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa. Makanya di dalam Al-Quran surah Al Ashr ditegaskan sungguh merugi manusia itu bila tidak ada iman, amal shaleh dan tidak saling mengingatkan.
Memang terkadang yang menegur ini niatnya ada dua; Memang tulus untuk memperbaiki orang atau memang ingin mengusik (mengganggu). Itu tergantung bagaimana cara si pemberi teguran dan pandangan yang menerima saran (teguran).
Ketika amalan seseorang dikoreksi maka biasanya bereaksi :
1. Menerima bila yang mengoreksi adalah dianggap tokoh atau yang dituakan. Sehingga tidak ada penolakan sama sekali bagi yang menerima koreksian itu.
2. Menolak bila yang mengoreksi adalah dianggap bukan tokoh apalagi usianya dianggap lebih muda daripada si penerima koreksian. Akhirnya pasti ditolak habis-habisan. dianggap kurang ajar dan mesti banyak belajar lagi.
Kalau boleh kita kembali kepada bagaimana perjuangan dakwah nabi saw. di Makkah bahwa beliau menerima penolakan yang luar biasa dari masyarakat Makkah. Apalagi di kota itu adalah kota kelahirannya dan tokoh yang terkenal menolak dakwah beliau adalah Abu Lahb yang kebenarannya adalah paman kandung beliau sendiri. Nah dari situ jelas sudah bahwa penolakan Abu Lahb terhadap dakwah nabi adalah karena faktor usia dan kedudukan. Dimana Abu Lahb menganggap bagaimana mungkin seorang keponakan menasehati pamannya sendiri.
Jadi, soal penolakan itu memang sudah menjadi kebiasaan bila dikarenakan faktor usia, kedudukan dan ilmu. Maka semestinya bagi si penerima teguran itu bijaksana menyikapi terhadap siapa yang menegurnya tanpa memandang faktor usia, kedudukan dan ilmu.
Kalaupun memang dianggap benar-benar keliru bagi si pemberi teguran maka semesti tidak buru-buru ditolak, Lihat substansi (isi)nya. Bila memang harus diluruskan maka luruskanlah dengan cara arif dan bijaksana. Bukan malah "menelanjanginya" dengan mengatakan "kau tau apa". "belajar sana". "dasar bahlul" dan seterusnya. Kalau demikian maka apa bedanya dengan orang-orang yang tidak mengenal agama yang mana dalam sebuah hadits disebutkan bahwa "AGAMA adalah NASEHAT". Wallaahu a`lam bishsowab.
Yang patut disesalkan bukan istilah RADIKAL tapi sebabnya
Dewasa ini, Islam disematkan dgn istilah Radikal, Teroris dan istilah-istilah lainnya yang merugikan dan sebenarnya bertentangan prinsip Islam.
Prinsip Islam itu adalah Rahmat bagi alam semesta. Menebar kebaikan dan mencegah kemunkaran.
Sementara istilah Radikal dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa kemanusiaan dengan membawa simbol dan identitas keislaman dengan dalil Jihad fi sabiililah.
Disitulah sebagai pemeluk Islam merasa sedih dan miris hati ketika orang-orang menyimpulkan bahwa ajaran Islam mengandung Radikal dan intoleran.
Lalu, bagaimana seharusnya menyikapi hal demikian ?
Memang, dari dulu dan sampai kapanpun bahwa Tuhan telah mentakdirkan kebencian orang-orang yang tidak akan suka kepada Islam sampai orang Islam mengikuti mereka 2:120.
Tetapi apakah hanya itu saja dalil pembenaran bagi orang Islam "membalas" dan mengecam mereka yang seenaknya melabeli Islam dengan istilah Radikal ?
Bukan bermaksud menyelisihi dalil qath'i tetapi terkadang tidak sedikit bagi orang Islam juga menggunakan dalil qath'i untuk "menghantam" orang-orang terutama sesama orang Islam yang berlainan "golongan/aliran".
Padahal dalil-dalil Tuhan dan rasulNya itu bertujuan untuk menebar kebaikan dan mencegah kemunkaran. Namun yang terjadi akibatnya malah sebaliknya oleh sebahagian orang-orang yang mengaku Islam. Salah satunya adalah membunuh orang lain dan merusak rumah ibadah dengan menggunakan simbol Islam.
Poinnya adalah disesalkan terhadap orang-orang yang menggunakan simbol Islam dan mengaku berjihad fii sabiililah dengan membunuh orang dan merusak rumah ibadah serta fasilitas umum lainnya.
Akibatnya ibarat gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Artinya gara-gara sekelompok orang menggunakan atribut keislaman melakukan kemunkaran atas nama jihad. Kan jadi keliru dan konyol namanya.
Jihad itu ada syarat dan ketentuan berlaku. Apalagi di masa sekarang berjihadnya mesti naik kelas. Berjihadlah melalui politik bila mau memperjuangkan nilai-nilai Islam. Dari situlah adakan perbaikan politik. Begitulah cara yang dicontohkan oleh nabi saw. Pertanyaannya mereka itu mencontoh siapa ??
Jadi, semestinya mari kita arahkan perhatian bukan hanya kepada orang-orang yang seenaknya memberi label Radikal itu. Tetapi haruslah diberikan pemahaman yang insensif kepada kelompok-kelompok dalam Islam supaya berhati-hati menggunakan simbol dan identitas keislaman ketika berjihad tanpa kekerasan dan menimbulkan kerusakan.
Islam melarang manusia membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Mengutamakan musyawarah. Dan memang harus diakui juga bahwa ummat ini belum bisa berharap banyak kepada orang-orang yang mewakili ummat Islam supaya berlaku adil dan menciptakan kesejahteraan.
Akhirnya, yang memunculkan Radikal itulah yang mesti dicegah dan dibenah bagi ummat Islam supaya berjihad sebenar-benarnya dengan mengorbankan harta dan diri di jalan Allah. Bukan berjihad dengan mengorbankan harta dan diri orang lain. Wallaahu a'lam.
Keistimewaan Nabi Muhammad adalah tidak terpengaruh di tengah masyarakat Jahiliyah
Nabi Muhammad diketahui lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat Jahiliyah. Dimana masyarakatnya bodoh soal agama, sosial, politik dan ekonomi.
Uniknya, nabi Muhammad saw. masa kecil, remaja dan dewasa yang ketika itu belum diangkat menjadi rasul tidak sedikitpun terpengaruh dengan kondisi perilaku buruk masyarakat kala itu.
Tidak pernah didengar bahwa beliau itu menyembah berhala. Tidak pernah didengar bahwa beliau itu berkelahi, meminum minuman keras dan sebagainya. Bahkan beliau dikenal al-Amin dengan peristiwa peletakan hajar aswad yang bergeser dari tempatnya. Dimana ketika itu berselisih para kabilah karena masing-masing merasa paling berhak mengangkatnya. Dengan kearifan beliau maka terselesaikanlah masalah tersebut tanpa masalah.
Begitupula beliau dikenal dengan kejujuran dalam berdagang. Di tengah-tengah riba merajalela, beliau mampu tidak ikutan dan berusaha berniaga dengan jujur dan saling menguntungkan. Akhirnya dengan kejujurannya, beliau disukai dan menikah dengan siti Khadijah pada usia 25 tahun.
Mengapa bisa demikian ? Bagaimana dengan kita yang hidup setelah Islam hadir ?
1. Ada yang mengatakan bahwa nabi Muhammad memang dibawah pengawasan dan bimbingan Allah swt. Karena beliau adalah calon nabi dan rasul yang terakhir
2. Bahwa beliau sudah dicuci hatinya sejak kecil oleh Malaikat Jibril pada usia 4 tahun.
Dua alasan ini benar adanya. Tetapi secara logis, beliau itu memang memiliki akal yang sehat. Karena sempat diasuh oleh ibu sesusuannya siti Halimah Tussa`diyah yang dikenal keluarga baik-baik. Dan diasuh lebih lama oleh pamannya Abu Thalib sejak meninggal ibu dan kakeknya nabi pada usia 8 tahun. Dan ini jarang dilihat oleh kebanyakan ummat Islam. Seakan-akan hanya faktor di bawah pengawasan Tuhan semata. Padahal peran orang di sekitar nabi juga mendukungnya untuk tidak terpengaruh oleh keadaan jahiliyah ketika itu.
Jadi, sebagai ummat dan pengikutnya yang katanya ikut sunnahnya mestilah mencontoh beliau secara "kaaffah" . Apalagi hidup di era modern ini, semestinya ummat ini tetap dalam pakemnya sebagai agen perubahan tanpa membuat masalah dan mencemarkan Islam itu sendiri sebagai rahmatan lil `aalamiin.
Karena akhir-akhir ini orang-orang yang mengaku ahli sunnah tetapi tingkah lakunya nyaris melebihi yang bukan sunnah. Gemar menyalahkan orang dengan dalil. Padahal tugasnya adalah Mengajak kebaikan, menyuruh yang baik dan mencegah kemunkaran. Bukannya mengajak pertengkaran, menuding orang dan menyulut peperangan.
Marilah senantiasa kita perbaiki cara berislam dengan Islam yang sebenar-benarnya. Caranya contohlah nabi saw. sebagai suri tauladan. Wallaahu a`lam
Uniknya, nabi Muhammad saw. masa kecil, remaja dan dewasa yang ketika itu belum diangkat menjadi rasul tidak sedikitpun terpengaruh dengan kondisi perilaku buruk masyarakat kala itu.
Tidak pernah didengar bahwa beliau itu menyembah berhala. Tidak pernah didengar bahwa beliau itu berkelahi, meminum minuman keras dan sebagainya. Bahkan beliau dikenal al-Amin dengan peristiwa peletakan hajar aswad yang bergeser dari tempatnya. Dimana ketika itu berselisih para kabilah karena masing-masing merasa paling berhak mengangkatnya. Dengan kearifan beliau maka terselesaikanlah masalah tersebut tanpa masalah.
Begitupula beliau dikenal dengan kejujuran dalam berdagang. Di tengah-tengah riba merajalela, beliau mampu tidak ikutan dan berusaha berniaga dengan jujur dan saling menguntungkan. Akhirnya dengan kejujurannya, beliau disukai dan menikah dengan siti Khadijah pada usia 25 tahun.
Mengapa bisa demikian ? Bagaimana dengan kita yang hidup setelah Islam hadir ?
1. Ada yang mengatakan bahwa nabi Muhammad memang dibawah pengawasan dan bimbingan Allah swt. Karena beliau adalah calon nabi dan rasul yang terakhir
2. Bahwa beliau sudah dicuci hatinya sejak kecil oleh Malaikat Jibril pada usia 4 tahun.
Dua alasan ini benar adanya. Tetapi secara logis, beliau itu memang memiliki akal yang sehat. Karena sempat diasuh oleh ibu sesusuannya siti Halimah Tussa`diyah yang dikenal keluarga baik-baik. Dan diasuh lebih lama oleh pamannya Abu Thalib sejak meninggal ibu dan kakeknya nabi pada usia 8 tahun. Dan ini jarang dilihat oleh kebanyakan ummat Islam. Seakan-akan hanya faktor di bawah pengawasan Tuhan semata. Padahal peran orang di sekitar nabi juga mendukungnya untuk tidak terpengaruh oleh keadaan jahiliyah ketika itu.
Jadi, sebagai ummat dan pengikutnya yang katanya ikut sunnahnya mestilah mencontoh beliau secara "kaaffah" . Apalagi hidup di era modern ini, semestinya ummat ini tetap dalam pakemnya sebagai agen perubahan tanpa membuat masalah dan mencemarkan Islam itu sendiri sebagai rahmatan lil `aalamiin.
Karena akhir-akhir ini orang-orang yang mengaku ahli sunnah tetapi tingkah lakunya nyaris melebihi yang bukan sunnah. Gemar menyalahkan orang dengan dalil. Padahal tugasnya adalah Mengajak kebaikan, menyuruh yang baik dan mencegah kemunkaran. Bukannya mengajak pertengkaran, menuding orang dan menyulut peperangan.
Marilah senantiasa kita perbaiki cara berislam dengan Islam yang sebenar-benarnya. Caranya contohlah nabi saw. sebagai suri tauladan. Wallaahu a`lam
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis
Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gun...
-
Al-Quran merupakan petunjuk dan pedoman hidup manusia. Sehingga harapannya menjadi manusia yang adil dan beradab. Sebab, bila manusia tida...
-
Soal corona atau COVID-19 yang sedang mewabah hampir di seluruh dunia saat ini, membuat orang-orang meronta dan merana. Karena yang biasa me...
-
Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya di bulan ramadhan, ummat Islam pada umumnya mengadakan peringatan Nuzul Quran yang diyakini turun pa...