Ketika eksistensi TUHAN "terlihat" hanya pada soal musibah

Dipercaya atau tidak bahwa alam ini tidak tercipta dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakannya. Dan yang menciptakannya adalah yang memiliki kuasa dan kekuatan besar. Dan yang memiliki kuasa dan kekuatan besar itu adalah Tuhan. Bagi orang Islam bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah yang Maha Esa. Dia ada tapi tidak berwujud seperti ciptaanNya.

Adanya kenikmatan dan musibah bagi manusia bagian dari kehidupannya. Karena tanpa diminta keduanya itu selalu hadir mengiringi selama dirinya hidup. Bila yang dirasakan senang, puas dan bahagia maka manusia menganggapnya sebagai kenikmatan. Dan bila yang dirasakan tidak menyenangkan, kurang memuaskan dan kesedihan maka manusia menganggapnya sebagai musibah.

Soal Tuhan, memang manusia merasa kehadirannya disaat musibah datang. Dan bila musibah berlalu maka tidak sedikit manusia "melupakan"Nya. Kenapa bisa begitu ?

Dalam diri manusia, ada kekuatan lagi kelemahan. Tidak bagi Tuhan. Dia Maha memiliki kekuatan dan tidak ada kelemahan bagiNya. Itulah yang membedakan diriNya dengan yang diciptakanNya. Ibarat kursi dengan sipembuatnya. Tentu secara fisik maupun kekuatan tentunya berbeda. Begitupun si kursi tidak bisa dikatakan bahwa dirinya anak si pembuat kursi. Ketika si kursi rusak dan patah maka dia akan membutuhkan perbaikan oleh si pembuatnya. Ketika sudah baik, si kursi mungkin saja tidak membutuhkan si pembuatnya.

Bagi orang yang bertakwa bahwa kenikmatan dan musibah itu sama saja cara menghadapinya. Yang berbeda hanya perasaannya. Dan itu alami. Tetapi tentu perasaan yang tidak berlebihan. Bila nikmat bersyukur dan bila susah bersabar. Hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh orang yang bertakwa. Berbeda dengan orang yang di luarnya. Bila nikmat kegirangan dan bisa susah berkeluh kesah.

Soal musibah, seolah-olah Tuhan hadir disitu maka berdoalah ia sesering mungkin sampai pertolonganNya tiba. Namun apa yang terjadi bila musibah itu berlalu ? Sudah tentu kebanyakan manusia itu melupakan kesusahannya dan Tuhan yang menenangkannya. Makanya dengan "jengkelnya" Tuhan bilang bahwa "manusia itu selalu melampaui batas".

Ketahuilah, bahwa Tuhan hadir di setiap saat. Dia tidak pernah mengantuk apalagi tidur sebagai makhlukNya. Dia terus menerus mengurus dan mengatur alam semesta ini dengan kuasaNya.

Pada dasarnya kenikmatan itu datangnya dari Tuhan dan musibah itu akibat dari manusia itu sendiri. Bukan Tuhan "cuci tangan" tetapi dibuatkan aturan dan hukum-hukumNya agar manusia itu senantiasa dalam kenikmatan. Namun karena manusia itu ada sifat kufur akibatnya kembali kepada manusia itu sendiri.

Begitupun di balik musibah sebenarnya ada kenikmatan dan hikmah-hikmah di dalamnya. Diantaranya adalah agar manusia itu sadar dan kembali kepada Tuhannya yang mungkin selama ini dilupakan dan dianggap "tidak ada".

Jadi, bersikap ihsan dalam suka dan duka. Yakinlah bahwa Tuhan bukan spesialis menangani "kesusahan" makhlukNya. Maka pantaslah manusia itu beribadah dengan rela hati dan tanpa paksaan. Diminta atau tidak diminta. Persoalannya adalah bagaimana pula dengan orang yang ketika senang tidak peduli terhadap Tuhannya apalagi disaat susah, tidak membutuhkanNya. Penulis berkeyakinan pasti tidak ada manusia yang demikian kecuali menipu dirinya sendiri. Wallaahu a`lam bissowaab.

Di balik musibah ada kenikmatan

Sesuatu yang menggelisahkan dan tidak menyenangkan hati maka disebut dengan Musibah. Seperti ketakutan, kelaparan, kemiskinan, kematian dan kesengsaraan maka itu semua pasti bagi semua orang merupakan musibah.

Sedangkan sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan hati maka disebut dengan kenikmatan. Seperti kekuatan, kekenyangan, kekayaan, kehidupan dan kesenangan maka itu semua orang pasti sangat setuju merupakan kenikmatan.

Musibah disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri dan atas izin Allah. Sedangkan kenikmatan itu disebabkan pemberian Allah melalui usaha manusia maupun tidak diusahakan.

Musibah dan kenikmatan datang silih berganti menghampiri manusia pada setiap saat. Hikmahnya sebagai ujian dan peringatan. Tidak dimintapun pastilah datang menghampiri. Seperti bernafas. Tidak dimintapun, manusia membutuhkan oksigen agar bertahan hidup. Dan itu kenikmatan yang tidak diusahakan manusia. Musibah terjadi bila kemudian manusia mengotori udara melalui asap pembakaran yang berlebihan sehingga manusia sulit menghirup oksigen.

Soal harta. Memang Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya. Bila manusia berusaha semaksimal mungkin tetapi belum tentu hasilnya sebesar yang diharapkannya. Dan begitu juga ada manusia usahanya sekadar atau mungkin tidak sama sekali maka boleh jadi rezeki yang diperolehnya melimpah ruah seperti anak pejabat misalnya. Maka musibah hadir bila si penerima merasa kekurangan dan kenikmatan hadir bila si penerima merasa cukup dan puas. Begitulah eksistensi musibah dan kenikmatan. Intinya bila enak maka kenikmatanlah itu dan bila tidak enak maka musibahlah itu.

Di balik musibah ada kenikmatan
Di karenakan manusia hidup dihadapkan dengan musibah dan kenikmatan maka Allah memberi dua petunjuk mengatasi keduanya. Yaitu Sabar dan Syukur.

Sabar adalah menahan diri terhadap suatu keadaan melalui ucapan maupun perbuatan yang dirasa tidak menyenangkan. Sehingga dengan menahan diri itu memunculkan suatu sikap yang bijak dan menentramkan hati.

Syukur adalah mengakui segala kenikmatan yang datang pada dirinya apakah melalui usahanya maupun tidak diusahakan datangnya dari Allah swt. Sehingga dengan pengakuan itu meningkatkan ketaatan kepada Allah dan mampu menggunakannya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh si pemberi (mendatangkan manfaat/berkah).

Maka ketika musibah hadir dihadapannya lalu disikapi dengan kesabaran maka ada kenikmatan yang dirasakannya, yaitu :
1. Menyadari bahwa musibah itu sebagai peringatan baginya agar berhenti dari kelalaian dan memperbaiki diri dan keadaan

2. Ujian naik kelas "iman". Keimanan mesti diuji apakah benar atau dusta. Maka dengan musibah sebagai uji coba apakah yang bersangkutan benar-benar beriman atau malah berdusta.

3. Musibah mendekatkan diri kepada Tuhan. Memang sudah kebiasaan manusia bila ditimpa suatu persoalan maka disitulah Tuhan disebut. Namun bila sudah mendapat kenikmatan maka tidak jarang manusia lupa bahwa dirinya pernah sengsara.

Jadi, bila musibah itu dipahami ada kenikmatan dibalik itu maka sipenerima tidak begitu saja mengeluh dan berputus asa. Karena boleh jadi memang ada kesalahan yang dianggapnya selama ini tidak ada soal. Begitulah Tuhan menegur hambaNya. Ada teguran lembut dan ada teguran tegas. Mungkin teguran yang tegas itu termasuk di dalamnya musibah. Oleh karena itu yakinlah bahwa di balik musibah ada kenikmatan bagi yang mengerti. Wallaahu a`lam bissowaab






Prinsip Tauhid ada di dalam Surah ini

Bertauhid memang tugas dakwah utama bagi setiap nabi dan dan rasul yang kemudian diteruskan oleh para dai/muballigh untuk diingatkan dan disampaikan kepada ummat manusia. Karena dengan bertauhid manfaatnya menyehatkan akal dan membersihkan jiwa.

Menyehatkan akal dari soal-soal ketuhanan yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin menuhankan suatu berhala sedangkan ia diciptakan oleh manusia lagi tidak mendatangkan manfaat dan mudharat. Dengan menuhankan Allah semata, jelas-jelas masuk akal karena Dia menciptakan dan tidak diciptakan. Soal tidak tampak oleh manusia dengan mata telanjang membedakan antara Dia dengan lainnya. Malaikat dan Jin tidak tampak oleh manusia karena beda alam dan bahan dasar ciptaan. Bila manusia diciptakan dari tanah, maka malaikat diciptakan dari cahaya dan Jin diciptakan dari api. Tidak terbayang bila keduanya ditampakkan Allah maka bagaimana bumi ini jadinya. Terang benderang (siang terus) dan kobaran apipun ada dimana-mana. Logis bukan.

Membersihkan jiwa dari soal-soal musibah dan kenikmatan. Bertauhid menjadikan musibah sebagai cobaan dan ujian iman dan begitu juga dengan kenikmatan agar tidak lupa diri. Bagi yang tidak bertauhid maka jiwanya menjadi terganggu ketika menghadapi musibah dan jiwanya lalai ketika mendapat kenikmatan. Makanya bertauhid sangat penting dalam kehidupan manusia agar sehat akalnya dan bersih jiwanya.

Oleh karena itu banyak orang yang ingin belajar tauhid. Namun sangat disayangkan belajarnya bukan dari sumbernya langsung yaitu Al-Quran dan AsSunnah. Tetapi merujuk kepada kitab-kitab yang tentunya banyak versi pembahasannya. Meskipun ayat-ayat dan hadits-hadits dinukilkan (dikuti) dalam kitab-kitab Tauhid tersebut.

Tidak salah memang belajar tauhid dari kitab-kitab ulama bagi yang awwam. Tetapi semestinya urutan belajarnya dari Al-Quran dan AsSunnah kemudian kitab-kitab ulama sebagaimana para ulama kitab tersebut ketika akan berkarya mereka mendahului Al-Quran dan AsSunnah yang merupakan sumber ilmu pengetahuan umum dan agama. Ini berlaku juga dengan masyarakat awwam. Karena Al-Quran dan AsSunnah diturunkan untuk manusia bukan untuk ulama. hehe

Memang untuk mengambil rujukan Al-Quran dan AsSunnah mesti ada ilmu alatnya yang disebut dengan ulumul Quran dan ulumul Hadits. Mestinya para ulama dan tokoh agama juga mengenalkan kedua ilmu itu agar agama ini tidak dimonopoli oleh sekolompok orang saja. Apalagi bermunculan mazhab-mazhab dan firqah-firqah. Sepanjang tidak memecah tidak ada soal. Tetapi bila mengarah perpecahan lalu siapa yang bertanggung jawab ?

Adapun prinsip Tauhid itu yang sebenarnya tidak perlu tafsir karena ayat-ayatnya muhkamah (jelas dan terang) ada di dalam Quran Surah Al-Ikhlas. Disana disebutkan bahwa Allah itu Maha Esa (tidak berbilang wujudnya tetapi nama dan sifatnya yang berbilang agar hambaNya tidak lagi menyebut-nyebut nama-nama sembahan lainnya).

Kemudian Allah segala permohonan. Artinya sesulit apapun dan sesusah apapun yang dihadapi maka mohon pertolongan kepada Allah dan bukan kepada yang lain agar diberi jalan keluar. Berbeda dengan keyakinan yang lain bila kesusahan maka cari alternatif lain. Bagi Islam tidak demikian.

Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Artinya Allah menciptakan dan tidak diciptakan. Bila beranak dan diperanakkan maka bukanlah Tuhan tapi Hantu. Karena hantu itu diciptakan dan beranak pulak. Ada kuntilanak, gundoruwo dan seterusnya.

Tidak ada yang menyerupainya. Artinya Allah tidak dapat diserupakan oleh makhlukNya. Hanya Dia yang tau bagaimana diriNya. Di dalam ayat-ayatNya dijelaskan tanda-tanda kebesaranNya. Dan kebesaranNya tidak identik dengan wujud yang dibayangkan manusia. Sederhananya, Allah tidak serupa yang diberhalakan. Walaahu a`lam bissowab

Kenapa hati yang dibersihkan, bukan akal ?

Yakin atau ragunya seseorang terhadap kebenaran maka penentunya hati. Memikirkan dan memahami sesuatu merupakan fungsi dari akal. Ketika akal memikirkan dan memahami sesuatu maka penentu paham atau tidaknya adalah hati. Bila terhadap kebenaran maka hati dapat menolak atau menerima setelah akal memikirkannya.

Hati yang menolak kebenaran bukan karena akal yang tidak mampu memikirkannya tetapi hati yang ragu-ragu bahkan tidak percaya sama sekali. Atau dikarenakan akal tidak difungsikan untuk memikirkannya. Begitu juga bila hati menerima kebenaran.

Antara hati dan akal maka yang berpenyakit adalah hati bukan akal. Yang sering didengar adalah akal yang rusak. Itupun kerusakan akal dikarenakan hati yang berpenyakit. Namun yang disebut ketika suatu amalan yang keliru adalah akal-akalan. Padahal amalan itu berangkat dari niat. dan niat itu ada di hati bukan di akal.

Penyakit di hati adalah dengki dan sombong. Dengki disebabkan ketidaksukaan terhadap sesuatu yang tidak pantas dibenci. Seperti ketika orang mendapat nikmat maka hatinya mendengki. Sehingga kedengkiannya itu menyuruh akal memikirkan bagaimana supaya orang tersebut celaka bahkan kalau perlu binasa.

Kesombongan disebabkan merasa memiliki kelebihan  yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Apakah itu soal harta, tahta dan ilmu. Sehingga hati menyuruh akal bagaimana orang-orang senantiasa memujinya bahkan kalau perlu memujanya sebagaimana fir`aun dan sejenisnya.

Dengan demikian, pantaslah dalam Islam agar menjaga dan merawat kebersihan hati. Agar hati tidak semena-mena menyuruh akal (memikirkan) dan anggota tubuh lainnya seperti lisan (ucapan), mata (memandang), telinga (mendengar), tangan (berbuat) dan kaki (berjalan) kepada hal-hal kedurhakaan dan kemaksiatan. Itu makanya nabi pernah bilang dalam sebuah hadits yang maknanya "Di dalam tubuh manusia ada segumpal darah yang bila bagus maka baguslah semuanya dan bila rusak maka rusaklah semuanya. Dan segumpal darah itu adalah hati."

Maka alasan mengapa hati yang dibersihkan dan bukan akal adalah hati yang bersih (qolbun salim) menentukan manusia senantiasa berbuat kebaikan dan hati yang berpenyakit menentukan manusia senantiasa berbuat keburukan. Oleh karena itu jagalah hati supaya tidak lari (dari kebenaran). Wallaahu a`lam.

Mengapa manusia mesti bertuhan dan beragama ?

Ada anggapan bahwa Tuhan dan Agama merupakan sumber kekerasan dan peperangan. Karena adanya kekerasan bahkan terjadinya peperangan adalah masing-masing ummat beragama merasa dirinya paling benar dan lainnya sesat.

Lihatlah bagaimana orang melakukan bom bunuh diri atas niat membela Tuhan dan agama. Sampai-sampai ada yang mengatakan "Tuhan kok dibela?" . Ketakutan demikian kecemasan terjadi dikarenakan ada orang-orang mengatasnamakan agama melakukan "sweeping" terhadap orang-orang yang tidak sekeyakinan.

Apalagi tuduhan terhadap agama tertentu bahwa penyebarannya melalui kitab suci dan pedang. Mengkafirkan, membid`ahkan dan menyesatkan. Begitulah gambaran bagi sebahagian orang-orang terhadap agama yang dituduhkan itu.

Tuhan adalah yang menciptakan makluk-makhlukNya dan alam semesta yang tujuannya ada kehidupan. Dia memiliki nama dan sifat yang baik-baik. Sedangkan agama adalah kumpulan aturan dan hukum yang harusnya dipatuhi oleh makhlukNya, sehingga terciptalah keteraturan dan ketertiban kehidupan yang aman, damai dan sejahtera melalui keyakinan dan moral

Memang setiap agama mengajarkan kebaikan. Tetapi ada prinsip yang berbeda. Yaitu cara menuhankan Tuhan dan beribadah kepadaNya. Inilah perbedaan mendasar diantara agama-agama yang ada. Dalam hal ini Islam sangat berbeda dengan agama-agama lainnya.

Haruskah manusia bertuhan dan beragama ?
Alasan kuat manusia mesti bertuhan dan beragama adalah kebutuhan. Manusia sangat membutuhkan Tuhan. Karena diciptakan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Meskipun ada kekuatan tetapi sangatlah terbatas. Sedangkan Tuhan kekuatanNya tidak terbatas.Makanya bermacam-macam cara manusia menuhankan Tuhannya melalui apa yang diyakininya.

Begitu juga dengan agama, manusia butuh pedoman yang harus diikuti agar tidak salah paham dan kaprah dalam menjalani hidup. Sehingga mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Yang boleh pasti bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Begitu juga dengan yang tidak boleh justru merugikan dan membinasakan manusia itu sendiri juga.

Lalu kenapa Tuhan ciptakan manusia itu lemah dan tidak berdaya?
Karena manusia itu diciptakan berpasang-pasangan sehingga beranak pinak maka kekuatan ada pada diri manusia dibatasi agar tidak melampaui batas. Artinya masing-masing manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sehingga ada kalanya manusia yang satu maju dan yang lain mundur. Ibarat berlalu lintas bila tidak ada yang "mengalah" maka sudah dapat dipastikan jalanan tersebut macet. Maka dibuatlah "aturan mainnya" agar tertib dan lancar. Itulah agama.

Jadi, manusia itu pada dasarnya butuh Tuhan dan beragama. Meskipun ada orang yang tidak merasa butuh Tuhan dan beragama sebenarnya sedang membohongi dirinya. Ketika dirinya susah pasti terucap tanpa sadar kata TUHAN. Ketika dirinya membersihkan diri dari kotoran maka sebenarnya ia telah mengambil ajaran dan nilai dari agama tanpa disadarinya.

Kesimpulannya adalah tidak ada manusia di Muka bumi ini tidak butuh Tuhan dan Agama kecuali memang dirinya benar-benar tidak butuh sama sekali tetapi nuraninya tidak demikian. Walaahu a`lam bissowab.

Hampir setiap Nabi dan rasul dikisahkan mengalami hal Ini

Setiap orang dapat dipastikan bahwa suatu kebenaran harus dibuktikan agar semakin yakin (valid). Memang, ketika kebenaran diuji maka hasilnya bisa semakin yakin atau malah sebaliknya ragu-ragu dan tidak percaya. Itu makanya manusia diberi akal oleh Allah agar berfikir dan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian hati yang menentukan apakah yakin atau tidak yakin.

Bila diperhatikan di dalam Al-Quran, dimana dialog antara nabi dan kaumnya maka ketika nabinya menyampaikan suatu kebenaran maka kaumnya menanggapi dengan pertanyaan dan permintaan. Hasilnya percaya atau tidak percaya. Menerima atau tidak menerima.

Begitu juga dengan dialog Antara Tuhan dengan para malaikat ketika berfirman soal khalifah lalu malaikat mempersoalkan kehendak Tuhan tersebut. Akhirnya malaikat percaya setelah Tuhan membuktikan bahwa apa yang dikehendakiNya tidak keliru.

Jadi, percaya atau tidak percaya mesti melalui uji kebenaran terhadap suatu kebenaran. Apakah memang kebenaran atau pembenaran. Maka dialog-dialog di dalam Al-Quran itu mengandung pelajaran penting agar mengaktifkan akal dan hati terhadap suatu kebenaran. Bukan sekadar menerima tanpa bukti. Ini berlaku untuk semua, termasuk nabi dan malaikat sekalipun.

Sebagai seorang nabi dan rasul Allah, semestinya tidak menerima kebenaran begitu saja dari Tuhan agar bisa menjelaskan kepada ummatnya ketika mempersoalkan dan mempertentangkan. Dan ini baik dan sudah semestinya. Jadi soal iman bukan sekadar percaya begitu saja tanpa kritis.

Nabi Ibrahim as. misalnya pernah mengalami “pencarian Tuhan” melalui pengamatan bintang, bulan dan matahari yang dianggapnya semula masing-masing adalah Tuhan. Tetapi akal dan hatinya kompak bahwa yang menciptakan ketiganyalah Tuhan sesungguhnya. Dan nabi Ibrahim as. juga sempat meragukan soal hari berbangkit lalu dibuktikan dengan penyembelihan 4 ekor burung dan dengan tepukan beliau burung-burung disembelihnya tadi hidup kembali seperti semula.

Uzair juga pernah mengalami demikian ketika beliau berjalan di kampung mati lalu beliau ditidurkan/dimatikan selama 100 bersama keledainya. Akhirnya dihidupkan kembali seperti sedia kala.

Nabi Musa as. mengalami yang serupa beda kasus. Ketika beliau berdialog dengan Tuhan di gunung Sinai. Disitu beliau meminta kepada Tuhan agar menampakkan diriNya. Tetapi nabi Musa tidak mampu dan pingsan.

Begitu juga nabi Muhammad saw. Melalui peristiwa Isra` Mi`raj. Meskipun ada yang mengatakan bahwa dalam rangka menghibur nabi atas meninggal istri dan pamannya tetapi juga mengandung hikmah (pelajaran) untuk meyakinkan tanda-tanda kebesaran Allah dengan memperjalankannya dari masjidil haram ke masjidl aqsha dan naik ke shidratul muntaha lalu turun ke bumi menjelang shubuh dalam satu malam.

Sedangkan nabi-nabi lainnya memang tidak diceritakan pengalaman sebagaimana ketiga nabi tersebut. Tetapi jangan lupa bahwa ummatnya minta pembuktian melalui mu`jizat itu sebagai pembuktian kebenaran Allah. Sekira ummatnya tidak “nyinyiran” minta mu`jizat maka sudah dipastikan tidak ada. Persoalannya kan kemudian percaya atau tidak percaya.

Dengan demikian, tidak semestinya bila ada orang yang tidak percaya terhadap kebenaran yang disampaikan lalu dikatakanlah ia kafir. Padahal dirinya ingin yakin dengan melihat bukti kebenarannya. Itu artinya Islam tidak alergi dengan sikap kritis. Kalau tidak ada yang dipertanyakan bagaimana mungkin Al-Quran sebagai petunjuk. Wallaahu a`lam

Polemik soal "BID`AH" perayaan hari besar Islam seperti Maulid, Isra` Mi`raj dan lainnya

Setiap bulan Rabi`ul Awwal maka sebahagian besar ummat Islam hampir seluruh dunia mengadakan perayaan dan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Begitu juga bila bulan Rajab tiba maka perayaan dan peringatan Isra` Mi`raj digelar. Dan ada lagi perayaan dan peringatan lainnya yang berhubungan dengan hari dan bulan keislaman. Akibatnya ada yang pro dan kontra soal perayaan dan peringatan-peringatan tersebut.

Soal kapan pertama kali diadakan perayaan dan peringatan-peringatan tersebut. Dari berbagai sumber hasilnya beraneka ragam argumen dan data. Begitupun sampai saat ini perayaan dan peringatan tersebut senantiasa diadakan setiap tahunnya. Begitu penulis lahir, perayaan-perayaan tersebut sudah ada. Hehe.

Bagi yang pro berpendapat bahwa perayaan tersebut tidak ada masalah. Karena tidak ada dalil larangan merayakannya. Tidak ada unsur kesyirikan. Ini bukan ibadah maghdhah. Ini sebagai bentuk kesyukuran (tasyakur) sekaligus peringatan. Ini bagian tabligh akbar dan syiar Islam. Apalagi di zaman ini, orang-orang semakin jauh dari nilai-nilai keislaman maka dihidupkanlah semangat keimanannya melalui perayaan-perayaan ini.

Sedangkan yang kontra berpendapat bahwa berdasarkan dalil perayaan Islam itu hanya 2, yaitu hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha. Selain keduanya adalah bid`ah. Tidak ada contohnya dari nabi dan para shahabat, tabi`in, tabi`ut tabi`in dan seterusnya.

Dari kedua pendapat di atas, penulis berusaha mengambil pelajaran bahwa :
1. Kelompok yang pro mengadakan perayaan itu bagian dari tabligh akbar dan syiar Islam. Asal tidak ada unsur kesyirikan di dalamnya. Dan tidak ada niat menambah kedua perayaan secara resmi. Perayaan tersebut lebih kepada substansi (isi). Materi perayaan diisi dengan kajian (ceramah) dan perlombaan keislaman untuk generasi muda.

2. Kelompok yang kontra mengingatkan dengan cara "vonis" bahwa dalam Islam ada dua hari raya. Selebihnya tidak ada itu dalam Islam. Kelompok ini ingin memurnikan ajaran Islam dari unsur tradisi yang dianggap ajaran. Mereka khawatir bahwa ummat (masyarakat awwam) tidak bisa membedakan mana ajaran dan mana tradisi. Bahkan mungkin saja bila tidak merayakan Maulid dan seterusnya hukumnya wajib. Maka kehadiran mereka sebenarnya perlu sebagai pengingat. Meskipun bagi sebahagian orang yang pro menilai mereka yang kontra ini sangat gegabah memvonis amalan orang dan ada unsur memecah belah.

Kesimpulannya adalah :
Islam adalah agama nasehat. Memberi dan menerima nasehat itu memang wajib ada di dalam beragama. Begitupun cara memberi dan cara menerima nasehat sudah diatur dalam Islam.

Bagi yang tetap merayakan Maulid dan Isra` Mi`raj silahkan bila tidak ada unsur kesyirikan dan hal-hal yang justru menjauh dari substansi yang ingin dicapai.

Kemudian bagi yang membid`ahkan perayaan ini mesti sabar menerima penolakan dari kelompok yang pro perayaan. Mungkin saja caranya dianggap "vulgar", tidak sopan dan seterusnya atau butuh pemahaman yang panjang bagi yang terbiasa merayakannya selama ini.

Mungkin saja bila tidak ada kelompok yang kontra ini maka perayaan dan peringatan tersebut yang semula murni Tabligh Akbar dan Syiar Islam menjadi ritual wajib dan malah ada penyimpangan dan kemaksiatan di dalamnya. Mari bersabar dan berlapang dada. Wallaahu `alam bissowab

Sampai kapan orang Islam tertindas ?

Tertindasnya orang Islam pada hari-hari ini, mulai dari tuduhan teroris, radikal, sampai diperangi dan dibunuh di berbagai belahan negara dunia yang rata-rata dialami jumlah orang Islamnya sedikit (minoritas) oleh orang-orang yang tentu tidak suka terhadap Islam dan orangnya bukanlah hal yang baru. Peristiwa ini sudah terjadi sejak dulu, tepatnya pada zaman Nabi dan Rasul.

Dengan peristiwa ini, tentunya bagi yang punya nurani dan merasa sekeyakinan mengecam dan sangat marah. Begitupun kecaman dan kemarahan yang dilontarkan oleh orang-orang, terutama orang Islam sudah diatur dalam Islam bahwa kecam dan marahlah karena Allah. Yaitu, dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya lebih kurang "Bila melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangan (kekuasaan), lisan (parlemen, ulama, guru), hati (doa)."

Artinya, boleh marah tetapi membalas perbuatan mereka ada aturan mainnya. Bukan spontanitas angkat senjata. Itu konyol dan malah menambah masalah. Karena mereka yang tidak senang itulah yang diinginkan mereka. Bukan tidak siap tetapi strategi dan taktik dianjurkan dalam agama.

Apa yang menyebabkan orang-orang tidak begitu suka terhadap Islam dan orangnya ?
1. Sudah tabiat mereka dari dulu begitu bahwa mereka di luar Islam tidak akan senang kepadamu (orang Islam) sampai kamu keluar dari agamamu dan ikut bersama mereka (Q.S. Al-Baqarah ayat 120)

2. Islam secara keyakinan jelas berbeda dengan agama-agama lainnya. Meskipun mereka berbeda nama tetapi yang mereka sembah adalah benda-benda berbagai bentuk dan banyak. Sedangkan Islam mengenalkan keesaan Tuhan dan secara mata telanjang tidak terlihat untuk menyelisihi mereka dan membuktikan bahwa Tuhan tidak dapat diserupakan dengan sesuatupun. Dan Dia serba MAHA.

3. Islam tidak merestui hal yang haram, kemunkaran dan perzinahan.

4. Atas permintaan syaitan kepada Tuhan agar diizinkan menyesatkan anak cucu adam sampai hari kiamat.

Sampai kapan ketertindasan ini berakhir ?
Pertanyaan ini pernah juga dilontarkan oleh para sahabat nabi dan diabadikan oleh Allah di dalam Al-Quran
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ [٢:٢١٤] 
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Q.S. 2:214

Berdasarkan ayat ini bahwa kapan berakhirnya adalah hak Allah. Tugas orang Islam bersabar dan shalat dengan mengambil pelajaran dan bersiap siapa bila waktunya tiba.

Kita masih punya pemimpin. Meskipun rata-rata pemimpin yang ada jauh dari harapan tetapi yakinlah diantara mereka pasti ada yang masih peduli dan dekat dengan Allah.

Hendaknya jangan gegabah bertindak sebagaimana mereka bertindak dengan sewenang-wenang. Bukan berarti tidak berbuat dianggap tidak peduli. Tetapi orang Islam itu sebuah tim dan ada kaptennya. Dan "kaptennya" ini pasti sedang menyiapkan strategi yang matang.

Mungkin selama ini kebanyakan orang Islam lalai dan "bermesraan" dengan mereka tanpa disadari. Mulai dari meniru mereka sampai dengan bertoleransi secara berlebihan. Makanya boleh jadi ini sebuah teguran bagi Allah bahwa sesungguhnya bumi Allah ini dititipkan kepada hambaNya yang dekat denganNya. Tetapi kenyataannya yang menguasai dunia hari ini siapa ? Maka ketertindasan itu sulit dihindari. Kalau boleh dibandingkan bahwa kondisi ril orang Islam hari ini mirip-mirip kondisi di Makkah.

Jadi, seperti Imam shalat sering mengingatkan kepada makmumnya sebelum melaksanakan shalat berjama`ah "luruskan dan rapatkan shaff". Artinya luruskan niat dan rapatkan hati kalian. Dan ini mungkin belum terwujud. Sampai kapan ? Jawabannya sampai pada waktunya.

Kesimpulannya adalah marilah jadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Berbuatlah sesuai dengan kemampuan yang ada. Berdoa kepada Allah sebagaimana Allah ajarkan di dalam Al-Quran
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ [٢:٢٨٦] 
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Q.S. 2 : 186

Walllaahu a`lam bissowab

Ketika Dakwah Wahabi dan Salafi dianggap tanpa ilmu (akhlak)

Wahabi dan Salafi adalah firqah (kelompok) dalam Islam yang mendakwahkan Sunnah (tuntunan rasul) dan memberantas Tahayul, Bid`ah dan Khurafat. Sasarannya adalah penyimpangan amalan orang Islam yang dianggap menyelisihi Sunnah dan mempertahankan Bid`ah. Umumnya amalan yang dikoreksi bercampur baur dengan tradisi dan budaya yang tentunya menyelisihi Sunnah. Akibatnya penolakan bahkan penyesatan diterima oleh kedua firqah ini dari orang-orang yang tentu tidak terima amalannya dianggap bid`ah dan sesat.

Yang menolak dakwah mereka adalah yang meyakini bahwa selama ini amalan mereka sudah sesuai Sunnah dan mereka yang membid`ahkan amalannya dianggap lancang dan tidak memenuhi standar keilmuwan meskipun dalil-dalil yang dibawakan dianggap asal comot dan gegabah.

Bagi penulis, terhadap yang menolak bisa saja benar anggapan mereka terhadap Wahabi dan Salafi. Atau bisa saja keliru dan salah kaprah. Begitu juga bagi dakwah Wahabi dan Salafi mungkin juga ada benarnya dan ada juga salahnya.

Anggapan mereka (yang menolak) benar bahwa menghukumi suatu amalan itu mesti ada standar keilmuwan yang mumpuni agar jelas hukumnya.

Dan anggapan mereka (yang menolak) bisa juga keliru bahwa Wahabi dan Salafi dinilai berdakwah tanpa ilmu. Mungkin karena amalannya "diganggu" maka disebutlah demikian. Semestinya sebagai masukan tanpa harus menolak. Tetapi "gengsi" merupakan sifat manusia yang harus dimaklumi bagi Wahabi dan Salafi.

Sedangkan dakwah Wahabi dan Salafi itu ada benarnya ketika orang-orang "merasa nyaman" dengan amalannya selama ini karena "telah dijamin" oleh para ulamanya padahal diantara amalan-amalan itu mungkin saja memang ada menyelisihi sunnah apalagi tidak semuanya tradisi dan budaya itu sesuai dengan ajaran dan nilai Islam. Kalaupun diamalkan oleh ulama terdahulu, bisa saja sebagai "media" dakwah untuk menarik perhatian orang-orang yang baru mengetahui Islam.

Dakwah Wahabi dan Salafi itu bisa saja salah dan keliru ketika penyampaiannya dianggap lancang, tidak pas dan dianggap tidak berilmu. Dan ini bisa sebagai masukan bagi Wahabi dan Salafi bahwa berdakwah tidak mesti mengharap diterima atau tertolak. Karena kewajiban pendakwah hanyalah penyampai sedangkan haq pemberi adalah sang Pemilik Kebenaran.

Perlu diketahui bahwa Soal penolakan dakwah dan pengoreksian amalan itu sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak zaman nabi sudah ada demikian. Tetapi itulah resiko berdakwah yang harus diterima dengan sabar dan lapang dada bagi Wahabi dan Salafi. Mudah-mudahan bisa dimengerti dan dimaklumi.

Maka kehadiran dakwah Wahabi dan Salafi sebenarnya sebagai "warning/peringatan" bagi orang-orang yang menganggap amalannya selama ini benar-benar "pas mantab". Akibatnya orang-orang tadinya hanya terpaku kitab FIQH dan TASAWUF enggan buka kitab TAUHID, TAFSIR dan HADITS menjadi "doyan" membuka ketiganya. Hasilnya tidak sedikit yang tadinya menolak menjadi menerimanya.

Begitulah dinamika dakwah yang bukan hanya sekadar mengajak berbuat baik. Tetapi mengoreksi amalan tidak kalah pentingnya dari sekadar mengajak orang berbuat baik. Karena di luar Islampun orang-orangpun berbuat baik. Hanya saja secara prinsip antara Islam dan di luar Islam ada perbedaan yang cukup signifikan, yaitu dalam aspek Aqidah, Ibadah, dan Muamalah. Sedangkah dalam aspek Akhlak kemungkinan banyak kesamaannya. Kalau agama hanyalah sekadar berbuat baik maka untuk apa Tuhan mengutus para rasulNya ?

Mungkin karena dakwah Wahabi dan Salafi "terlalu vulgar" menghitam putihkan dan menelanjangi amalan-amalan orang yang dianggap bid`ah serta dinilai kurang adab dan cari-cari perkara saja maka disebutlah keduanya berdakwah tanpa ilmu dengan metode comot dan cocokologi. Lagi-lagi ini soal pandang dan perasaan. Walaahu `alam bissowaab

Ketika amalanmu dikoreksi oleh orang lain

Sudah sifat manusia bila ditegur dan dikoreksi tentang dirinya, apakah itu penampilannya atau ucapannya atau perbuatannya maka reaksinya pasti tidak suka, marah bahkan menolaknya.

Biasanya yang menimbulkan reaksi tidak suka itu adalah dari segi cara maupun isinya. Dan umumnya orang-orang pasti menolak dari segi caranya yang dianggap tidak etis dan tidak sopan. Ini biasanya karena faktor usia, kedudukan dan ilmu (pengetahuan) bagi si penerima teguran. Apalagi yang mengoreksi dianggap masih muda, tidak punya kedudukan (awam) dan dangkal ilmunya.

Dalam Islam soal tegur menegur, koreksi dan mengoreksi, nasehat menasehati dan seterusnya yang intinya saling mengingatkan adalah keniscayaan dan bahkan hukumnya wajib. Karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa. Makanya di dalam Al-Quran surah Al Ashr ditegaskan sungguh merugi manusia itu bila tidak ada iman, amal shaleh dan tidak saling mengingatkan.

Memang terkadang yang menegur ini niatnya ada dua; Memang tulus untuk memperbaiki orang atau memang ingin mengusik (mengganggu). Itu tergantung bagaimana cara si pemberi teguran dan pandangan yang menerima saran (teguran).

Ketika amalan seseorang dikoreksi maka biasanya bereaksi :
1. Menerima bila yang mengoreksi adalah dianggap tokoh atau yang dituakan. Sehingga tidak ada penolakan sama sekali bagi yang menerima koreksian itu.

2. Menolak bila yang mengoreksi adalah dianggap bukan tokoh apalagi usianya dianggap lebih muda daripada si penerima koreksian. Akhirnya pasti ditolak habis-habisan. dianggap kurang ajar dan mesti banyak belajar lagi.

Kalau boleh kita kembali kepada bagaimana perjuangan dakwah nabi saw. di Makkah bahwa beliau menerima penolakan yang luar biasa dari masyarakat Makkah. Apalagi di kota itu adalah kota kelahirannya dan tokoh yang terkenal menolak dakwah beliau adalah Abu Lahb yang kebenarannya adalah paman kandung beliau sendiri. Nah dari situ jelas sudah bahwa penolakan Abu Lahb terhadap dakwah nabi adalah karena faktor usia dan kedudukan. Dimana Abu Lahb menganggap bagaimana mungkin seorang keponakan menasehati pamannya sendiri.

Jadi, soal penolakan itu memang sudah menjadi kebiasaan bila dikarenakan faktor usia, kedudukan dan ilmu. Maka semestinya bagi si penerima teguran itu bijaksana menyikapi terhadap siapa yang menegurnya tanpa memandang faktor usia, kedudukan dan ilmu.

Kalaupun memang dianggap benar-benar keliru bagi si pemberi teguran maka semesti tidak buru-buru ditolak, Lihat substansi (isi)nya. Bila memang harus diluruskan maka luruskanlah dengan cara arif dan bijaksana. Bukan malah "menelanjanginya" dengan mengatakan "kau tau apa". "belajar sana". "dasar bahlul" dan seterusnya. Kalau demikian maka apa bedanya dengan orang-orang yang tidak mengenal agama yang mana dalam sebuah hadits disebutkan bahwa "AGAMA adalah NASEHAT". Wallaahu a`lam bishsowab.

Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis

Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gun...