Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Al-Quran ditujukan semua golongan tanpa kecuali

Al-Quran merupakan petunjuk dan pedoman hidup manusia. Sehingga harapannya menjadi manusia yang adil dan beradab.

Sebab, bila manusia tidak diberi petunjuk maka kehidupan dunia ini rusak dan binasa sebelum waktunya. Karena di dalam diri manusia ada sifat baik dan buruknya. Bila tidak dikendalikan dan diatur dengan baik maka kecenderungan buruk lebih dominan daripada yang baik.

Jadi, Al-Quran itu siapa saja berhak memahami dan mengamalkannya. Dan tentunya yang mau adalah yang mengimaninya. Begitupun, ada juga yang mengikuti Al-Quran tetapi ilmunya saja yang diambilnya tetapi imannya tidak.

Maka, sikap manusia terhadap Al-Quran itu ada 3;
1. Mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran sepenuhnya
2. Mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran setengahnya
3. Memahami dan mengamalkan Al-Quran tetapi tidak diimaninya

Tentunya, dari 3 sikap tersebut yang terbaik adalah point pertama, yaitu mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran sepenuhnya. Sehingga cita-cita berkehidupan adil dan makmur benar-benar tewujud dan terasa.

Kalau ditanya sekarang ini bagaimana orang mensikapi Al-Quran maka jawabannya lebih banyak di point 2 dan 3. Untuk point 1 kemungkinan tidak ada atau sedikit sekali. Ini bisa dibuktikan bagaimana kondisi dunia hari ini dan siapa yang mengelolanya. Padahal di dalam Al-Quran sangat terang dan jelas siapa yang berhak menguasai dan mengelola kehidupan dunia ini. Walaahu a`lam bissowab.

CORONA (COVID-19) itu adalah VIRUS

Yang namanya virus itu umumnya menularkan atau dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Akibatnya yang ditularkan bisa sakit bahkan lebih daripada itu. Tergantung jenis virusnya dan kekebalan tubuh bagi yang menerimanya (penderitanya).

Diketahui bahwa CORONA (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan (selengkanya baca di situs WHO). Penularannya menurut informasi sampai saat ini sudah mengelilingi dunia. Yang menghebohkan adalah dapat menimbulkan kematian yang tidak kalah seriusnya dengan virus-virus lainnya. Penularannya melalui sentuhan tangan, bersin dan batuk. Akibatnya dikeluarkan kebijakan dari pihak berwenang agar masyarakat membatasi diri dan jaga jarak (physical and social distancing). Dengan demikian, berdampak kepada kehidupan sosial dan ekonomi.

Penulis sengaja mengangkat tema ini yang berjudul CORONA atau COVID-19 itu adalah Virus bermaksud memberi pandangan dan pemikiran kepada kita semua yang mungkin menganggap bahwa ini bukan sekadar virus semata. Tetapi ada konspirasi dan seterusnya.

Orang berfikiran dan beragumen itu biasa-biasa saja. Tetapi dampak dari fikiran dan argumen serta opini bagi kebanyakan orang menjadi tidak biasa. Akibatnya menimbulkan kecemasan, kepanikan bahkan juga berujung kematian yang dikarenakan bukan karena CORONA nya. Tetapi akibat fikiran, argumen serta opini tadi.

Bila dikaitkan dengan agama (ISLAM) bahwa virus itu adalah suatu penyakit menular yang bagi manusia wajib memelihara dan mencegah dirinya. Dan mengenai hal ini, di masa nabi dan para sahabat pernah mengalami hal sejenis. Maka perintahnya adalah bila mendengar wabah, virus di suatu tempat maka jangan memasukinya atau bila di suatu tempat dimana virus itu berada maka jangan keluar dari situ agar tidak menularkan.

Dan agama memang sangat serius soal kebersihan dan kesehatan. Bahkan ini merupakan dari iman. Makanya kalau diperhatikan bahwa agama melarang manusia memakan yang haram agar tidak sakit. Shalat mesti berwudhu` agar bersih dan seterusnya.

Jadi, penulis ingin mengatakan bahwa cerdaslah kita sebagai ummat Islam bahwa terhadap sesuatu itu dalam hal ini virus adalah virus. Dan cara menyikapinya adalah menghindari dan menjauhi diri dari virus tersebut. Karena ada yang menganggap macam-macam. Semestinya mungkin virus ini akan segera berakhir menjadi kesenangan "beliau" ini. Karena ada yang menganggap dirinya bukan virus biasa.

Virus ini mengingatkan pentingnya kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan. Dan dianggap propaganda dan konspirasi sepertinya sangat berlebihan. kalaupun benar adanya, mudah-mudahan propaganda dan konspirasinya gagal total. Kenapa ? Sebagai orang yang mengaku beriman dan bertakwa kepada Allah maka pasti meyakini bahwa makar atau konspirasi buruk buatan manusia tidak ada apa-apanya di bandingkan Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Mari kita kembalikan akal sehat yang Allah berikan. Jadikan CORONA ini sebagai virus yang mengingatkan kepada kita bahwa pentingnya kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan. Biarkan para ahli dan pekerja kesehatan menyelesaikan tugasnya. Dan semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan tubuh dan keimanan yang kokoh menghindari virus ini serta atas izinNya mengakhirkan virus ini pada waktunya. Mudah-mudahan kita tetap dalam keadaan sehat wal `afiat dan dapat kembali beraktivitas seperti biasanya. Amin yaa rabbal `aalamiin.

Walaahu a`lam bissowaab.

Setiap amal hendaknya memperhatikan manfaat dan pahalanya

Judul ini berusaha menguraikan hakikat beramal, dalam hal ini adalah amal shaleh yang dilakoni atas dasar iman. Karena beramal shaleh tanpa iman maka barangkali manfaatnya saja yang didapat. Itupun hanya dinikmati di dunia saja. Dan inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman.

Sebagaimana doa orang Islam bahwa setiap akhir doanya ditutup dengan
"Robbanaa aatinaa fid dun yaa hasanatan wa fil aakhirooti hasanatan wa qinaa `adzaa ban naar” . Ya Allah, berilah kami kebahagiaan dunia dan akhirat. Peliharalah kami dari siksa neraka."

Maka atas dasar inilah semestinya beramal hendaknya memperhatikan manfaat dan pahalanya.

Manfaat yang dimaksud adalah dampak positif dan keuntungan yang membawa kebaikan diri dan ummat di dunia ini. Seperti tertolong dan terselamatkannya kondisi anak yatim, fakir miskin, orang-orang lemah dan yang membutuhkan perhatian. Berkurangnya maksiat. Terciptanya keadilan dan kedamaian. Intinya, manfaatnya mendatangkan kebaikan bagi semua orang.

Sedangkan pahala adalah keuntungan akhirat sebagai “tiket” masuk surga. Hal ini sangat jelas bila amal shaleh dengan dasar iman. Dengan iman inilah ada pahalanya. Dan pahala ini mutlak diberikan Allah swt. berbeda dengan beramal shalehnya orang-orang yang tidak beriman, mereka tidak berhak mendapat pahala dan akibatnya sia-sia dan merugi di akhirat.

"Manfaat yang dimaksud adalah dampak positif dan keuntungan yang membawa kebaikan diri dan ummat di dunia ini. Seperti tertolong dan terselamatkannya kondisi anak yatim, fakir miskin, orang-orang lemah dan yang membutuhkan perhatian. Berkurangnya maksiat. Terciptanya keadilan dan kedamaian. Intinya, manfaatnya mendatangkan kebaikan bagi semua orang."

Persoalannya adalah bagaimana yang disebut beramal shaleh yang ada manfaat dan pahalanya ? Adakah amal shaleh itu hanya sekadar mendapat pahala saja ? atau

Idealnya adalah mesti dapat manfaat dan pahalanya bila dikaitkan dengan doa yang dibacakan tadi. Subtansi pada ibadah dan amal shaleh itu dikeluarkan dan dinyatakan.

1. Dengan A-Quran bukan sekadar membaca teks ayat sampai khatam saja. Tetapi berusaha menambahnya dengan mengetahui makna kandungan di dalamnya melalui terjemahan dan tafsirnya. Sehingga Al-Quran benar-benar sebagai pedoman dan petunjuk manusia. Bukan hanya untuk kalangan tertentu.
2. Dengan Shalat awal waktu dan berjama`ah maka yang bersangkutan mampu menghasilkan disiplin waktu dan bekerja serta beribadah, serta tumbuh rasa kebersamaan/ukhuwah. Meskipun beda organisasi sosial, masyarakat dan politik tetapi mempunyai tujuan yang sama dan tidak berpecah belah.
3. Dengan puasa maka kesabaran dan kepedulian sosialnya semakin meningkat
4. Dengan zakat, infak dan sedekah maka berusaha bergiat mencari harta yang banyak lagi halal untuk memenuhi kebutuhan diri dan orang banyak, termasuk keluarganya
5. Dengan haji maka berusaha mempelajari ilmu agama yang selama ini hanya didapat di negerinya yang ada di dalamnya bercampur tradisi setelah mengetahui agama dimana dilahirkan (Makkah Madinah).
6. Dengan berakhlak mulia maka memberi contoh tauladan tanpa dibuat-buat dan minimal mengurangi tingkat amoral di masyarakat.

Sekilas mungkin biasa dan terlalu normatif. Tetapi kalau mau jujur melihat realita di lapangan bahwa semangat beribadah dan beramal shaleh kurang memberi dampak positif di masyarakat. Buktinya kemiskinan semakin tinggi, statistik kemurtadan semakin mengkhawatirkan, kehadiran rumah ibadah kurang berperan untuk kepentingan masyarakat. Bahkan cenderung sepi jama`ah, dan sebagainya.

Padahal bila merujuk kepada nabi dan para sahabat bahwa merekalah yang duluan mengenal Islam dan kemudian di tangan mereka banyak manfaat yang diberikan untuk membuktikan bahwa Islam itu memperadabkan manusia dengan berbagai prestasi-prestasi keummatan dan kebangsaan. Seperti ekonomi Islam mampu bersaing, ilmu pengetahuan berkembang dan bisa disejajarkan dengan orang lain. Hal ini dapat kita lihat di masa-masa, khulafaurrasyidin, kerajaan-kerajaan Islam Umayyah, Abbasiyah, Ayyubiyah dan seterusnya.

Jadi, menurut penulis bahwa hari-hari ini sebahagian besar ummat Islam cenderung stagnan bahkan semakin kalah saing dengan orang di luar Islam. Lihat saja pasar global hari ini siapa yang menguasai.

Maka yang mesti dilakukan dan dibenahi adalah hendaknya ummat Islam kembali “bangkit” bersama-sama membangun peradaban yang bukan sekadar beradab di bidang agama saja. Minimal meneladani semangat nabi dan para sahabat dalam membangun peradaban berangkat dari nilai-nilai amal shaleh. Yang mana amal shaleh bukan sekadar rutinitas menghilangkan kewajiban semata tetapi benar-benar bermanfaat di dunia dan berpahala di akhirat. Kata kuncinya ; hilangkan kejumudan (beku) soal agama, disamping merawat hati juga merawat akal. Kalau tidak demikian, maka pantaslah Allah menyuruh memperhatikan bagaimana gambaran orang-orang pendusta agama sebagaimana termaktub dalamm Quran Surah Al-Maaun. Wallahu `alam. 

Alasan Diterima Akal, Kenapa Allah Mengutus Nabinya

Allah berfirman;
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ﴿٤٨: ٨﴾ 
Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, (Al-Fath: 8)

Berdasarkan ayat ini bahwa tugas rasul itu adalah sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

  1. Sebagai saksi terhadap sikap dan usaha baik dan buruknya manusia
  2. Sebagai pembawa berita gembira bagi orang yang bertakwa
  3. Sebagai pemberi peringatan bagi orang yang kafir.

"Sederhananya, bumi dianalogikan pada sebuah rumah tangga bila penghuninya cekcok dan tidak ketentraman di dalamnya maka bagaimana mungkin rumah tersebut dikatakan sehat. Malah hancur disana-sini. Pengrusakan oleh pemiliknya karena keseringan bertikai dengan merusak pintu, piring berpecahan dan sebagainya. Ditambah pengusiran oleh tetangga karena dianggap menimbulkan ketidaknyamanan bertetangga. Bahkan boleh jadi rumah tersebut dibakar sebagai bentuk kekesalan warga di sekitarnya. Maka begitupula dengan bumi ini bisa hancur sebab ulah buruk manusia."

Bila ditarik ke belakang sedikit, ketika sebelum nabi diutus oleh Allah swt. bahwa keadaan ummat dalam jahiliyah. Yaitu kebodohan soal keyakinan, ibadah, akhlak dan muamalah.


  1. Soal keyakinan sesat meliputi berkeyakinan selain Allah.
  2. Soal ibadah menyimpang meliputi menyembah selain Allah
  3. Soal akhlak buruk mengakibatkan pertikaian dan pembunuhan
  4. Soal muamalah tidak sehat suburnya kecurangan dan riba

Akibat kebodohan-kebodohan itu maka terjadilah kerusakan keyakinan, ibadah, akhlak dan muamalah. Dan kezaliman dan pembunuhan dianggap biasa dan wajar-wajar saja. Siapa yang kuat maka dialah yang berhak kuasa tanpa pikiran dan tanpa memandang perasaan sesama manusia. Apalagi terhadap Tuhan dianggap tidak ada. Malah hantu bergentayangan

Bila kondisi ini terus-menerus terjadi maka tidak mungkin tidak kiamat besarpun terjadi.

  1. Banyaknya anak perempuan dibunuh mengakibatkan punahnya manusia. Karena tidak ada lagi yang menampung benih dan melahirkan keturunan manusia. Dan ini pernah terjadi juga di masa Nabi Musa as. yang mana pembunuhan terhadap laki-laki. Dan sebelumnya ada pula penyimpangan seksual (perkawinan sejenis) di masa Nabi Luth.
  2. Maraknya penyembahan berhala mengkibatkan alam rusak. Karena dianggap keramat. Sehingga bukan Tuhan yang hadir, tetapi hantu yang bergentayangan.
  3. Maraknya perjudian dan minuman keras mengakibatkan kehilangan akal
  4. Maraknya kecurangan dan riba mengakibatkan kebaikan hilang.

Maka kondisi-kondisi ini sudah cukup syarat untuk terjadinya kiamat besar. Karena kerusakan alam semakin besar dan merata oleh ulah manusia yang sebenarnya sebagai penanggungjawab urusan bumi.

Sederhananya, bumi dianalogikan pada sebuah rumah tangga bila penghuninya cekcok dan tidak ketentraman di dalamnya maka bagaimana mungkin rumah tersebut dikatakan sehat. Malah hancur disana-sini. Pengrusakan oleh pemiliknya karena keseringan bertikai dengan merusak pintu, piring berpecahan dan sebagainya. Ditambah pengusiran oleh tetangga karena dianggap menimbulkan ketidaknyamanan bertetangga. Bahkan boleh jadi rumah tersebut dibakar sebagai bentuk kekesalan warga di sekitarnya. Maka begitupula dengan bumi ini bisa hancur sebab ulah buruk manusia.

Akhirnya, kehadiran nabi sebagai saksi, pembawa berita dan peringatan sudah cukup jelas dan mengandung hikmah yaitu menyelamatkan manusia dan bumi atas kehendak dan izin Allah dari merusak dan kerusakan akibat ulah buruk manusia itu sendiri. Maka pantaslah Allah berfirman;
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ ﴿٢١: ١٠٧﴾ 
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiyaa': 107)

Dimanakah "orang lain", ketika nabi dan sahabat menghadapi kafir Quraisy dalam peperangan ?

Bila kita membaca sejarah Islam, perang di masa nabi saw. terjadi setelah hijrah ke yatsrib dan membangun kota yang bernama Madinah setelah adanya piagam Madinah. Disitu nabi bersama ummat Islam dan ada beberapa agama lainnya, seperti Yahudi, Nashrani, Majusi dan lain-lain. Sehingga tercipta toleransi antar ummat beragama. Dan dari disitu nabi sebagai pemimpin negara selain pemimpin ummat (tugasnya sebagai rasul).

Yang menarik, nabi bisa menjadi pemimpin negara di tengah-tengah masyarakat majemuk. Padahal disitu ada orang Yahudi dan Nasharani yang notabene "tidak suka" kehadiran nabi dikarenakan rasul terakhir bukan dari golongan mereka. Pernyataan ini banyak disebutkan di dalam Al Quran.
Boleh jadi karena usulan Piagam Madinah itu atas inisiator nabi sendiri sehingga dipercaya sebagai penanggung jawab yang otomatis sebagai pemimpin negara Madinah. Dan mungkin saja penamaan "negara Madinah" lebih bisa diterima daripada "negara Islam". Alasannya selain bisa diterima, juga Islam itu bukan sekadar merk tetapi seharusnya berisi nilai dan melekat pada setiap sendi kehidupan. Maka sangat janggal bila ada negara syar'i (Islam) dan negara bukan syar'i. Bahkan resikonya lebih besar.

Tidak sedikit penulis melihat bahwa ketika ada negara mengaku "Islam" tetapi malah jauh dari substansinya. Bahkan menariknya tidak sedikit negara yg bukan  "Islam" malah kelihatan Islami. Mungkin letak perbedaannya adalah "gagal melihat" bagaimana nabi saw membangun negara/kota Madinah di tengah kemajemukan dan kesan Islamnya terasa kental ketika itu.

Kembali ke topik semula pada soal Dimanakah "orang lain", ketika nabi & sahabat menghadapi kafir Quraisy dalam peperangan ?

Yang penulis ketahui bahwa awal perang terjadi setelah "pengkhianatan" orang kafir quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah. Yaitu perjanjian Masyarakat Madinah khususnya ummat Islam dengan masyarakat Mekkah. Sehingga menjadi asbab nuzul surah At Taubah.

"Upaya "pihak ketiga" mengambil keuntungan ketika ummat ini berkonflik"

Latar belakang perjanjian ini agar nabi dan pengikutnya bisa menunaikan ibadah haji di Makkah yang sebelumnya diboikot oleh orang kafir Quraisy dan menjadi sebab terjadinya hijrah dari Makkah ke Madinah atas perintah Tuhan.

Dan "pengkhianatan" orang kafir quraisy kabarnya atas hasutan pihak ketiga. Yang jelas adalah pihak yang tidak menyukai perjanjian tersebut. Sehingga terjadilah perang pertama, yaitu perang badar. Karena terjadinya di sekitaran bukit badar. Dan akhirnya kemenangan diraih oleh orang Islam. Dan dilanjutkan pada peperangan berikutnya sampai dengan terjadinya Fathu Makkah, dimana ummat Islam menang mutlak dan banyak berbondong-bondong orang kafir Quraisy masuk Islam. Peristiwa ini sebagai asbab nuzul Surah An-Nashr. Sekaligus jelang wafatnya nabi saw .

Maka tidak benar bila ada yang mengatakan bahwa nabi saw menyebarkan Islam dengan cara perang dan begitu pula dengan para sahabat. Padahal Islam itu agama damai. Bagaimana mungkin dengan cara perang dalam penyebarannya ? Meskipun perang akhirnya dikarenakan tidak ada kata sepakat atau adanya pelanggaran perjanjian/kesepakatan.

Dengan demikian, menurut penulis bahwa selama peperangan terjadi yang terlibat adalah pasukan ummat Islam dengan orang kafir Quraisy. Sedangkan "orang lain" hanya menyaksikan atau menonton perang. Dan boleh jadi mengambil "keuntungan" dari peperangan itu. Begitu pula peperangan yang dialami di masa khulafaurrosyidin dan era kerajaan Islam (Umayyah, Abbasiyah dan seterusnya).

Sayangnya, perihal "orang di luar Islam atau pihak ketiga" tidak begitu detil keterangannya di dalam buku-buku sejarah Islam. Barangkali alasannya masuk akal agar tidak terjadi "tuduhan" yang dapat memicu konfik baru.

Artikel ini diakhiri dengan mengambil ibrah bahwa diakui atau tidak, adanya upaya "pihak ketiga" mengambil keuntungan ketika ummat ini berkonflik. Betullah bahwa "pihak ketiga" itu biasanya setan yang menimbulkan permusuhan. Lihat saja bagaimana pertikaian yang dialami kedua anak Nabi Adam as. (Habil dan Qabil) merupakan hasutan dari setan. Begitupula orang tuanya (nabi Adam as. dan istrinya) juga dihasut oleh setan.

Semestinya ummat segera menyadari ini. Padahal di dalam Al Quran tidak sedikit larangan "Jangan berpecah belah" dan utamakan ukhuwah (persatuan). Dan jangan "gagal baca sejarah" yang hari-hari ini kebanyakan ummat ini "tidak mau" dan "mengabaikan" sejarahnya sebagai orang Islam. Wallaahu a'lam.

Yang mesti dipahami bagi Generasi Muslim

Tuhan menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dan berpasang-pasangan. 49:13

Bila ada yang mengaku antara jenis laki-laki dan perempuan maka itu tandanya yang bersangkutan memiliki kelainan jiwa. Bukan kelainan jenis. Dan itu bukan buatan Tuhan, tetapi perbuatannya sendiri. Meskipun ada anggapan sebahagian orang bahwa itu adalah takdir Tuhan. Boleh saja anggapannya itu diterima tetapi tetap saja keliru. Dan mesti diselamatkan jiwanya selama itu bisa.

Begitulah kebanyakan manusia, ketika soal ini terjadi lalu dikaitkan dengan takdir Tuhan. Seakan-akan yang bersangkutan menerimanya dengan "ikhlas" padahal sebenarnya tidak.

Soal takdir, memang Tuhan memiliki dua takdir. Yaitu Takdir baik dan takdir buruk. Hal ini berdasarkan dalil dalam hadits Nabi saw. Dari Umar bin Khattab berkata:

“Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat rasululah S.A.W. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha nabi,

Kemudian ia berkata: “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah S.A.W menjawab, ”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, ”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.”
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi S.A.W menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi: “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab, ”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab, ”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, ”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Dia bersabda, ”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”

— HR. Muslim no.8

Di dalam Al-Quran, Allah berfirman;
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (An-Nisaa': 79)

Meskipun disitu kata "nikmat" bila diluaskan maknanya maka ianya dapat disebut "takdir". Bila takdir baik itu nikmat, bila takdir buruk itu adalah musibah.

"Memang manusia itu ada sifat saling mencintai dan membenci. Dua sifat ini mesti sesuai dengan aturan pakai. Bila tidak, maka yang terjadi over dosis dan offside."


Dengan demikian, soal jenis kelamin itu sudah jelas bahwa Tuhan telah menetapkan dua jenis kelamin. Yaitu lelaki dan perempuan. Sebagaimana kita ketahui pada manusia awal, yaitu Nabi Adam as. dan istrinya.

Kemudian yang ingin penulis sampaikan berkaitan dengan yang mesti dipahami oleh Generasi muslim soal pasang-pasangan bahwa Islam hanya mengenal yang namanya pernikahan. Artinya hubungan berlainan jenis hanya bisa dibenarkan lewat pernikahan. Kalaupun ada hubungan hanya sebatas pertemanan. Itupun ada batas dan jaraknya. Dengan tegas bahwa Islam tidak mengenal dan membenarkan pacaran, bahkan tunangan.

"Bagi para wanita semestinya menjaga dan tau diri bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang mesti dilindungi dari "tangan-tangan" kotor yang berusaha "menjamahnya". Mesti ridho ketika orang tua "mengekang" pergaulan dari para lelaki di luar batas."

Memang manusia itu ada sifat saling mencintai dan membenci. Dua sifat ini mesti sesuai dengan aturan pakai. Bila tidak, maka yang terjadi over dosis dan offside.

Dan yang mesti dipahami terutama oleh para wanita bahwa Islam hadir menyelamatkan harkat dan martabat wanita. Yang mana ketika sebelum Islam (masa jahiliyah) bahwa anak perempuan itu dibunuh karena merupakan aib orang tua dan dianggap tidak punya peran sebagaimana lelaki ketika itu.

Maka tidak terbayang bila Tuhan mentakdirkan Islam tidak turun 1400-an tahun yang lalu maka boleh jadi dunia ini sudah kiamat. Karena keturunan anak cucu adam berhenti disebabkan tidak ada yang lahir dari rahim wanita yang telah dibunuh ketika itu.

Akhirnya, baik bagi laki-laki dan perempuan bahwa hendaknya wajib memahami bagaimana batasan dalam pergaulan menurut agama yang bertujuan untuk menjaga harkat martabat wanita dan menjaga keturunan. Poinnya adalah ;

  1. Hendaknya laki-laki menahan diri untuk tidak "mendekati" perempuan yang bukan mahramnya sampai yang bersangkutan sudah mampu dan punya nyali untuk menikahi perempuan.
  2. Bagi para wanita semestinya menjaga dan tau diri bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang mesti dilindungi dari "tangan-tangan" kotor yang berusaha "menjamahnya". Mesti ridho ketika orang tua "mengekang" pergaulan dari para lelaki di luar batas.
  3. Ada saling pengertian dan menghormati dari kedua belah pihak bahwa masa depan ummat manusia di tangan mereka berdua. Bila norma agama dipegang teguh maka ada jaminan kelansungan hidup. Sehingga peluang "zina" tidak mampu masuk dalam kehidupan mereka berdua.
  4. Jangan campur baurkan antara kebiasaan masyarakat "barat" yang melegalkan pergaulan bebas.  Seperti perkawinan sejenis dan tidak biasa. Sementara agama secara tegas membatasi pergaulan itu sampai waktunya mereka berhubungan melalui pernikahan yang sah.
  5. Buat prestasi yang membanggakan diri dan orang tua. Seperti prestasi belajar, prestasi keahlian dan bakat. Karena hidup ini adalah perlombaan. Percintaan itu sesaat, prestasi itu akibatnya baik dan menguntungkan diri, keluarga dan bangsa serta agama
Yang mesti dicamkan adalah Islam menyelamatkan manusia dari "kehewanan" bukan "mengkebiri" manusia. Bila ada yang merasa "dikebiri" kebebasannya maka boleh jadi yang bersangkutan sedang lupa akan fitrahnya sebagai manusia yang dasarnya tidak mau menodai dan dinodai apalagi ternoda. Semoga bermanfaat. Wallaahu `alam.

Orang Islam wajib mengenal Hari-hari Spesialnya (Hari Raya)

Hampir setiap tahun, sebahagian ummat ini menyoal dan membahas tentang hari-hari tertentu. Yang sebenarnya "tidak penting" untuk dikaji bagi sebahagian orang yang sudah mengerti soal hari-hari besar ummat Islam atau disebut dengan hari raya.

Misalnya muncul soal "Apa Hukum memperingati Maulid Nabi ?" "Apa hukum mengucapkan selamat pada hari raya orang lain ?" "Apa hukumnya merayakan Valentine Day?" dan sebagainya.

Mungkin bagi sebahagian orang lainnya ini soal ini masih relevan dan tidak pernah basi untuk membicarakan bahkan "dinyinyirin" supaya ummat tidak lupa. Bahkan bisa saja ada orang yang "benar-benar" tidak memahami atau membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Karena setiap tahun berapa bayi yang lahir, berapa anak yang beranjak remaja, berapa banyak remaja yang beranjak dewasa dan seterusnya. Sehingga meskipun diulang-ulang dan memang kajian Islam itu tidak ada yang baru sejak Nabi Muhammad saw. wafat. Hanya saja nuansa dan situasinya saja yang berubah-ubah tetapi "substasi" atau isinya tetap sama. Agar ummat ini tidak lupa. Karena kalau sudah lupa maka berangsur-angsur ajaran Islam akan memudar bahkan hilang bila tidak ada lagi yang mau mempelajari dan mengkajinya.

Hari spesial ummat Islam adalah ditandai itu dengan shalat berjama`ah 2 raka`at dan Peringatan dan perayaan lainnya bertujuan untuk menapak tilas peristiwa yang telah terjadi di masa lalu yang berhubungan dengan sejarah Islam dan selama tidak bertentangan dan mengandung tahayul, khurafat, dan maksiyat.

Kembali kepada judul artikel kali ini soal Orang Islam wajib mengenal Hari-hari Spesialnya (Hari Raya) yang tujuannya diharapkan menambah khasanah pemikiran dan berusaha mengurai soal-soal yang setiap tahun diulang-ulang agar ummat semakin mudah memahaminya.

Sepengetahuan penulis bahwa Islam itu terdapat ajaran, tradisi dan nilai.
  1. Ajarannya yang sudah baku yang bersumber dari Al-Quran dan AsSunnah. Seperti Rukun Islam, Rukun Iman dan Ihsan.
  2. Tradisi adalah ritual buatan manusia yang asalnya bukan dari ajaran asli Islam tetapi tradisi itu disisipkan ajaran Islam di dalamnya. Sehingga tradisi itu menjadi unik dan menambah khasanah budaya dan peradaban Islam. Seperti peringatan Maulid, Isra` Mi`raj, perayaan 1 Muharram dan sebagainya.
  3. Nilai Islam adalah substansi (isi) dari ajaran Islam yang merasuk kepada segala aktivitas hidup manusia soal duniawi dan perilaku manusia itu sendiri. Sehingga menjadi identitas sebagai orang Islam. Seperti berdagang dengan jujur, memimpin dengan amanah, berakhlak mulia dan sebagainya.
Maka soal-soal hari spesial Ummat Islam itu, terbagi pada 2 golongan;
  1. Golongan hari raya. Yaitu Hari Raya Idul Fithri, Hari Raya Idul Adha, Hari Jum`at khusus muslim laki-laki. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Gerhana Bulan dan Matahari juga termasuk hari raya ummat Islam. Dalam hal ini secara tegas ada dimasa Nabi Muhammad saw. dan dilanjutkan oleh para sahabat dan seterusnya.
  2. Golongan peringatan dan perayaan yang termasuk tradisi. Yaitu peringatan Maulid, Isra` Mi`raj, Perayaan 1 Muharram, Tasyakuran dan sebagainya.

Hendaknya ummat ini mampu membaca situasi bahwa soal toleransi itu ada batasan yang jelas. Tidak perlu terlibat pada acara "orang lain" secara langsung. Dengan membiarkan mereka saja itu sudah termasuk bagian toleransi. Dan jangan pernah latah-latahan dalam acara dan perayaan orang lain. Biarkan saja mereka mengucapkan selamat kepada kita ketika berhari raya. Dan ketika mereka berhari raya, cukup berikan saja senyum bila berpapasan terhadap mereka. Selamatkan akidah kita.

Akhirnya, penulis menegaskan bahwa untuk memudahkan pemahaman soal hari spesial ummat Islam adalah;
  1. Hari raya Ummat Islam itu ditandai dengan shalat berjama`ah 2 raka`at
  2. Peringatan dan perayaan bertujuan untuk menapak tilas peristiwa yang telah terjadi di masa lalu yang berhubungan dengan sejarah Islam dan selama tidak bertentangan dan mengandung tahayul, khurafat, dan maksiyat.
Sebagai penutup, hendaknya ummat ini mampu membaca situasi bahwa soal toleransi itu ada batasan yang jelas. Tidak perlu terlibat pada acara "orang lain" secara langsung. Dengan membiarkan mereka saja itu sudah termasuk bagian toleransi. Dan jangan pernah latah-latahan dalam acara dan perayaan orang lain. Biarkan saja mereka mengucapkan selamat kepada kita ketika berhari raya. Dan ketika mereka berhari raya, cukup berikan saja senyum bila berpapasan terhadap mereka. Selamatkan akidah kita. Wallaahu `alam bissowab.

Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis

Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gun...