Showing posts with label fikrah. Show all posts
Showing posts with label fikrah. Show all posts

Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis

Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gunanya untuk memenuhi kebutuhannya.

Secara syar'i bahwa hijrah diartikan pindah secara tempat dan adat (kebiasaan).

Secara tempat maksudnya pindah dari tempat maksiat menuju tempat kepada tempat yang bermanfaat (kebaikan).

Secara adat maksudnya pindah dari kebodohan kepada kecerdasan dalam berbagai aspek kehidupan.

Sederhananya, pindah dari maksiat kepada taubat (kembali kepada jalan Tuhan).

Secara history bahwa hijrah dilihat bagaimana nabi dan para sahabat melakukan kepindahan dari makkah atas perintah Allah dan membangun peradaban di Madinah.

Dengan demikian, makna hijrah secara luas mengingatkan kepada manusia bahwa dirinya adalah makhluk dinamis dan bukan statis. Apalagi tantangan di akhir zaman ini semakin besar dan rumit.

Sebagai orang beragama, terutama muslim bahwa menghadapi dan menjawab tantangan dan persoalan harus disikapi secara bijak dan cerdas. 

Hijrah bukan  sekadar mengganti pakaian dan menjadi rajin beribadah saja. Tetapi lebih dari itu harus mau dan mampu mengejar ketertinggalan dan bersaing dalam berbagai aspek terutama ekonomi, pendidikan dan politik.

Padahal kedua aspek ini secara history, nabi telah mencontohkan bagaimana ketika beliau hijrah mengadakan piagam Madinah sebagai langkah politik dan membangun masjid sebagai usaha dan upaya membangun peradaban dan perekonomian ummat.

Hayo, hijrahkan cara pandang dan bersikap dari statis lagi pesimis kepada dinamis yang penuh optimis. Wallahu a'lam bissowaab.

Al-Quran ditujukan semua golongan tanpa kecuali

Al-Quran merupakan petunjuk dan pedoman hidup manusia. Sehingga harapannya menjadi manusia yang adil dan beradab.

Sebab, bila manusia tidak diberi petunjuk maka kehidupan dunia ini rusak dan binasa sebelum waktunya. Karena di dalam diri manusia ada sifat baik dan buruknya. Bila tidak dikendalikan dan diatur dengan baik maka kecenderungan buruk lebih dominan daripada yang baik.

Jadi, Al-Quran itu siapa saja berhak memahami dan mengamalkannya. Dan tentunya yang mau adalah yang mengimaninya. Begitupun, ada juga yang mengikuti Al-Quran tetapi ilmunya saja yang diambilnya tetapi imannya tidak.

Maka, sikap manusia terhadap Al-Quran itu ada 3;
1. Mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran sepenuhnya
2. Mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran setengahnya
3. Memahami dan mengamalkan Al-Quran tetapi tidak diimaninya

Tentunya, dari 3 sikap tersebut yang terbaik adalah point pertama, yaitu mengimani, memahami dan mengamalkan Al-Quran sepenuhnya. Sehingga cita-cita berkehidupan adil dan makmur benar-benar tewujud dan terasa.

Kalau ditanya sekarang ini bagaimana orang mensikapi Al-Quran maka jawabannya lebih banyak di point 2 dan 3. Untuk point 1 kemungkinan tidak ada atau sedikit sekali. Ini bisa dibuktikan bagaimana kondisi dunia hari ini dan siapa yang mengelolanya. Padahal di dalam Al-Quran sangat terang dan jelas siapa yang berhak menguasai dan mengelola kehidupan dunia ini. Walaahu a`lam bissowab.

Corona atau COVID-19 mengajak bersabar berjama`ah

Soal corona atau COVID-19 yang sedang mewabah hampir di seluruh dunia saat ini, membuat orang-orang meronta dan merana. Karena yang biasa menjadi di luar kebiasaan.

Yang biasanya bekerja menjadi meronta karena corona, yang biasanya berkumpul menjadi merana karena corona, Yang biasanya berkeliaran menjadi rumah aja karena corona. Sebab corona mengharuskan orang-orang menjaga jarak, memakai masker dan biasakan mencuci tangan.

Sebagai orang beragama, menyikapi situasi ini hanyalah dengan sabar dan shalat. Meskipun shalat berjama`ah dibatasi tetapi masing-masing orang masih bisa shalat meski di rumah aja. Kalaupun di masjid harus dipastikan dirinya tidak menularkan dan ditularkan.

Oleh karena itu, nampaknya corona ini mengajak orang untuk bersabar berjama`ah yang mungkin selama ini orang itu bersabar sesuai dengan masalahnya masing-masing. apakah masalah keuangan, masalah penghasilan, dan masalah-masalahnya secara munfarid (sendiri-sendiri) maka melalui corona agaknya "memaksa" orang-orang bersabar berjama`ah dengan hubungan dan kegiatan secara terbatas yang bagi tidak terbiasa pastilah menjadi luar biasa.

Barangkali inilah sisi "kebaikan" dari corona bagi yang mau berfikir positif. Dan bagi yang tidak mau, ya silahkan. Itu haknya. Bahwa kebaikan corona adalah mengajak orang bersabar berjama`ah sampai waktunya berakhir. Bagaikan aroma buang angin, pastilah tidak selamanya baunya di sekitar orang yang membuangnya kecuali berulang-ulang.

Tidak ada yang sia-sia di dunia ini yang Tuhan ciptakan. Meskipun corona buatan orang, tetapi pastilah Tuhan mengizinkannya. Supaya manusia mau mengambil pelajaran terhadap yang baik dan yang buruk sekalipun. Dan yang hanya mau mengambil pelajaran hanyalah orang yang memiliki akal sehat.

Semoga corona ini segera berlalu dan telah mengajari manusia bagaimana akibat buruk yang diperbuatnya bila melakukan kerusakan di bumi Tuhan ini. walaahu a`lam bissowab

Benarkah Islam itu satu ? Kenapa banyak sekali "Merk"nya ?

Pada dasarnya Islam itu satu dan tidak ada duanya. Hanya saja yang membuatnya "terbelah" dan terbagi adalah pada cara memahami dan mengamalkannya. Sehingga tidak terhindarkan yang namanya khilafiyah (perbedaan pendapat/pandangan) sehingga membentuk kelompok, mazhab dan firqah.

Dalam disiplin ilmu agama, yang kelihatan sekali khilafiyah misalnya ilmu fiqh. Sehingga dari khilafiyah itu lahirlah mazhab-mazhab fiqh. Dan begitu juga dengan disiplin ilmu agama lainnya.
Hanya saja yang paling mencolok dan diperdebatkan dari masa ke masa adalah ilmu fiqh.

Islam memaklumi soal perbedaan itu. Yang tidak dibenarkan adalah perpecahan yang mengakibatkan permusuhan dan peperangan. Karena perbedaan itu tercipta agar saling mengenal (ta`aruf) sehingga melahirkan ketakwaan dalam bentuk tasamuh (lapang dada) dan tafahum (saling mengerti) sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam Quran surah Al-Hujurat ayat 13.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [٤٩:١٣] 
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 

Yang dilihat oleh Allah adalah ketakwaan seseorang maupun kelompok dalam bentuk saling mengenal. Sehingga terciptalah kehidupan yang saling mengisi dan berbagi. Bukan saling mendengki mencaci dan berkelahi.

Dari awal alam ini tercipta dua perbedaan. Yaitu langit dan bumi. Makhluk ghaib dan nyata. Timur dan barat. Siang dan malam. Beriman dan kafir. Dan serusnya. Agar khususnya manusia sebagai pemegang amanat oleh Allah untuk mengurus bumi mengetahui dan mengerti terhadap apa hikmah dari tercipta perbedaan itu oleh Allah swt. makanya ada ungkapan perbedaan itu adalah rahmat. Artinya, perbedaan itu bukan untuk dipertikaikan tetapi didamaikan. Dan kedamaian itu bagian dari rahmat Tuhan.

Tidak terbayang bila Tuhan hanya menciptakan jenis laki-laki saja tanpa adanya jenis perempuan. Dan begitupula dengan sebaliknya. Justru keduanya saling membutuhkan dan memberi.

Memang ada batasan-batasan perbedaan yang dapat dimaklumi dan ada juga perbedaan yang mesti diperbaiki. Itupun secara teknis, bukan prinsip. Yang terpenting adalah bila ingin memperbaikinya maka mengutamakan kebaikan dan kemanfaatan melalui cara pandang dan sikap benar menurut agama dengan mampu membedakan mana prinsip dan mana teknis.

Dan untuk mencapai hal yang dimaksud diperlukan wawasan keislaman yang luas dan cerdas sebagai wujud dari iman dan takwa kepada Allah swt. Oleh karena itu perbaiki cara pandang dan berfikir serta bertindak. Wallaahu a`lam bissowab

CORONA (COVID-19) itu adalah VIRUS

Yang namanya virus itu umumnya menularkan atau dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Akibatnya yang ditularkan bisa sakit bahkan lebih daripada itu. Tergantung jenis virusnya dan kekebalan tubuh bagi yang menerimanya (penderitanya).

Diketahui bahwa CORONA (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan (selengkanya baca di situs WHO). Penularannya menurut informasi sampai saat ini sudah mengelilingi dunia. Yang menghebohkan adalah dapat menimbulkan kematian yang tidak kalah seriusnya dengan virus-virus lainnya. Penularannya melalui sentuhan tangan, bersin dan batuk. Akibatnya dikeluarkan kebijakan dari pihak berwenang agar masyarakat membatasi diri dan jaga jarak (physical and social distancing). Dengan demikian, berdampak kepada kehidupan sosial dan ekonomi.

Penulis sengaja mengangkat tema ini yang berjudul CORONA atau COVID-19 itu adalah Virus bermaksud memberi pandangan dan pemikiran kepada kita semua yang mungkin menganggap bahwa ini bukan sekadar virus semata. Tetapi ada konspirasi dan seterusnya.

Orang berfikiran dan beragumen itu biasa-biasa saja. Tetapi dampak dari fikiran dan argumen serta opini bagi kebanyakan orang menjadi tidak biasa. Akibatnya menimbulkan kecemasan, kepanikan bahkan juga berujung kematian yang dikarenakan bukan karena CORONA nya. Tetapi akibat fikiran, argumen serta opini tadi.

Bila dikaitkan dengan agama (ISLAM) bahwa virus itu adalah suatu penyakit menular yang bagi manusia wajib memelihara dan mencegah dirinya. Dan mengenai hal ini, di masa nabi dan para sahabat pernah mengalami hal sejenis. Maka perintahnya adalah bila mendengar wabah, virus di suatu tempat maka jangan memasukinya atau bila di suatu tempat dimana virus itu berada maka jangan keluar dari situ agar tidak menularkan.

Dan agama memang sangat serius soal kebersihan dan kesehatan. Bahkan ini merupakan dari iman. Makanya kalau diperhatikan bahwa agama melarang manusia memakan yang haram agar tidak sakit. Shalat mesti berwudhu` agar bersih dan seterusnya.

Jadi, penulis ingin mengatakan bahwa cerdaslah kita sebagai ummat Islam bahwa terhadap sesuatu itu dalam hal ini virus adalah virus. Dan cara menyikapinya adalah menghindari dan menjauhi diri dari virus tersebut. Karena ada yang menganggap macam-macam. Semestinya mungkin virus ini akan segera berakhir menjadi kesenangan "beliau" ini. Karena ada yang menganggap dirinya bukan virus biasa.

Virus ini mengingatkan pentingnya kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan. Dan dianggap propaganda dan konspirasi sepertinya sangat berlebihan. kalaupun benar adanya, mudah-mudahan propaganda dan konspirasinya gagal total. Kenapa ? Sebagai orang yang mengaku beriman dan bertakwa kepada Allah maka pasti meyakini bahwa makar atau konspirasi buruk buatan manusia tidak ada apa-apanya di bandingkan Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Mari kita kembalikan akal sehat yang Allah berikan. Jadikan CORONA ini sebagai virus yang mengingatkan kepada kita bahwa pentingnya kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan. Biarkan para ahli dan pekerja kesehatan menyelesaikan tugasnya. Dan semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan tubuh dan keimanan yang kokoh menghindari virus ini serta atas izinNya mengakhirkan virus ini pada waktunya. Mudah-mudahan kita tetap dalam keadaan sehat wal `afiat dan dapat kembali beraktivitas seperti biasanya. Amin yaa rabbal `aalamiin.

Walaahu a`lam bissowaab.

Apakah TUHAN itu kelihatan ?

Soal Tuhan bagi manusia adalah suatu pemahaman dan keyakinan dasar dalam beragama. Semua agama pastinya mengenalkan, memahamkan dan meyakini ketuhanannya.

Islam mengenalkan TUHAN kepada ummatnya dalam konteks Aqidah. Dan inti berTUHAN itu adalah Tauhid. Yaitu meyakini bahwa Tuhan itu adalah Allah yang Maha Esa. Berdoa hanya kepadaNya. Tidak beranak dan diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun menyerupaiNya. Hal ini berdasarkan Quran Surah Al-Ikhlas ayat 1-4.

Soal wujud, Islam mengenalkan TUHAN melalui tanda-tanda adanya Allah. Dia tidak dapat dilihat oleh kedua mata manusia secara langsung. Hal ini pernah dialami oleh nabi Musa as. ketika beliau ingin melihat Allah sebagaimana firmanNya :

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al-A'raaf: 143)

Dari ayat ini sangat terang bahwa Nabi Musa as. ingin sekali melihat TUHANnya tetapi tidak sanggup dan pingsan. Artinya, bukan manusia melihat TUHAN tetapi TUHAN lah melihat apa yang dikerjakan hamba-hambaNya. Sebagaimana firmanNya :

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadiid: 4)

Soal manusia tidak melihat TUHANnya selain kisah nabi Musa as. yang berusaha melihat TUHAN secara langsung tetapi bisa berbicara kepadaNya, memang ada dijelaskan di dalam firmanNya :

(yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al-Anbiyaa': 49)

Jadi, bagi orang Islam bahwa TUHAN tidak bisa dan tidak mampu dilihat secara langsung sebagaimana agama lain yang mengajarkan ummatnya bahwa TUHAN bisa dilihat melalui sesembahan mereka seperti kayu, patung, api dan seterusnya. Sedangkan Allah swt. hanya bisa dilihat melalui tanda-tanda keberadaan dan kebesaranNya berupa ciptaanNya, kehendakNya dan kuasaNya. Hikmahnya adalah :

  1. Soal melihat TUHAN bukanlah urusan manusia. Tetapi TUHAN lah yang melihat apa yang dikerjakan manusia.
  2. Menyelisihi sesembahan agama lain yang mewujudkan tuhannya melalui benda-benda ciptaan mereka. Yang tidak mendatangkan manfaat apalagi kemudharatan.
  3. Ujian keyakinan bagi manusia apakah beriman atau tidak adanya Allah swt. meskipun tidak nampak langsung secara indera penglihatan tetapi bisa disaksikan melalui ayat-ayatNya (tanda-tanda keberadaan dan kebesaranNya) yang ada di langit dan bumi secara tersurat dan tersirat.
  4. Menyelamatkan akal untuk memikirkan wujud TUHAN dan menyelamatkan hati dari meyakini adanya TUHAN selain ALLAH.
  5. Tugas manusia hanyalah mentaati perintahNya dan meninggalkan laranganNya sebagai bentuk kasih sayang Allah tanpa harus repot-repot melihatNya.
Sangat lazim dan alami bahwa manusia itu ingin sekali melihat TUHANnya. Karena sebagai yang diciptakan pastilah ingin mengetahui dan mengenal siapa yang menciptakannya. Seorang anak saja ketika ia lahir dan tidak melihat orangtuanya maka ingin sekali mengetahui dimana orangtuanya. Ini alami dan keniscayaan yang pasti dialami oleh setiap manusia secara spritual. Nabi Ibrahim as. pun pernah mengalami dan mempersoalka dimana TUHAN.

Oleh karena itu, jawaban yang diberikan Allah kepada manusia adalah sebagaimana firmanNya :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah: 186)

Kedekatan TUHAN bagi manusia tidak ada batas dan jarak. Dia tidak perlu diwujudkan melalui sesuatu sebagaimana yang dilakukan oleh agama lainnya. Sepertinya Allah hendak mengatakan untuk apa manusia membuat sesuatu untuk disembah sementara sesembahannya dibuat manusia dan sesembahan itu tidak bisa menciptakan apa yang Allah ciptakan. Walaahu a`lam bissowab

Ketika eksistensi TUHAN "terlihat" hanya pada soal musibah

Dipercaya atau tidak bahwa alam ini tidak tercipta dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakannya. Dan yang menciptakannya adalah yang memiliki kuasa dan kekuatan besar. Dan yang memiliki kuasa dan kekuatan besar itu adalah Tuhan. Bagi orang Islam bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah yang Maha Esa. Dia ada tapi tidak berwujud seperti ciptaanNya.

Adanya kenikmatan dan musibah bagi manusia bagian dari kehidupannya. Karena tanpa diminta keduanya itu selalu hadir mengiringi selama dirinya hidup. Bila yang dirasakan senang, puas dan bahagia maka manusia menganggapnya sebagai kenikmatan. Dan bila yang dirasakan tidak menyenangkan, kurang memuaskan dan kesedihan maka manusia menganggapnya sebagai musibah.

Soal Tuhan, memang manusia merasa kehadirannya disaat musibah datang. Dan bila musibah berlalu maka tidak sedikit manusia "melupakan"Nya. Kenapa bisa begitu ?

Dalam diri manusia, ada kekuatan lagi kelemahan. Tidak bagi Tuhan. Dia Maha memiliki kekuatan dan tidak ada kelemahan bagiNya. Itulah yang membedakan diriNya dengan yang diciptakanNya. Ibarat kursi dengan sipembuatnya. Tentu secara fisik maupun kekuatan tentunya berbeda. Begitupun si kursi tidak bisa dikatakan bahwa dirinya anak si pembuat kursi. Ketika si kursi rusak dan patah maka dia akan membutuhkan perbaikan oleh si pembuatnya. Ketika sudah baik, si kursi mungkin saja tidak membutuhkan si pembuatnya.

Bagi orang yang bertakwa bahwa kenikmatan dan musibah itu sama saja cara menghadapinya. Yang berbeda hanya perasaannya. Dan itu alami. Tetapi tentu perasaan yang tidak berlebihan. Bila nikmat bersyukur dan bila susah bersabar. Hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh orang yang bertakwa. Berbeda dengan orang yang di luarnya. Bila nikmat kegirangan dan bisa susah berkeluh kesah.

Soal musibah, seolah-olah Tuhan hadir disitu maka berdoalah ia sesering mungkin sampai pertolonganNya tiba. Namun apa yang terjadi bila musibah itu berlalu ? Sudah tentu kebanyakan manusia itu melupakan kesusahannya dan Tuhan yang menenangkannya. Makanya dengan "jengkelnya" Tuhan bilang bahwa "manusia itu selalu melampaui batas".

Ketahuilah, bahwa Tuhan hadir di setiap saat. Dia tidak pernah mengantuk apalagi tidur sebagai makhlukNya. Dia terus menerus mengurus dan mengatur alam semesta ini dengan kuasaNya.

Pada dasarnya kenikmatan itu datangnya dari Tuhan dan musibah itu akibat dari manusia itu sendiri. Bukan Tuhan "cuci tangan" tetapi dibuatkan aturan dan hukum-hukumNya agar manusia itu senantiasa dalam kenikmatan. Namun karena manusia itu ada sifat kufur akibatnya kembali kepada manusia itu sendiri.

Begitupun di balik musibah sebenarnya ada kenikmatan dan hikmah-hikmah di dalamnya. Diantaranya adalah agar manusia itu sadar dan kembali kepada Tuhannya yang mungkin selama ini dilupakan dan dianggap "tidak ada".

Jadi, bersikap ihsan dalam suka dan duka. Yakinlah bahwa Tuhan bukan spesialis menangani "kesusahan" makhlukNya. Maka pantaslah manusia itu beribadah dengan rela hati dan tanpa paksaan. Diminta atau tidak diminta. Persoalannya adalah bagaimana pula dengan orang yang ketika senang tidak peduli terhadap Tuhannya apalagi disaat susah, tidak membutuhkanNya. Penulis berkeyakinan pasti tidak ada manusia yang demikian kecuali menipu dirinya sendiri. Wallaahu a`lam bissowaab.

Di balik musibah ada kenikmatan

Sesuatu yang menggelisahkan dan tidak menyenangkan hati maka disebut dengan Musibah. Seperti ketakutan, kelaparan, kemiskinan, kematian dan kesengsaraan maka itu semua pasti bagi semua orang merupakan musibah.

Sedangkan sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan hati maka disebut dengan kenikmatan. Seperti kekuatan, kekenyangan, kekayaan, kehidupan dan kesenangan maka itu semua orang pasti sangat setuju merupakan kenikmatan.

Musibah disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri dan atas izin Allah. Sedangkan kenikmatan itu disebabkan pemberian Allah melalui usaha manusia maupun tidak diusahakan.

Musibah dan kenikmatan datang silih berganti menghampiri manusia pada setiap saat. Hikmahnya sebagai ujian dan peringatan. Tidak dimintapun pastilah datang menghampiri. Seperti bernafas. Tidak dimintapun, manusia membutuhkan oksigen agar bertahan hidup. Dan itu kenikmatan yang tidak diusahakan manusia. Musibah terjadi bila kemudian manusia mengotori udara melalui asap pembakaran yang berlebihan sehingga manusia sulit menghirup oksigen.

Soal harta. Memang Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya. Bila manusia berusaha semaksimal mungkin tetapi belum tentu hasilnya sebesar yang diharapkannya. Dan begitu juga ada manusia usahanya sekadar atau mungkin tidak sama sekali maka boleh jadi rezeki yang diperolehnya melimpah ruah seperti anak pejabat misalnya. Maka musibah hadir bila si penerima merasa kekurangan dan kenikmatan hadir bila si penerima merasa cukup dan puas. Begitulah eksistensi musibah dan kenikmatan. Intinya bila enak maka kenikmatanlah itu dan bila tidak enak maka musibahlah itu.

Di balik musibah ada kenikmatan
Di karenakan manusia hidup dihadapkan dengan musibah dan kenikmatan maka Allah memberi dua petunjuk mengatasi keduanya. Yaitu Sabar dan Syukur.

Sabar adalah menahan diri terhadap suatu keadaan melalui ucapan maupun perbuatan yang dirasa tidak menyenangkan. Sehingga dengan menahan diri itu memunculkan suatu sikap yang bijak dan menentramkan hati.

Syukur adalah mengakui segala kenikmatan yang datang pada dirinya apakah melalui usahanya maupun tidak diusahakan datangnya dari Allah swt. Sehingga dengan pengakuan itu meningkatkan ketaatan kepada Allah dan mampu menggunakannya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh si pemberi (mendatangkan manfaat/berkah).

Maka ketika musibah hadir dihadapannya lalu disikapi dengan kesabaran maka ada kenikmatan yang dirasakannya, yaitu :
1. Menyadari bahwa musibah itu sebagai peringatan baginya agar berhenti dari kelalaian dan memperbaiki diri dan keadaan

2. Ujian naik kelas "iman". Keimanan mesti diuji apakah benar atau dusta. Maka dengan musibah sebagai uji coba apakah yang bersangkutan benar-benar beriman atau malah berdusta.

3. Musibah mendekatkan diri kepada Tuhan. Memang sudah kebiasaan manusia bila ditimpa suatu persoalan maka disitulah Tuhan disebut. Namun bila sudah mendapat kenikmatan maka tidak jarang manusia lupa bahwa dirinya pernah sengsara.

Jadi, bila musibah itu dipahami ada kenikmatan dibalik itu maka sipenerima tidak begitu saja mengeluh dan berputus asa. Karena boleh jadi memang ada kesalahan yang dianggapnya selama ini tidak ada soal. Begitulah Tuhan menegur hambaNya. Ada teguran lembut dan ada teguran tegas. Mungkin teguran yang tegas itu termasuk di dalamnya musibah. Oleh karena itu yakinlah bahwa di balik musibah ada kenikmatan bagi yang mengerti. Wallaahu a`lam bissowaab






Prinsip Tauhid ada di dalam Surah ini

Bertauhid memang tugas dakwah utama bagi setiap nabi dan dan rasul yang kemudian diteruskan oleh para dai/muballigh untuk diingatkan dan disampaikan kepada ummat manusia. Karena dengan bertauhid manfaatnya menyehatkan akal dan membersihkan jiwa.

Menyehatkan akal dari soal-soal ketuhanan yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin menuhankan suatu berhala sedangkan ia diciptakan oleh manusia lagi tidak mendatangkan manfaat dan mudharat. Dengan menuhankan Allah semata, jelas-jelas masuk akal karena Dia menciptakan dan tidak diciptakan. Soal tidak tampak oleh manusia dengan mata telanjang membedakan antara Dia dengan lainnya. Malaikat dan Jin tidak tampak oleh manusia karena beda alam dan bahan dasar ciptaan. Bila manusia diciptakan dari tanah, maka malaikat diciptakan dari cahaya dan Jin diciptakan dari api. Tidak terbayang bila keduanya ditampakkan Allah maka bagaimana bumi ini jadinya. Terang benderang (siang terus) dan kobaran apipun ada dimana-mana. Logis bukan.

Membersihkan jiwa dari soal-soal musibah dan kenikmatan. Bertauhid menjadikan musibah sebagai cobaan dan ujian iman dan begitu juga dengan kenikmatan agar tidak lupa diri. Bagi yang tidak bertauhid maka jiwanya menjadi terganggu ketika menghadapi musibah dan jiwanya lalai ketika mendapat kenikmatan. Makanya bertauhid sangat penting dalam kehidupan manusia agar sehat akalnya dan bersih jiwanya.

Oleh karena itu banyak orang yang ingin belajar tauhid. Namun sangat disayangkan belajarnya bukan dari sumbernya langsung yaitu Al-Quran dan AsSunnah. Tetapi merujuk kepada kitab-kitab yang tentunya banyak versi pembahasannya. Meskipun ayat-ayat dan hadits-hadits dinukilkan (dikuti) dalam kitab-kitab Tauhid tersebut.

Tidak salah memang belajar tauhid dari kitab-kitab ulama bagi yang awwam. Tetapi semestinya urutan belajarnya dari Al-Quran dan AsSunnah kemudian kitab-kitab ulama sebagaimana para ulama kitab tersebut ketika akan berkarya mereka mendahului Al-Quran dan AsSunnah yang merupakan sumber ilmu pengetahuan umum dan agama. Ini berlaku juga dengan masyarakat awwam. Karena Al-Quran dan AsSunnah diturunkan untuk manusia bukan untuk ulama. hehe

Memang untuk mengambil rujukan Al-Quran dan AsSunnah mesti ada ilmu alatnya yang disebut dengan ulumul Quran dan ulumul Hadits. Mestinya para ulama dan tokoh agama juga mengenalkan kedua ilmu itu agar agama ini tidak dimonopoli oleh sekolompok orang saja. Apalagi bermunculan mazhab-mazhab dan firqah-firqah. Sepanjang tidak memecah tidak ada soal. Tetapi bila mengarah perpecahan lalu siapa yang bertanggung jawab ?

Adapun prinsip Tauhid itu yang sebenarnya tidak perlu tafsir karena ayat-ayatnya muhkamah (jelas dan terang) ada di dalam Quran Surah Al-Ikhlas. Disana disebutkan bahwa Allah itu Maha Esa (tidak berbilang wujudnya tetapi nama dan sifatnya yang berbilang agar hambaNya tidak lagi menyebut-nyebut nama-nama sembahan lainnya).

Kemudian Allah segala permohonan. Artinya sesulit apapun dan sesusah apapun yang dihadapi maka mohon pertolongan kepada Allah dan bukan kepada yang lain agar diberi jalan keluar. Berbeda dengan keyakinan yang lain bila kesusahan maka cari alternatif lain. Bagi Islam tidak demikian.

Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Artinya Allah menciptakan dan tidak diciptakan. Bila beranak dan diperanakkan maka bukanlah Tuhan tapi Hantu. Karena hantu itu diciptakan dan beranak pulak. Ada kuntilanak, gundoruwo dan seterusnya.

Tidak ada yang menyerupainya. Artinya Allah tidak dapat diserupakan oleh makhlukNya. Hanya Dia yang tau bagaimana diriNya. Di dalam ayat-ayatNya dijelaskan tanda-tanda kebesaranNya. Dan kebesaranNya tidak identik dengan wujud yang dibayangkan manusia. Sederhananya, Allah tidak serupa yang diberhalakan. Walaahu a`lam bissowab

Kenapa hati yang dibersihkan, bukan akal ?

Yakin atau ragunya seseorang terhadap kebenaran maka penentunya hati. Memikirkan dan memahami sesuatu merupakan fungsi dari akal. Ketika akal memikirkan dan memahami sesuatu maka penentu paham atau tidaknya adalah hati. Bila terhadap kebenaran maka hati dapat menolak atau menerima setelah akal memikirkannya.

Hati yang menolak kebenaran bukan karena akal yang tidak mampu memikirkannya tetapi hati yang ragu-ragu bahkan tidak percaya sama sekali. Atau dikarenakan akal tidak difungsikan untuk memikirkannya. Begitu juga bila hati menerima kebenaran.

Antara hati dan akal maka yang berpenyakit adalah hati bukan akal. Yang sering didengar adalah akal yang rusak. Itupun kerusakan akal dikarenakan hati yang berpenyakit. Namun yang disebut ketika suatu amalan yang keliru adalah akal-akalan. Padahal amalan itu berangkat dari niat. dan niat itu ada di hati bukan di akal.

Penyakit di hati adalah dengki dan sombong. Dengki disebabkan ketidaksukaan terhadap sesuatu yang tidak pantas dibenci. Seperti ketika orang mendapat nikmat maka hatinya mendengki. Sehingga kedengkiannya itu menyuruh akal memikirkan bagaimana supaya orang tersebut celaka bahkan kalau perlu binasa.

Kesombongan disebabkan merasa memiliki kelebihan  yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Apakah itu soal harta, tahta dan ilmu. Sehingga hati menyuruh akal bagaimana orang-orang senantiasa memujinya bahkan kalau perlu memujanya sebagaimana fir`aun dan sejenisnya.

Dengan demikian, pantaslah dalam Islam agar menjaga dan merawat kebersihan hati. Agar hati tidak semena-mena menyuruh akal (memikirkan) dan anggota tubuh lainnya seperti lisan (ucapan), mata (memandang), telinga (mendengar), tangan (berbuat) dan kaki (berjalan) kepada hal-hal kedurhakaan dan kemaksiatan. Itu makanya nabi pernah bilang dalam sebuah hadits yang maknanya "Di dalam tubuh manusia ada segumpal darah yang bila bagus maka baguslah semuanya dan bila rusak maka rusaklah semuanya. Dan segumpal darah itu adalah hati."

Maka alasan mengapa hati yang dibersihkan dan bukan akal adalah hati yang bersih (qolbun salim) menentukan manusia senantiasa berbuat kebaikan dan hati yang berpenyakit menentukan manusia senantiasa berbuat keburukan. Oleh karena itu jagalah hati supaya tidak lari (dari kebenaran). Wallaahu a`lam.

Mengapa manusia mesti bertuhan dan beragama ?

Ada anggapan bahwa Tuhan dan Agama merupakan sumber kekerasan dan peperangan. Karena adanya kekerasan bahkan terjadinya peperangan adalah masing-masing ummat beragama merasa dirinya paling benar dan lainnya sesat.

Lihatlah bagaimana orang melakukan bom bunuh diri atas niat membela Tuhan dan agama. Sampai-sampai ada yang mengatakan "Tuhan kok dibela?" . Ketakutan demikian kecemasan terjadi dikarenakan ada orang-orang mengatasnamakan agama melakukan "sweeping" terhadap orang-orang yang tidak sekeyakinan.

Apalagi tuduhan terhadap agama tertentu bahwa penyebarannya melalui kitab suci dan pedang. Mengkafirkan, membid`ahkan dan menyesatkan. Begitulah gambaran bagi sebahagian orang-orang terhadap agama yang dituduhkan itu.

Tuhan adalah yang menciptakan makluk-makhlukNya dan alam semesta yang tujuannya ada kehidupan. Dia memiliki nama dan sifat yang baik-baik. Sedangkan agama adalah kumpulan aturan dan hukum yang harusnya dipatuhi oleh makhlukNya, sehingga terciptalah keteraturan dan ketertiban kehidupan yang aman, damai dan sejahtera melalui keyakinan dan moral

Memang setiap agama mengajarkan kebaikan. Tetapi ada prinsip yang berbeda. Yaitu cara menuhankan Tuhan dan beribadah kepadaNya. Inilah perbedaan mendasar diantara agama-agama yang ada. Dalam hal ini Islam sangat berbeda dengan agama-agama lainnya.

Haruskah manusia bertuhan dan beragama ?
Alasan kuat manusia mesti bertuhan dan beragama adalah kebutuhan. Manusia sangat membutuhkan Tuhan. Karena diciptakan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Meskipun ada kekuatan tetapi sangatlah terbatas. Sedangkan Tuhan kekuatanNya tidak terbatas.Makanya bermacam-macam cara manusia menuhankan Tuhannya melalui apa yang diyakininya.

Begitu juga dengan agama, manusia butuh pedoman yang harus diikuti agar tidak salah paham dan kaprah dalam menjalani hidup. Sehingga mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Yang boleh pasti bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Begitu juga dengan yang tidak boleh justru merugikan dan membinasakan manusia itu sendiri juga.

Lalu kenapa Tuhan ciptakan manusia itu lemah dan tidak berdaya?
Karena manusia itu diciptakan berpasang-pasangan sehingga beranak pinak maka kekuatan ada pada diri manusia dibatasi agar tidak melampaui batas. Artinya masing-masing manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sehingga ada kalanya manusia yang satu maju dan yang lain mundur. Ibarat berlalu lintas bila tidak ada yang "mengalah" maka sudah dapat dipastikan jalanan tersebut macet. Maka dibuatlah "aturan mainnya" agar tertib dan lancar. Itulah agama.

Jadi, manusia itu pada dasarnya butuh Tuhan dan beragama. Meskipun ada orang yang tidak merasa butuh Tuhan dan beragama sebenarnya sedang membohongi dirinya. Ketika dirinya susah pasti terucap tanpa sadar kata TUHAN. Ketika dirinya membersihkan diri dari kotoran maka sebenarnya ia telah mengambil ajaran dan nilai dari agama tanpa disadarinya.

Kesimpulannya adalah tidak ada manusia di Muka bumi ini tidak butuh Tuhan dan Agama kecuali memang dirinya benar-benar tidak butuh sama sekali tetapi nuraninya tidak demikian. Walaahu a`lam bissowab.

Hampir setiap Nabi dan rasul dikisahkan mengalami hal Ini

Setiap orang dapat dipastikan bahwa suatu kebenaran harus dibuktikan agar semakin yakin (valid). Memang, ketika kebenaran diuji maka hasilnya bisa semakin yakin atau malah sebaliknya ragu-ragu dan tidak percaya. Itu makanya manusia diberi akal oleh Allah agar berfikir dan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian hati yang menentukan apakah yakin atau tidak yakin.

Bila diperhatikan di dalam Al-Quran, dimana dialog antara nabi dan kaumnya maka ketika nabinya menyampaikan suatu kebenaran maka kaumnya menanggapi dengan pertanyaan dan permintaan. Hasilnya percaya atau tidak percaya. Menerima atau tidak menerima.

Begitu juga dengan dialog Antara Tuhan dengan para malaikat ketika berfirman soal khalifah lalu malaikat mempersoalkan kehendak Tuhan tersebut. Akhirnya malaikat percaya setelah Tuhan membuktikan bahwa apa yang dikehendakiNya tidak keliru.

Jadi, percaya atau tidak percaya mesti melalui uji kebenaran terhadap suatu kebenaran. Apakah memang kebenaran atau pembenaran. Maka dialog-dialog di dalam Al-Quran itu mengandung pelajaran penting agar mengaktifkan akal dan hati terhadap suatu kebenaran. Bukan sekadar menerima tanpa bukti. Ini berlaku untuk semua, termasuk nabi dan malaikat sekalipun.

Sebagai seorang nabi dan rasul Allah, semestinya tidak menerima kebenaran begitu saja dari Tuhan agar bisa menjelaskan kepada ummatnya ketika mempersoalkan dan mempertentangkan. Dan ini baik dan sudah semestinya. Jadi soal iman bukan sekadar percaya begitu saja tanpa kritis.

Nabi Ibrahim as. misalnya pernah mengalami “pencarian Tuhan” melalui pengamatan bintang, bulan dan matahari yang dianggapnya semula masing-masing adalah Tuhan. Tetapi akal dan hatinya kompak bahwa yang menciptakan ketiganyalah Tuhan sesungguhnya. Dan nabi Ibrahim as. juga sempat meragukan soal hari berbangkit lalu dibuktikan dengan penyembelihan 4 ekor burung dan dengan tepukan beliau burung-burung disembelihnya tadi hidup kembali seperti semula.

Uzair juga pernah mengalami demikian ketika beliau berjalan di kampung mati lalu beliau ditidurkan/dimatikan selama 100 bersama keledainya. Akhirnya dihidupkan kembali seperti sedia kala.

Nabi Musa as. mengalami yang serupa beda kasus. Ketika beliau berdialog dengan Tuhan di gunung Sinai. Disitu beliau meminta kepada Tuhan agar menampakkan diriNya. Tetapi nabi Musa tidak mampu dan pingsan.

Begitu juga nabi Muhammad saw. Melalui peristiwa Isra` Mi`raj. Meskipun ada yang mengatakan bahwa dalam rangka menghibur nabi atas meninggal istri dan pamannya tetapi juga mengandung hikmah (pelajaran) untuk meyakinkan tanda-tanda kebesaran Allah dengan memperjalankannya dari masjidil haram ke masjidl aqsha dan naik ke shidratul muntaha lalu turun ke bumi menjelang shubuh dalam satu malam.

Sedangkan nabi-nabi lainnya memang tidak diceritakan pengalaman sebagaimana ketiga nabi tersebut. Tetapi jangan lupa bahwa ummatnya minta pembuktian melalui mu`jizat itu sebagai pembuktian kebenaran Allah. Sekira ummatnya tidak “nyinyiran” minta mu`jizat maka sudah dipastikan tidak ada. Persoalannya kan kemudian percaya atau tidak percaya.

Dengan demikian, tidak semestinya bila ada orang yang tidak percaya terhadap kebenaran yang disampaikan lalu dikatakanlah ia kafir. Padahal dirinya ingin yakin dengan melihat bukti kebenarannya. Itu artinya Islam tidak alergi dengan sikap kritis. Kalau tidak ada yang dipertanyakan bagaimana mungkin Al-Quran sebagai petunjuk. Wallaahu a`lam

Polemik soal "BID`AH" perayaan hari besar Islam seperti Maulid, Isra` Mi`raj dan lainnya

Setiap bulan Rabi`ul Awwal maka sebahagian besar ummat Islam hampir seluruh dunia mengadakan perayaan dan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Begitu juga bila bulan Rajab tiba maka perayaan dan peringatan Isra` Mi`raj digelar. Dan ada lagi perayaan dan peringatan lainnya yang berhubungan dengan hari dan bulan keislaman. Akibatnya ada yang pro dan kontra soal perayaan dan peringatan-peringatan tersebut.

Soal kapan pertama kali diadakan perayaan dan peringatan-peringatan tersebut. Dari berbagai sumber hasilnya beraneka ragam argumen dan data. Begitupun sampai saat ini perayaan dan peringatan tersebut senantiasa diadakan setiap tahunnya. Begitu penulis lahir, perayaan-perayaan tersebut sudah ada. Hehe.

Bagi yang pro berpendapat bahwa perayaan tersebut tidak ada masalah. Karena tidak ada dalil larangan merayakannya. Tidak ada unsur kesyirikan. Ini bukan ibadah maghdhah. Ini sebagai bentuk kesyukuran (tasyakur) sekaligus peringatan. Ini bagian tabligh akbar dan syiar Islam. Apalagi di zaman ini, orang-orang semakin jauh dari nilai-nilai keislaman maka dihidupkanlah semangat keimanannya melalui perayaan-perayaan ini.

Sedangkan yang kontra berpendapat bahwa berdasarkan dalil perayaan Islam itu hanya 2, yaitu hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha. Selain keduanya adalah bid`ah. Tidak ada contohnya dari nabi dan para shahabat, tabi`in, tabi`ut tabi`in dan seterusnya.

Dari kedua pendapat di atas, penulis berusaha mengambil pelajaran bahwa :
1. Kelompok yang pro mengadakan perayaan itu bagian dari tabligh akbar dan syiar Islam. Asal tidak ada unsur kesyirikan di dalamnya. Dan tidak ada niat menambah kedua perayaan secara resmi. Perayaan tersebut lebih kepada substansi (isi). Materi perayaan diisi dengan kajian (ceramah) dan perlombaan keislaman untuk generasi muda.

2. Kelompok yang kontra mengingatkan dengan cara "vonis" bahwa dalam Islam ada dua hari raya. Selebihnya tidak ada itu dalam Islam. Kelompok ini ingin memurnikan ajaran Islam dari unsur tradisi yang dianggap ajaran. Mereka khawatir bahwa ummat (masyarakat awwam) tidak bisa membedakan mana ajaran dan mana tradisi. Bahkan mungkin saja bila tidak merayakan Maulid dan seterusnya hukumnya wajib. Maka kehadiran mereka sebenarnya perlu sebagai pengingat. Meskipun bagi sebahagian orang yang pro menilai mereka yang kontra ini sangat gegabah memvonis amalan orang dan ada unsur memecah belah.

Kesimpulannya adalah :
Islam adalah agama nasehat. Memberi dan menerima nasehat itu memang wajib ada di dalam beragama. Begitupun cara memberi dan cara menerima nasehat sudah diatur dalam Islam.

Bagi yang tetap merayakan Maulid dan Isra` Mi`raj silahkan bila tidak ada unsur kesyirikan dan hal-hal yang justru menjauh dari substansi yang ingin dicapai.

Kemudian bagi yang membid`ahkan perayaan ini mesti sabar menerima penolakan dari kelompok yang pro perayaan. Mungkin saja caranya dianggap "vulgar", tidak sopan dan seterusnya atau butuh pemahaman yang panjang bagi yang terbiasa merayakannya selama ini.

Mungkin saja bila tidak ada kelompok yang kontra ini maka perayaan dan peringatan tersebut yang semula murni Tabligh Akbar dan Syiar Islam menjadi ritual wajib dan malah ada penyimpangan dan kemaksiatan di dalamnya. Mari bersabar dan berlapang dada. Wallaahu `alam bissowab

Sampai kapan orang Islam tertindas ?

Tertindasnya orang Islam pada hari-hari ini, mulai dari tuduhan teroris, radikal, sampai diperangi dan dibunuh di berbagai belahan negara dunia yang rata-rata dialami jumlah orang Islamnya sedikit (minoritas) oleh orang-orang yang tentu tidak suka terhadap Islam dan orangnya bukanlah hal yang baru. Peristiwa ini sudah terjadi sejak dulu, tepatnya pada zaman Nabi dan Rasul.

Dengan peristiwa ini, tentunya bagi yang punya nurani dan merasa sekeyakinan mengecam dan sangat marah. Begitupun kecaman dan kemarahan yang dilontarkan oleh orang-orang, terutama orang Islam sudah diatur dalam Islam bahwa kecam dan marahlah karena Allah. Yaitu, dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya lebih kurang "Bila melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangan (kekuasaan), lisan (parlemen, ulama, guru), hati (doa)."

Artinya, boleh marah tetapi membalas perbuatan mereka ada aturan mainnya. Bukan spontanitas angkat senjata. Itu konyol dan malah menambah masalah. Karena mereka yang tidak senang itulah yang diinginkan mereka. Bukan tidak siap tetapi strategi dan taktik dianjurkan dalam agama.

Apa yang menyebabkan orang-orang tidak begitu suka terhadap Islam dan orangnya ?
1. Sudah tabiat mereka dari dulu begitu bahwa mereka di luar Islam tidak akan senang kepadamu (orang Islam) sampai kamu keluar dari agamamu dan ikut bersama mereka (Q.S. Al-Baqarah ayat 120)

2. Islam secara keyakinan jelas berbeda dengan agama-agama lainnya. Meskipun mereka berbeda nama tetapi yang mereka sembah adalah benda-benda berbagai bentuk dan banyak. Sedangkan Islam mengenalkan keesaan Tuhan dan secara mata telanjang tidak terlihat untuk menyelisihi mereka dan membuktikan bahwa Tuhan tidak dapat diserupakan dengan sesuatupun. Dan Dia serba MAHA.

3. Islam tidak merestui hal yang haram, kemunkaran dan perzinahan.

4. Atas permintaan syaitan kepada Tuhan agar diizinkan menyesatkan anak cucu adam sampai hari kiamat.

Sampai kapan ketertindasan ini berakhir ?
Pertanyaan ini pernah juga dilontarkan oleh para sahabat nabi dan diabadikan oleh Allah di dalam Al-Quran
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ [٢:٢١٤] 
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Q.S. 2:214

Berdasarkan ayat ini bahwa kapan berakhirnya adalah hak Allah. Tugas orang Islam bersabar dan shalat dengan mengambil pelajaran dan bersiap siapa bila waktunya tiba.

Kita masih punya pemimpin. Meskipun rata-rata pemimpin yang ada jauh dari harapan tetapi yakinlah diantara mereka pasti ada yang masih peduli dan dekat dengan Allah.

Hendaknya jangan gegabah bertindak sebagaimana mereka bertindak dengan sewenang-wenang. Bukan berarti tidak berbuat dianggap tidak peduli. Tetapi orang Islam itu sebuah tim dan ada kaptennya. Dan "kaptennya" ini pasti sedang menyiapkan strategi yang matang.

Mungkin selama ini kebanyakan orang Islam lalai dan "bermesraan" dengan mereka tanpa disadari. Mulai dari meniru mereka sampai dengan bertoleransi secara berlebihan. Makanya boleh jadi ini sebuah teguran bagi Allah bahwa sesungguhnya bumi Allah ini dititipkan kepada hambaNya yang dekat denganNya. Tetapi kenyataannya yang menguasai dunia hari ini siapa ? Maka ketertindasan itu sulit dihindari. Kalau boleh dibandingkan bahwa kondisi ril orang Islam hari ini mirip-mirip kondisi di Makkah.

Jadi, seperti Imam shalat sering mengingatkan kepada makmumnya sebelum melaksanakan shalat berjama`ah "luruskan dan rapatkan shaff". Artinya luruskan niat dan rapatkan hati kalian. Dan ini mungkin belum terwujud. Sampai kapan ? Jawabannya sampai pada waktunya.

Kesimpulannya adalah marilah jadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Berbuatlah sesuai dengan kemampuan yang ada. Berdoa kepada Allah sebagaimana Allah ajarkan di dalam Al-Quran
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ [٢:٢٨٦] 
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Q.S. 2 : 186

Walllaahu a`lam bissowab

Ketika Dakwah Wahabi dan Salafi dianggap tanpa ilmu (akhlak)

Wahabi dan Salafi adalah firqah (kelompok) dalam Islam yang mendakwahkan Sunnah (tuntunan rasul) dan memberantas Tahayul, Bid`ah dan Khurafat. Sasarannya adalah penyimpangan amalan orang Islam yang dianggap menyelisihi Sunnah dan mempertahankan Bid`ah. Umumnya amalan yang dikoreksi bercampur baur dengan tradisi dan budaya yang tentunya menyelisihi Sunnah. Akibatnya penolakan bahkan penyesatan diterima oleh kedua firqah ini dari orang-orang yang tentu tidak terima amalannya dianggap bid`ah dan sesat.

Yang menolak dakwah mereka adalah yang meyakini bahwa selama ini amalan mereka sudah sesuai Sunnah dan mereka yang membid`ahkan amalannya dianggap lancang dan tidak memenuhi standar keilmuwan meskipun dalil-dalil yang dibawakan dianggap asal comot dan gegabah.

Bagi penulis, terhadap yang menolak bisa saja benar anggapan mereka terhadap Wahabi dan Salafi. Atau bisa saja keliru dan salah kaprah. Begitu juga bagi dakwah Wahabi dan Salafi mungkin juga ada benarnya dan ada juga salahnya.

Anggapan mereka (yang menolak) benar bahwa menghukumi suatu amalan itu mesti ada standar keilmuwan yang mumpuni agar jelas hukumnya.

Dan anggapan mereka (yang menolak) bisa juga keliru bahwa Wahabi dan Salafi dinilai berdakwah tanpa ilmu. Mungkin karena amalannya "diganggu" maka disebutlah demikian. Semestinya sebagai masukan tanpa harus menolak. Tetapi "gengsi" merupakan sifat manusia yang harus dimaklumi bagi Wahabi dan Salafi.

Sedangkan dakwah Wahabi dan Salafi itu ada benarnya ketika orang-orang "merasa nyaman" dengan amalannya selama ini karena "telah dijamin" oleh para ulamanya padahal diantara amalan-amalan itu mungkin saja memang ada menyelisihi sunnah apalagi tidak semuanya tradisi dan budaya itu sesuai dengan ajaran dan nilai Islam. Kalaupun diamalkan oleh ulama terdahulu, bisa saja sebagai "media" dakwah untuk menarik perhatian orang-orang yang baru mengetahui Islam.

Dakwah Wahabi dan Salafi itu bisa saja salah dan keliru ketika penyampaiannya dianggap lancang, tidak pas dan dianggap tidak berilmu. Dan ini bisa sebagai masukan bagi Wahabi dan Salafi bahwa berdakwah tidak mesti mengharap diterima atau tertolak. Karena kewajiban pendakwah hanyalah penyampai sedangkan haq pemberi adalah sang Pemilik Kebenaran.

Perlu diketahui bahwa Soal penolakan dakwah dan pengoreksian amalan itu sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak zaman nabi sudah ada demikian. Tetapi itulah resiko berdakwah yang harus diterima dengan sabar dan lapang dada bagi Wahabi dan Salafi. Mudah-mudahan bisa dimengerti dan dimaklumi.

Maka kehadiran dakwah Wahabi dan Salafi sebenarnya sebagai "warning/peringatan" bagi orang-orang yang menganggap amalannya selama ini benar-benar "pas mantab". Akibatnya orang-orang tadinya hanya terpaku kitab FIQH dan TASAWUF enggan buka kitab TAUHID, TAFSIR dan HADITS menjadi "doyan" membuka ketiganya. Hasilnya tidak sedikit yang tadinya menolak menjadi menerimanya.

Begitulah dinamika dakwah yang bukan hanya sekadar mengajak berbuat baik. Tetapi mengoreksi amalan tidak kalah pentingnya dari sekadar mengajak orang berbuat baik. Karena di luar Islampun orang-orangpun berbuat baik. Hanya saja secara prinsip antara Islam dan di luar Islam ada perbedaan yang cukup signifikan, yaitu dalam aspek Aqidah, Ibadah, dan Muamalah. Sedangkah dalam aspek Akhlak kemungkinan banyak kesamaannya. Kalau agama hanyalah sekadar berbuat baik maka untuk apa Tuhan mengutus para rasulNya ?

Mungkin karena dakwah Wahabi dan Salafi "terlalu vulgar" menghitam putihkan dan menelanjangi amalan-amalan orang yang dianggap bid`ah serta dinilai kurang adab dan cari-cari perkara saja maka disebutlah keduanya berdakwah tanpa ilmu dengan metode comot dan cocokologi. Lagi-lagi ini soal pandang dan perasaan. Walaahu `alam bissowaab

"Kembali kepada Quran dan Sunnah", mengapa mesti resah ??

Istilah dan seruan "kembali kepada Quran dan Sunnah" acapkali terdengar di ceramah-ceramah, kajian-kajian di berbagai tempat. Terutama di media mainstream seperti youtube, facebook, WA dan seterusnya. Sehingga seruan ini mendapatkan reaksi pro dan kontra.

Bagi yang pro dengan seruan tersebut terdapat dua kelompok, yaitu :
  1. Kelompok yang ingin memahami Islam seperti nabi dan para sahabat nabi. Dan kelompok ini biasanya didominasi oleh masyarakat awam yang ingin hijrah dari kebiasaan "maksiat"nya.
  2. Kelompok yang ingin memahami Islam yang tidak cukup hanya memahami melalui karya-karya ulama tetapi juga merujuk kepada sumbernya yaitu Al-Quran dan Sunnah. Dan kelompok ini kebanyakan dari kalangan akademisi, jenuh dengan doktrin-doktrin tokoh agama, calon Mujaddid dan Ulama khalaf.
Akibatnya kedua kelompok ini tidak sedikit diberi gelar dan firqah yang macam-macam yang mengandung sentimen dan miskin argumen oleh kelompok yang kontra terhadap seruan "kembali kepada Quran dan Sunnah". Dan mereka (yang pro) dianggap lancang dan tidak menghormati ulama-ulama terdahulu. Apalagi tuduhannya terhadap kelompok pro ini tidak ada ilmunya sama sekali.

Sedangkan bagi yang kontra dengan seruan tersebut terdapat juga dua kelompok, yaitu :
  1. Kelompok yang mempertahankan tradisi "taqlid" dan "mazhab" ulama soal pemahaman dan pengamalan agama. Karena bagi mereka pemahaman agama sudah selesai dibahas. Dan tidak ada lagi peluang untuk mengkaji ulang secara kritis terhadap Islam dan ijtihad ulama yang tentunya secara keilmuwan dan kesahihahnnya tidak lagi diragukan. Maka bagi kelompok ini menganggap orang-orang yang "kembali kepada Quran dan Sunnah" telah merusak tradisi menghormati ulama dan dianggap telah lancang lagi tidak sopan. Apalagi orang-orang di zaman sekarang mana ada atau semakin langka memenuhi syarat sebagai mujtahid.
  2. Kelompok ini hampir mirip dengan kelompok yang pertama (yang kontra). Hanya saja kelompok ini sebenarnya tidaklah kontra seratus persen. Mereka mengakui bahwa ijtihad masih terbuka. Apalagi persoalan dan kebutuhan ummat mesti dijawab dan dicarikan solusinya oleh ulama-ulama khalaf. Dan memang agama itu adalah ilmu pengetahuan yang perlu dikritisi pemahamannya melalui diskursus ilmiyah. Tetapi kelompok ini mengingatkan bahwa untuk "kembali kepada Quran dan Sunnah" harus menggunakan ilmu Quran (Ulumul Quran) dan ilmu Hadits (Ulumul Hadits). Tidak serampangan dan hendaknya tidak menghasilkan ijtihad yang menyeleneh lagi menyimpang. Serta tetap menghormati karya-karya ulama terdahulu.
Dengan demikian, seruan "kembali kepada Quran dan Sunnah" tidak perlu resah apalagi direspon secara negatif bahkan mentah-mentah ditolak. Karena setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya yang mau dan mampu mengkaji agama secara keilmuwan.

Ketahuilah bahwa kemajuan kebudayaan dan peradaban Islam disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan agama oleh orang-orang Islam itu sendiri sehingga menghasilkan ilmuwan dan ulama muslim sebagaimana dalam sejarah hal tersebut telah dibuktikan. Kalau dibandingkan dengan hari ini, hampir semua aspek bahwa Islam dan orangnya kalah bersaing dengan "orang lain". Padahal Islam menyerukan "fastabiqul khayrat" dan "khayra ummah" sebagai motivasi bagi orang Islam itu sendiri.

Maka bersikap bijaksanalah bagi yang "betah" bertaqlid dan bermazhab dan luruskan niat karena Allah bagi yang ingin mengkaji ulang dan mengembangkan keilmuwan keagamaan dengan harapan mendatangkan manfaat bagi ummat dan bukan justru mendatangkan malapetaka bagi ummat dan Islam itu sendiri. Karena sampai kapanpun selama ada kebenaran disitu ada kesalahan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. Wallaahu a`laam.

Jadikan ORMAS dan MAZHAB itu sebagai sekolah dan Amal Usaha

Hampir dapat dipastikan bahwa setiap orang beragama, terutama Islam tergabung dengan ORMAS dan MAZHAB tertentu. ORMAS adalah singkatan dari Organisasi Massa yang bergerak di bidang agama, pendidikan dan sosial. Seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Jami`atul Washliyah dan seterusnya. Sedangkan MAZHAB adalah firqah (kelompok) di bidang fiqh, akidah, Ibadah dan seterusnya. Seperti Fiqh Syafi`i, Hambali, Maliki dan Hanafi, dan Salafi, Wahabi, Sunni, Syiah dan seterusnya.

Sebab kebanyakan orang-orang masuk di dalamnya adalah faktor ikut-ikutan atau keinginan sendiri. Kalau dibaca dengan baik dan benar bahwa keberadaan ORMAS dan MAZHAB adalah umumnya untuk memudahkan anggotanya memahami dan mengamalkan Islam secara utuh (kaaffah).

ORMAS dan MAZHAB itu baik bila anggotanya benar-benar memperhatikan ketentuan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga ORMAS dan kehendak para pendiri MAZHABnya maka tidak ada masalah. Tetapi bila masing-masing ORMAS dan MAZHAB saling mengklaim kebenaran masing-masing dan saling menyalahkan maka disitulah persoalan yang semestinya tidak ada.

Kita mesti paham bahwa para pendiri ORMAS dan MAZHAB niatnya bukan bikin aliran dan menjadikan Islam ini terpecah-pecah. Tetapi karena didasari ijtihad dan situasi ketika berdirinya ORMAS dan MAZHAB yang mengharuskan ada dan memang dibutuhkan ketika itu.

Kini, sebenarnya keberadaan ORMAS dan MAZHAB dirasa sebagai biang perpecahan dan ada yang mengatakan bahwa bagaimana ummat Islam itu bersatu bila selama masih ada ORMAS dan MAZHAB. Padahal keberadaan mereka masih relevan bila tidak ada indikasi perpecahan. Maka persoalannya bukan ada pada ORMAS dan MAZHAB sebenarnya tetapi ada pada orang-orang didalamnya bagaimana menyikapi perbedaan dan cara pandang terhadap keberadaan ORMAS dan MAZHAB.

Tuhan ciptakan perbedaan bukan untuk perpecahan tetapi justru saling melengkapi. Lihat Matahari berbeda dengan bulan, baik dari segi cahaya dan waktu terbitnya. Coba keduanya disatukan maka apa yang terjadi dengan alam ini ?? Hehe

Jadi, yang mesti menjadi perhatian adalah jadikan ORMAS dan MAZHAB sebagai sekolah bagi pengikutnya. Karena yang namanya sekolah pasti di dalamnya ada kegiatan pembelajaran dan naik kelas serta lulus. Kemudian jadikan sebagai Amal Usaha dalam mewujudkan ilmu yang telah dipelajari. Sehingga menjadikan amal tepat sasaran.

Akhirnya, perlu kesadaran yang penuh bahwa keberadaan ORMAS dan MAZHAB itu tujuannya adalah saling melengkapi bukan sebaliknya. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna. Coba Matahari terbit terus menerus maka sudah dipastikan tidak ada yang bertahan lama hidup. Begitu juga bila Bulan terbit terus menerus maka sudah dipastikan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Keduanya saling melengkapi kebutuhan penghuni alam semesta ini (bumi).

Jadikan perbedaan itu rahmat dan bukan menjadi laknat. Wallaahu a`lam

Anda menuntut ilmu supaya apa ??

Kebanyakan orang-orang bila ditanya "Untuk apa anda belajar?" "Anda menuntut ilmu supaya apa?" Maka jawabannya sudah dapat dipastikan bahwa ada yang menjawab "Supaya pintar" "Supaya jadi orang" "Supaya paham" dan seterusnya.

Memang, jawaban-jawaban di atas tidak ada yang salah. Tetapi kemudian meninggalkan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk menguji jawaban-jawaban tersebut. "Untuk apa pintar?" "Kalau sudah pintar lalu mau apa?" dan seterusnya.

Tulisan kali ini bukan bertujuan untuk menghakimi atau membenarkan pandangan dan pendapat saya. Tujuan saya hanya ingin membuka wawasan baru barangkali atau mengulang kaji yang pernah ada. Walaupun nanti ada juga terdapat kekeliruan pada akhirnya maka konsekwensinya harus diterima. Karena hanya kebenaran yang absolut dan pengetahuan itu relatif.

Bila ditanya, anda menuntut ilmu supaya apa ?
Memang, ilmu tidak ada yang salah. Tetapi kenapa dituntut ? Dalam istilah agama kata menuntut itu diartikan dari kata THO-LA-BA. Maka dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai menuntut. Dan kata menuntut ini kemudian dipakai dalam istilah hukum. Akhirnya maknanya menjadi bias. Sehingga menuntut itu diartikan berkaitan dengan hukum. Dan Celakanya juga bahwa kata hukum diartikan sebagai memberi sanksi yang bersalah saja. Padahal kata hukum juga diambil dari istilah agama, yaitu HA-KA-MA yang artinya pasti. Kenapa bisa begitu ? Dalam ilmu bahasa bahwa kata-kata dasar dalam bahasa Indonesia banyak diambil dari bahasa-bahasa asing, termasuk bahasa arab yang kemudian dikelompokkan sebagai bahasa atau kata serapan.

Manusia diperintahkan oleh Tuhan agar menuntut ilmu adalah sebenarnya bukan ilmunya yang dituntut tetapi manusianya. Karena ilmu itu bukan orang tetapi kumpulan pengetahuan-pengetahuan yang kemudian diuji kebenarannya lalu menjadi sebuah ilmu. Dan kata menuntut itu diarahkan kepada manusianya. Jadi, menuntut ilmu itu mengandung arti bahwa manusia didesak bahkan kalau perlu dipaksa berilmu supaya apa ? Nah disini akan dijelaskan tujuan dan manfaatnya.

Dengan demikian, bila diperbaiki pertanyaannya adalah anda dituntut supaya berilmu untuk apa ? Maka jawabannya adalah untuk menuntun anda ke jalan yang benar. Soal pintar itu bisa masuk ke dalam wilayah pendidikan atau psikologi atau yang berkaitan dengan disiplin ilmu intelektual.

Lalu, apa pula yang dimaksud dengan jalan yang benar. Memang apa yang dimaksud dengan jalan yang benar ?

Jalan yang benar itu berarti banyak makna. Dan istilah ini terdapat dalam agama Islam, tepatnya Al-Quran sebagai sumbernya. Dan kalimat ini terdapat di dalam surah Al-Fatihah ayat 6, yaitu artinya "Tunjukilah kami jalan yang lurus (menurut teks terjemahan) atau benar".

Berdasarkan berbagai tafsir yang penulis temukan bahwa kata jalan itu mengandung arti agama, paham, kelompok, manhaj, cara pandang, cara hidup dan sebagainya. Dan disitulah salah satu bukti kesempurnaan Al-Quran yaitu memberikan sebuah kata sejuta makna untuk diambil sebagai kajian dan pelajaran berbagai ilmu. Subhanallah.

Maka soalan tentang "anda menuntut ilmu supaya apa?" maka jawabannya adalah supaya saya dituntun ke jalan yang benar. Dan dari situ silahkan dipergunakan untuk apa. Tentunya pasti untuk kebaikan. Karena kebaikan itu adalah kebutuhan bagi setiap orang kecuali bagi yang tidak merasa orang. Hehehe (Bercanda).

Demikian tulisan ini dipaparkan. Penulis mengabarkan, silahkan anda menyimpulkannya. Wallaahu a`lam.

Yang patut disesalkan bukan istilah RADIKAL tapi sebabnya

Dewasa ini, Islam disematkan dgn istilah Radikal, Teroris dan istilah-istilah lainnya yang merugikan dan sebenarnya bertentangan prinsip Islam.

Prinsip Islam itu adalah Rahmat bagi alam semesta. Menebar kebaikan dan mencegah kemunkaran. 

Sementara istilah Radikal dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa kemanusiaan dengan membawa simbol dan identitas keislaman dengan dalil Jihad fi sabiililah.

Disitulah sebagai pemeluk Islam merasa sedih dan miris hati ketika orang-orang menyimpulkan bahwa ajaran Islam mengandung Radikal dan intoleran.

Lalu, bagaimana seharusnya menyikapi hal demikian ?

Memang, dari dulu dan sampai kapanpun bahwa Tuhan telah mentakdirkan kebencian orang-orang yang tidak akan suka kepada Islam sampai orang Islam mengikuti mereka 2:120.

Tetapi apakah hanya itu saja dalil pembenaran bagi orang Islam "membalas" dan mengecam mereka yang seenaknya melabeli Islam dengan istilah Radikal ?

Bukan bermaksud menyelisihi dalil qath'i tetapi terkadang tidak sedikit bagi orang Islam juga menggunakan dalil qath'i untuk "menghantam" orang-orang terutama sesama orang Islam yang berlainan "golongan/aliran".

Padahal dalil-dalil Tuhan dan rasulNya itu bertujuan untuk menebar kebaikan dan mencegah kemunkaran. Namun yang terjadi akibatnya malah sebaliknya oleh sebahagian orang-orang yang mengaku Islam. Salah satunya adalah membunuh orang lain dan merusak rumah ibadah dengan menggunakan simbol Islam.

Poinnya adalah disesalkan terhadap orang-orang yang menggunakan simbol Islam dan mengaku berjihad fii sabiililah dengan membunuh orang dan merusak rumah ibadah serta fasilitas umum lainnya.

Akibatnya ibarat gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Artinya gara-gara sekelompok orang menggunakan atribut keislaman melakukan kemunkaran atas nama jihad. Kan jadi keliru dan konyol namanya.

Jihad itu ada syarat dan ketentuan berlaku. Apalagi di masa sekarang berjihadnya mesti naik kelas. Berjihadlah melalui politik bila mau memperjuangkan nilai-nilai Islam. Dari situlah adakan perbaikan politik. Begitulah cara yang dicontohkan oleh nabi saw. Pertanyaannya mereka itu mencontoh siapa ??

Jadi, semestinya mari kita arahkan perhatian bukan hanya kepada orang-orang yang seenaknya memberi label Radikal itu. Tetapi haruslah diberikan pemahaman yang insensif kepada kelompok-kelompok dalam Islam supaya berhati-hati menggunakan simbol dan identitas keislaman ketika berjihad tanpa kekerasan dan menimbulkan kerusakan.

Islam melarang manusia membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Mengutamakan musyawarah. Dan memang harus diakui juga bahwa ummat ini belum bisa berharap banyak kepada orang-orang yang mewakili ummat Islam supaya berlaku adil dan menciptakan kesejahteraan.

Akhirnya, yang memunculkan Radikal itulah yang mesti dicegah dan dibenah bagi ummat Islam supaya berjihad sebenar-benarnya dengan mengorbankan harta dan diri di jalan Allah. Bukan berjihad dengan mengorbankan harta dan diri orang lain. Wallaahu a'lam.

Islam itu jaya dibuktikan melalui kontribusi aktif ilmuwan dan ulamanya dan bukan slogan dan impian kosong

Ilmu bagi manusia sangat penting dan wajib. Karena manusia dilahirkan dalam ketidaktahuan. Oleh karena itu bila manusia tidak berilmu maka dampaknya adalah kerusakan dan kebinaasan.

Hal ini mengingatkan kita kepada Quran Surah Al-Baqarah ayat 30-31, dimana Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿البقرة: ٣٠﴾   
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (2: 30)
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ [٢:٣١] 
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

Berdasarkan ayat ini, para malaikat sempat mengkhawatirkan bagaimana Tuhan bisa menitipkan tugas kepada manusia di bumi yang bisa merusak dan membinasakan ? Maka Allah menjawabnya dengan ilmu.

Untuk memperoleh ilmu pengetahuan maka manusia harus menuntutnya dengan belajar. Pelajarilah berbagai ilmu pengetahuan, yaitu ilmu pengetahuan umum dan agama. Ilmu umum menuntun kebahagiaan dunia dan ilmu agama menuntun kebahagiaan akhirat. Keduanya mesti ada pada setiap diri manusia. Tidakpun secara mendalam, tetapi dasar-dasar dan pengantarnyapun sudah mencukupi. Kalau mau jadi ahli, maka fokuslah pada salah satu bidang ilmu. Dan Islam sangat membutuhkan ilmuwan dan ulama muslim yang hari-hari ini semakin jauh ketertinggalan dari ummat lain. Padahal dahulu, Islam pernah jaya melalui munculnya ilmuwan dan ulama muslim di masa kejayaan daulah Islamiyah. Diantaranya ada Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Ghazali, Al-Khawarizmi, Bukhari, Muslim, Ibnu Katsir, Ibnu Sina, sampai dengan Buya Hamka. Mungkin saja anak-anak muslim (termasuk saya) kurang hafal dan mengenal ilmuwan dan ulama muslim lainnya. Mungkin sebabnya motivasi hal ini tidak begitu diangkat dalam berbagai forum dakwah.

Bila sejarah Islam itu dibaca kembali secara melotot bahwa kejayaan Islam itu bukan sekadar menang perang, menyebarkan Islam ke segala penjuru dunia, mendirikan negara Islam saja tetapi yang tidak kalah pentingnya dan utama sekali adalah tumbuh dan berkembangnya ilmuwan dan ulama muslim yang dapat dirasakan tertinggal jauh dengan ummat lainnya berkontribusi aktif dalam dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan saat ini.Wallahu `alam

Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis

Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gun...