Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis

Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gunanya untuk memenuhi kebutuhannya.

Secara syar'i bahwa hijrah diartikan pindah secara tempat dan adat (kebiasaan).

Secara tempat maksudnya pindah dari tempat maksiat menuju tempat kepada tempat yang bermanfaat (kebaikan).

Secara adat maksudnya pindah dari kebodohan kepada kecerdasan dalam berbagai aspek kehidupan.

Sederhananya, pindah dari maksiat kepada taubat (kembali kepada jalan Tuhan).

Secara history bahwa hijrah dilihat bagaimana nabi dan para sahabat melakukan kepindahan dari makkah atas perintah Allah dan membangun peradaban di Madinah.

Dengan demikian, makna hijrah secara luas mengingatkan kepada manusia bahwa dirinya adalah makhluk dinamis dan bukan statis. Apalagi tantangan di akhir zaman ini semakin besar dan rumit.

Sebagai orang beragama, terutama muslim bahwa menghadapi dan menjawab tantangan dan persoalan harus disikapi secara bijak dan cerdas. 

Hijrah bukan  sekadar mengganti pakaian dan menjadi rajin beribadah saja. Tetapi lebih dari itu harus mau dan mampu mengejar ketertinggalan dan bersaing dalam berbagai aspek terutama ekonomi, pendidikan dan politik.

Padahal kedua aspek ini secara history, nabi telah mencontohkan bagaimana ketika beliau hijrah mengadakan piagam Madinah sebagai langkah politik dan membangun masjid sebagai usaha dan upaya membangun peradaban dan perekonomian ummat.

Hayo, hijrahkan cara pandang dan bersikap dari statis lagi pesimis kepada dinamis yang penuh optimis. Wallahu a'lam bissowaab.

Corona atau COVID-19 mengajak bersabar berjama`ah

Soal corona atau COVID-19 yang sedang mewabah hampir di seluruh dunia saat ini, membuat orang-orang meronta dan merana. Karena yang biasa menjadi di luar kebiasaan.

Yang biasanya bekerja menjadi meronta karena corona, yang biasanya berkumpul menjadi merana karena corona, Yang biasanya berkeliaran menjadi rumah aja karena corona. Sebab corona mengharuskan orang-orang menjaga jarak, memakai masker dan biasakan mencuci tangan.

Sebagai orang beragama, menyikapi situasi ini hanyalah dengan sabar dan shalat. Meskipun shalat berjama`ah dibatasi tetapi masing-masing orang masih bisa shalat meski di rumah aja. Kalaupun di masjid harus dipastikan dirinya tidak menularkan dan ditularkan.

Oleh karena itu, nampaknya corona ini mengajak orang untuk bersabar berjama`ah yang mungkin selama ini orang itu bersabar sesuai dengan masalahnya masing-masing. apakah masalah keuangan, masalah penghasilan, dan masalah-masalahnya secara munfarid (sendiri-sendiri) maka melalui corona agaknya "memaksa" orang-orang bersabar berjama`ah dengan hubungan dan kegiatan secara terbatas yang bagi tidak terbiasa pastilah menjadi luar biasa.

Barangkali inilah sisi "kebaikan" dari corona bagi yang mau berfikir positif. Dan bagi yang tidak mau, ya silahkan. Itu haknya. Bahwa kebaikan corona adalah mengajak orang bersabar berjama`ah sampai waktunya berakhir. Bagaikan aroma buang angin, pastilah tidak selamanya baunya di sekitar orang yang membuangnya kecuali berulang-ulang.

Tidak ada yang sia-sia di dunia ini yang Tuhan ciptakan. Meskipun corona buatan orang, tetapi pastilah Tuhan mengizinkannya. Supaya manusia mau mengambil pelajaran terhadap yang baik dan yang buruk sekalipun. Dan yang hanya mau mengambil pelajaran hanyalah orang yang memiliki akal sehat.

Semoga corona ini segera berlalu dan telah mengajari manusia bagaimana akibat buruk yang diperbuatnya bila melakukan kerusakan di bumi Tuhan ini. walaahu a`lam bissowab

Benarkah Islam itu satu ? Kenapa banyak sekali "Merk"nya ?

Pada dasarnya Islam itu satu dan tidak ada duanya. Hanya saja yang membuatnya "terbelah" dan terbagi adalah pada cara memahami dan mengamalkannya. Sehingga tidak terhindarkan yang namanya khilafiyah (perbedaan pendapat/pandangan) sehingga membentuk kelompok, mazhab dan firqah.

Dalam disiplin ilmu agama, yang kelihatan sekali khilafiyah misalnya ilmu fiqh. Sehingga dari khilafiyah itu lahirlah mazhab-mazhab fiqh. Dan begitu juga dengan disiplin ilmu agama lainnya.
Hanya saja yang paling mencolok dan diperdebatkan dari masa ke masa adalah ilmu fiqh.

Islam memaklumi soal perbedaan itu. Yang tidak dibenarkan adalah perpecahan yang mengakibatkan permusuhan dan peperangan. Karena perbedaan itu tercipta agar saling mengenal (ta`aruf) sehingga melahirkan ketakwaan dalam bentuk tasamuh (lapang dada) dan tafahum (saling mengerti) sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam Quran surah Al-Hujurat ayat 13.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [٤٩:١٣] 
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 

Yang dilihat oleh Allah adalah ketakwaan seseorang maupun kelompok dalam bentuk saling mengenal. Sehingga terciptalah kehidupan yang saling mengisi dan berbagi. Bukan saling mendengki mencaci dan berkelahi.

Dari awal alam ini tercipta dua perbedaan. Yaitu langit dan bumi. Makhluk ghaib dan nyata. Timur dan barat. Siang dan malam. Beriman dan kafir. Dan serusnya. Agar khususnya manusia sebagai pemegang amanat oleh Allah untuk mengurus bumi mengetahui dan mengerti terhadap apa hikmah dari tercipta perbedaan itu oleh Allah swt. makanya ada ungkapan perbedaan itu adalah rahmat. Artinya, perbedaan itu bukan untuk dipertikaikan tetapi didamaikan. Dan kedamaian itu bagian dari rahmat Tuhan.

Tidak terbayang bila Tuhan hanya menciptakan jenis laki-laki saja tanpa adanya jenis perempuan. Dan begitupula dengan sebaliknya. Justru keduanya saling membutuhkan dan memberi.

Memang ada batasan-batasan perbedaan yang dapat dimaklumi dan ada juga perbedaan yang mesti diperbaiki. Itupun secara teknis, bukan prinsip. Yang terpenting adalah bila ingin memperbaikinya maka mengutamakan kebaikan dan kemanfaatan melalui cara pandang dan sikap benar menurut agama dengan mampu membedakan mana prinsip dan mana teknis.

Dan untuk mencapai hal yang dimaksud diperlukan wawasan keislaman yang luas dan cerdas sebagai wujud dari iman dan takwa kepada Allah swt. Oleh karena itu perbaiki cara pandang dan berfikir serta bertindak. Wallaahu a`lam bissowab

Nuzul Quran mengingatkan agar ummat mau memahami sejarahnya

Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya di bulan ramadhan, ummat Islam pada umumnya mengadakan peringatan Nuzul Quran yang diyakini turun pada tanggal 17 Ramadhan.

Memang soal kepastian tanggal turunnya itu, para ulama berbeda pendapat. Tetapi kesamaannya adalah turunnya di bulan ramadhan. Hal ini sesuai dengan yang dikabarkan oleh Al-Quran secara jelas dalam Quran surah Al-Baqarah ayat 185;
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿البقرة: ١٨٥﴾   
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (2: 185)

Dan diturunkan pada malamnya terdapat di dalam Quran surah Ad-Dukhan ayat 3 ;
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿الدخان: ٣﴾   
sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (44: 3)

dan surah Al-Qadr ayat 1
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿القدر: ١﴾   
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (97: 1)

Mengenai mengadakan peringatan Nuzul Quran sebagaimana peringatan-peringatan lainnya seperti maulid nabi, Isra` Mi`raj dan sebagainya, memang ada yang tidak sependapat dan dikategorikan sebagai bid`ah. Karena di masa nabi dan para sahabat tidak pernah mengadakan peringatan seperti itu. Dan pendapat itu boleh-boleh saja. Mungkin niatnya sebagai peringatan juga bahwa tidak semua di dalam agama ini, yaitu Islam bisa diada-adakan semaunya. Itulah kelebihan Islam dibandingkan dengan agama lainnya. Islam memiliki pakem yang jelas. Sehingga kemungkinan orang untuk merubah dan berusaha menyimpangakan agama ini mustahil terjadi, kecuali bila ummat ini tidak peduli dengan agamanya. Maka penulis meyakini bahwa peringatan ini boleh saja dilaksanakan agar ummat teringat kepada Al-Quran dan sejarahnya. Dan yang terpenting pada prinsipnya tidak ada unsur syirik dan menyalahi syariat yang berlaku dalam Islam.

Lalu, apa yang perlu diingat dari peringatan nuzul Qur`an ini ?

  1. Hendaknya ummat mau dan selalu membaca dan memahami sejarah bagaimana Al-Quran ini diturunkan. Apakah melalui peringatan ini atau membaca buku-buku sejarah Islam atau mendengarkan kajian-kajian yang berkaitan dengan ini.
  2. Meskipun ummat disuguhkan berbagai disiplin ilmu keagamaan dan berpegang pada suatu mazhab, tetapi hendaknya pemahaman dan pengamalan itu di kembalikan kepada Al-Quran sebagai pedoman hidup. Karena kebanyakan ummat berpegang kepada kata ustadz, kata kiyai dan kata si anu dalam persoalan agama. Semestinya beragamalah dengan Al-Quran secara utuh dan komprehensif. Memang, pada disiplin ilmu keagaaman itu sumbernya dari Al-Quran tetapi tidak ada salahnya ummat mesti paham juga pada sumbernya. Namun tetap saja dengan disiplin ilmu. Bukan sembarangan juga.
  3. Nuzul Quran mengingatkan bagi ummat yang lalai dari Al-Quran yang mungkin saja selama ini kurang perhatian terhadapnya untuk dibaca dan dihafalkan ayat-ayatnya. Padahal di masa kekinian, Al-Quran semakin mudah dibaca dan dihafal sejak kehadiran smartphone (ponsel pintar). Di dalamnya bisa diinstall melalui google playstore pada android. Sekarang tinggal manusianya, mau atau tidak memanfaatkan kemudahan itu.
Barangkali 3 hal ini yang ingin penulis sampaikan pada peringatan Nuzul Quran kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallaahu a`lam bissowaab.

CORONA (COVID-19) itu adalah VIRUS

Yang namanya virus itu umumnya menularkan atau dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Akibatnya yang ditularkan bisa sakit bahkan lebih daripada itu. Tergantung jenis virusnya dan kekebalan tubuh bagi yang menerimanya (penderitanya).

Diketahui bahwa CORONA (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan (selengkanya baca di situs WHO). Penularannya menurut informasi sampai saat ini sudah mengelilingi dunia. Yang menghebohkan adalah dapat menimbulkan kematian yang tidak kalah seriusnya dengan virus-virus lainnya. Penularannya melalui sentuhan tangan, bersin dan batuk. Akibatnya dikeluarkan kebijakan dari pihak berwenang agar masyarakat membatasi diri dan jaga jarak (physical and social distancing). Dengan demikian, berdampak kepada kehidupan sosial dan ekonomi.

Penulis sengaja mengangkat tema ini yang berjudul CORONA atau COVID-19 itu adalah Virus bermaksud memberi pandangan dan pemikiran kepada kita semua yang mungkin menganggap bahwa ini bukan sekadar virus semata. Tetapi ada konspirasi dan seterusnya.

Orang berfikiran dan beragumen itu biasa-biasa saja. Tetapi dampak dari fikiran dan argumen serta opini bagi kebanyakan orang menjadi tidak biasa. Akibatnya menimbulkan kecemasan, kepanikan bahkan juga berujung kematian yang dikarenakan bukan karena CORONA nya. Tetapi akibat fikiran, argumen serta opini tadi.

Bila dikaitkan dengan agama (ISLAM) bahwa virus itu adalah suatu penyakit menular yang bagi manusia wajib memelihara dan mencegah dirinya. Dan mengenai hal ini, di masa nabi dan para sahabat pernah mengalami hal sejenis. Maka perintahnya adalah bila mendengar wabah, virus di suatu tempat maka jangan memasukinya atau bila di suatu tempat dimana virus itu berada maka jangan keluar dari situ agar tidak menularkan.

Dan agama memang sangat serius soal kebersihan dan kesehatan. Bahkan ini merupakan dari iman. Makanya kalau diperhatikan bahwa agama melarang manusia memakan yang haram agar tidak sakit. Shalat mesti berwudhu` agar bersih dan seterusnya.

Jadi, penulis ingin mengatakan bahwa cerdaslah kita sebagai ummat Islam bahwa terhadap sesuatu itu dalam hal ini virus adalah virus. Dan cara menyikapinya adalah menghindari dan menjauhi diri dari virus tersebut. Karena ada yang menganggap macam-macam. Semestinya mungkin virus ini akan segera berakhir menjadi kesenangan "beliau" ini. Karena ada yang menganggap dirinya bukan virus biasa.

Virus ini mengingatkan pentingnya kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan. Dan dianggap propaganda dan konspirasi sepertinya sangat berlebihan. kalaupun benar adanya, mudah-mudahan propaganda dan konspirasinya gagal total. Kenapa ? Sebagai orang yang mengaku beriman dan bertakwa kepada Allah maka pasti meyakini bahwa makar atau konspirasi buruk buatan manusia tidak ada apa-apanya di bandingkan Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Mari kita kembalikan akal sehat yang Allah berikan. Jadikan CORONA ini sebagai virus yang mengingatkan kepada kita bahwa pentingnya kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan. Biarkan para ahli dan pekerja kesehatan menyelesaikan tugasnya. Dan semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan tubuh dan keimanan yang kokoh menghindari virus ini serta atas izinNya mengakhirkan virus ini pada waktunya. Mudah-mudahan kita tetap dalam keadaan sehat wal `afiat dan dapat kembali beraktivitas seperti biasanya. Amin yaa rabbal `aalamiin.

Walaahu a`lam bissowaab.

Apakah TUHAN itu kelihatan ?

Soal Tuhan bagi manusia adalah suatu pemahaman dan keyakinan dasar dalam beragama. Semua agama pastinya mengenalkan, memahamkan dan meyakini ketuhanannya.

Islam mengenalkan TUHAN kepada ummatnya dalam konteks Aqidah. Dan inti berTUHAN itu adalah Tauhid. Yaitu meyakini bahwa Tuhan itu adalah Allah yang Maha Esa. Berdoa hanya kepadaNya. Tidak beranak dan diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun menyerupaiNya. Hal ini berdasarkan Quran Surah Al-Ikhlas ayat 1-4.

Soal wujud, Islam mengenalkan TUHAN melalui tanda-tanda adanya Allah. Dia tidak dapat dilihat oleh kedua mata manusia secara langsung. Hal ini pernah dialami oleh nabi Musa as. ketika beliau ingin melihat Allah sebagaimana firmanNya :

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al-A'raaf: 143)

Dari ayat ini sangat terang bahwa Nabi Musa as. ingin sekali melihat TUHANnya tetapi tidak sanggup dan pingsan. Artinya, bukan manusia melihat TUHAN tetapi TUHAN lah melihat apa yang dikerjakan hamba-hambaNya. Sebagaimana firmanNya :

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadiid: 4)

Soal manusia tidak melihat TUHANnya selain kisah nabi Musa as. yang berusaha melihat TUHAN secara langsung tetapi bisa berbicara kepadaNya, memang ada dijelaskan di dalam firmanNya :

(yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al-Anbiyaa': 49)

Jadi, bagi orang Islam bahwa TUHAN tidak bisa dan tidak mampu dilihat secara langsung sebagaimana agama lain yang mengajarkan ummatnya bahwa TUHAN bisa dilihat melalui sesembahan mereka seperti kayu, patung, api dan seterusnya. Sedangkan Allah swt. hanya bisa dilihat melalui tanda-tanda keberadaan dan kebesaranNya berupa ciptaanNya, kehendakNya dan kuasaNya. Hikmahnya adalah :

  1. Soal melihat TUHAN bukanlah urusan manusia. Tetapi TUHAN lah yang melihat apa yang dikerjakan manusia.
  2. Menyelisihi sesembahan agama lain yang mewujudkan tuhannya melalui benda-benda ciptaan mereka. Yang tidak mendatangkan manfaat apalagi kemudharatan.
  3. Ujian keyakinan bagi manusia apakah beriman atau tidak adanya Allah swt. meskipun tidak nampak langsung secara indera penglihatan tetapi bisa disaksikan melalui ayat-ayatNya (tanda-tanda keberadaan dan kebesaranNya) yang ada di langit dan bumi secara tersurat dan tersirat.
  4. Menyelamatkan akal untuk memikirkan wujud TUHAN dan menyelamatkan hati dari meyakini adanya TUHAN selain ALLAH.
  5. Tugas manusia hanyalah mentaati perintahNya dan meninggalkan laranganNya sebagai bentuk kasih sayang Allah tanpa harus repot-repot melihatNya.
Sangat lazim dan alami bahwa manusia itu ingin sekali melihat TUHANnya. Karena sebagai yang diciptakan pastilah ingin mengetahui dan mengenal siapa yang menciptakannya. Seorang anak saja ketika ia lahir dan tidak melihat orangtuanya maka ingin sekali mengetahui dimana orangtuanya. Ini alami dan keniscayaan yang pasti dialami oleh setiap manusia secara spritual. Nabi Ibrahim as. pun pernah mengalami dan mempersoalka dimana TUHAN.

Oleh karena itu, jawaban yang diberikan Allah kepada manusia adalah sebagaimana firmanNya :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah: 186)

Kedekatan TUHAN bagi manusia tidak ada batas dan jarak. Dia tidak perlu diwujudkan melalui sesuatu sebagaimana yang dilakukan oleh agama lainnya. Sepertinya Allah hendak mengatakan untuk apa manusia membuat sesuatu untuk disembah sementara sesembahannya dibuat manusia dan sesembahan itu tidak bisa menciptakan apa yang Allah ciptakan. Walaahu a`lam bissowab

Ketika eksistensi TUHAN "terlihat" hanya pada soal musibah

Dipercaya atau tidak bahwa alam ini tidak tercipta dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakannya. Dan yang menciptakannya adalah yang memiliki kuasa dan kekuatan besar. Dan yang memiliki kuasa dan kekuatan besar itu adalah Tuhan. Bagi orang Islam bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah yang Maha Esa. Dia ada tapi tidak berwujud seperti ciptaanNya.

Adanya kenikmatan dan musibah bagi manusia bagian dari kehidupannya. Karena tanpa diminta keduanya itu selalu hadir mengiringi selama dirinya hidup. Bila yang dirasakan senang, puas dan bahagia maka manusia menganggapnya sebagai kenikmatan. Dan bila yang dirasakan tidak menyenangkan, kurang memuaskan dan kesedihan maka manusia menganggapnya sebagai musibah.

Soal Tuhan, memang manusia merasa kehadirannya disaat musibah datang. Dan bila musibah berlalu maka tidak sedikit manusia "melupakan"Nya. Kenapa bisa begitu ?

Dalam diri manusia, ada kekuatan lagi kelemahan. Tidak bagi Tuhan. Dia Maha memiliki kekuatan dan tidak ada kelemahan bagiNya. Itulah yang membedakan diriNya dengan yang diciptakanNya. Ibarat kursi dengan sipembuatnya. Tentu secara fisik maupun kekuatan tentunya berbeda. Begitupun si kursi tidak bisa dikatakan bahwa dirinya anak si pembuat kursi. Ketika si kursi rusak dan patah maka dia akan membutuhkan perbaikan oleh si pembuatnya. Ketika sudah baik, si kursi mungkin saja tidak membutuhkan si pembuatnya.

Bagi orang yang bertakwa bahwa kenikmatan dan musibah itu sama saja cara menghadapinya. Yang berbeda hanya perasaannya. Dan itu alami. Tetapi tentu perasaan yang tidak berlebihan. Bila nikmat bersyukur dan bila susah bersabar. Hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh orang yang bertakwa. Berbeda dengan orang yang di luarnya. Bila nikmat kegirangan dan bisa susah berkeluh kesah.

Soal musibah, seolah-olah Tuhan hadir disitu maka berdoalah ia sesering mungkin sampai pertolonganNya tiba. Namun apa yang terjadi bila musibah itu berlalu ? Sudah tentu kebanyakan manusia itu melupakan kesusahannya dan Tuhan yang menenangkannya. Makanya dengan "jengkelnya" Tuhan bilang bahwa "manusia itu selalu melampaui batas".

Ketahuilah, bahwa Tuhan hadir di setiap saat. Dia tidak pernah mengantuk apalagi tidur sebagai makhlukNya. Dia terus menerus mengurus dan mengatur alam semesta ini dengan kuasaNya.

Pada dasarnya kenikmatan itu datangnya dari Tuhan dan musibah itu akibat dari manusia itu sendiri. Bukan Tuhan "cuci tangan" tetapi dibuatkan aturan dan hukum-hukumNya agar manusia itu senantiasa dalam kenikmatan. Namun karena manusia itu ada sifat kufur akibatnya kembali kepada manusia itu sendiri.

Begitupun di balik musibah sebenarnya ada kenikmatan dan hikmah-hikmah di dalamnya. Diantaranya adalah agar manusia itu sadar dan kembali kepada Tuhannya yang mungkin selama ini dilupakan dan dianggap "tidak ada".

Jadi, bersikap ihsan dalam suka dan duka. Yakinlah bahwa Tuhan bukan spesialis menangani "kesusahan" makhlukNya. Maka pantaslah manusia itu beribadah dengan rela hati dan tanpa paksaan. Diminta atau tidak diminta. Persoalannya adalah bagaimana pula dengan orang yang ketika senang tidak peduli terhadap Tuhannya apalagi disaat susah, tidak membutuhkanNya. Penulis berkeyakinan pasti tidak ada manusia yang demikian kecuali menipu dirinya sendiri. Wallaahu a`lam bissowaab.

Di balik musibah ada kenikmatan

Sesuatu yang menggelisahkan dan tidak menyenangkan hati maka disebut dengan Musibah. Seperti ketakutan, kelaparan, kemiskinan, kematian dan kesengsaraan maka itu semua pasti bagi semua orang merupakan musibah.

Sedangkan sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan hati maka disebut dengan kenikmatan. Seperti kekuatan, kekenyangan, kekayaan, kehidupan dan kesenangan maka itu semua orang pasti sangat setuju merupakan kenikmatan.

Musibah disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri dan atas izin Allah. Sedangkan kenikmatan itu disebabkan pemberian Allah melalui usaha manusia maupun tidak diusahakan.

Musibah dan kenikmatan datang silih berganti menghampiri manusia pada setiap saat. Hikmahnya sebagai ujian dan peringatan. Tidak dimintapun pastilah datang menghampiri. Seperti bernafas. Tidak dimintapun, manusia membutuhkan oksigen agar bertahan hidup. Dan itu kenikmatan yang tidak diusahakan manusia. Musibah terjadi bila kemudian manusia mengotori udara melalui asap pembakaran yang berlebihan sehingga manusia sulit menghirup oksigen.

Soal harta. Memang Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya. Bila manusia berusaha semaksimal mungkin tetapi belum tentu hasilnya sebesar yang diharapkannya. Dan begitu juga ada manusia usahanya sekadar atau mungkin tidak sama sekali maka boleh jadi rezeki yang diperolehnya melimpah ruah seperti anak pejabat misalnya. Maka musibah hadir bila si penerima merasa kekurangan dan kenikmatan hadir bila si penerima merasa cukup dan puas. Begitulah eksistensi musibah dan kenikmatan. Intinya bila enak maka kenikmatanlah itu dan bila tidak enak maka musibahlah itu.

Di balik musibah ada kenikmatan
Di karenakan manusia hidup dihadapkan dengan musibah dan kenikmatan maka Allah memberi dua petunjuk mengatasi keduanya. Yaitu Sabar dan Syukur.

Sabar adalah menahan diri terhadap suatu keadaan melalui ucapan maupun perbuatan yang dirasa tidak menyenangkan. Sehingga dengan menahan diri itu memunculkan suatu sikap yang bijak dan menentramkan hati.

Syukur adalah mengakui segala kenikmatan yang datang pada dirinya apakah melalui usahanya maupun tidak diusahakan datangnya dari Allah swt. Sehingga dengan pengakuan itu meningkatkan ketaatan kepada Allah dan mampu menggunakannya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh si pemberi (mendatangkan manfaat/berkah).

Maka ketika musibah hadir dihadapannya lalu disikapi dengan kesabaran maka ada kenikmatan yang dirasakannya, yaitu :
1. Menyadari bahwa musibah itu sebagai peringatan baginya agar berhenti dari kelalaian dan memperbaiki diri dan keadaan

2. Ujian naik kelas "iman". Keimanan mesti diuji apakah benar atau dusta. Maka dengan musibah sebagai uji coba apakah yang bersangkutan benar-benar beriman atau malah berdusta.

3. Musibah mendekatkan diri kepada Tuhan. Memang sudah kebiasaan manusia bila ditimpa suatu persoalan maka disitulah Tuhan disebut. Namun bila sudah mendapat kenikmatan maka tidak jarang manusia lupa bahwa dirinya pernah sengsara.

Jadi, bila musibah itu dipahami ada kenikmatan dibalik itu maka sipenerima tidak begitu saja mengeluh dan berputus asa. Karena boleh jadi memang ada kesalahan yang dianggapnya selama ini tidak ada soal. Begitulah Tuhan menegur hambaNya. Ada teguran lembut dan ada teguran tegas. Mungkin teguran yang tegas itu termasuk di dalamnya musibah. Oleh karena itu yakinlah bahwa di balik musibah ada kenikmatan bagi yang mengerti. Wallaahu a`lam bissowaab






Prinsip Tauhid ada di dalam Surah ini

Bertauhid memang tugas dakwah utama bagi setiap nabi dan dan rasul yang kemudian diteruskan oleh para dai/muballigh untuk diingatkan dan disampaikan kepada ummat manusia. Karena dengan bertauhid manfaatnya menyehatkan akal dan membersihkan jiwa.

Menyehatkan akal dari soal-soal ketuhanan yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin menuhankan suatu berhala sedangkan ia diciptakan oleh manusia lagi tidak mendatangkan manfaat dan mudharat. Dengan menuhankan Allah semata, jelas-jelas masuk akal karena Dia menciptakan dan tidak diciptakan. Soal tidak tampak oleh manusia dengan mata telanjang membedakan antara Dia dengan lainnya. Malaikat dan Jin tidak tampak oleh manusia karena beda alam dan bahan dasar ciptaan. Bila manusia diciptakan dari tanah, maka malaikat diciptakan dari cahaya dan Jin diciptakan dari api. Tidak terbayang bila keduanya ditampakkan Allah maka bagaimana bumi ini jadinya. Terang benderang (siang terus) dan kobaran apipun ada dimana-mana. Logis bukan.

Membersihkan jiwa dari soal-soal musibah dan kenikmatan. Bertauhid menjadikan musibah sebagai cobaan dan ujian iman dan begitu juga dengan kenikmatan agar tidak lupa diri. Bagi yang tidak bertauhid maka jiwanya menjadi terganggu ketika menghadapi musibah dan jiwanya lalai ketika mendapat kenikmatan. Makanya bertauhid sangat penting dalam kehidupan manusia agar sehat akalnya dan bersih jiwanya.

Oleh karena itu banyak orang yang ingin belajar tauhid. Namun sangat disayangkan belajarnya bukan dari sumbernya langsung yaitu Al-Quran dan AsSunnah. Tetapi merujuk kepada kitab-kitab yang tentunya banyak versi pembahasannya. Meskipun ayat-ayat dan hadits-hadits dinukilkan (dikuti) dalam kitab-kitab Tauhid tersebut.

Tidak salah memang belajar tauhid dari kitab-kitab ulama bagi yang awwam. Tetapi semestinya urutan belajarnya dari Al-Quran dan AsSunnah kemudian kitab-kitab ulama sebagaimana para ulama kitab tersebut ketika akan berkarya mereka mendahului Al-Quran dan AsSunnah yang merupakan sumber ilmu pengetahuan umum dan agama. Ini berlaku juga dengan masyarakat awwam. Karena Al-Quran dan AsSunnah diturunkan untuk manusia bukan untuk ulama. hehe

Memang untuk mengambil rujukan Al-Quran dan AsSunnah mesti ada ilmu alatnya yang disebut dengan ulumul Quran dan ulumul Hadits. Mestinya para ulama dan tokoh agama juga mengenalkan kedua ilmu itu agar agama ini tidak dimonopoli oleh sekolompok orang saja. Apalagi bermunculan mazhab-mazhab dan firqah-firqah. Sepanjang tidak memecah tidak ada soal. Tetapi bila mengarah perpecahan lalu siapa yang bertanggung jawab ?

Adapun prinsip Tauhid itu yang sebenarnya tidak perlu tafsir karena ayat-ayatnya muhkamah (jelas dan terang) ada di dalam Quran Surah Al-Ikhlas. Disana disebutkan bahwa Allah itu Maha Esa (tidak berbilang wujudnya tetapi nama dan sifatnya yang berbilang agar hambaNya tidak lagi menyebut-nyebut nama-nama sembahan lainnya).

Kemudian Allah segala permohonan. Artinya sesulit apapun dan sesusah apapun yang dihadapi maka mohon pertolongan kepada Allah dan bukan kepada yang lain agar diberi jalan keluar. Berbeda dengan keyakinan yang lain bila kesusahan maka cari alternatif lain. Bagi Islam tidak demikian.

Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Artinya Allah menciptakan dan tidak diciptakan. Bila beranak dan diperanakkan maka bukanlah Tuhan tapi Hantu. Karena hantu itu diciptakan dan beranak pulak. Ada kuntilanak, gundoruwo dan seterusnya.

Tidak ada yang menyerupainya. Artinya Allah tidak dapat diserupakan oleh makhlukNya. Hanya Dia yang tau bagaimana diriNya. Di dalam ayat-ayatNya dijelaskan tanda-tanda kebesaranNya. Dan kebesaranNya tidak identik dengan wujud yang dibayangkan manusia. Sederhananya, Allah tidak serupa yang diberhalakan. Walaahu a`lam bissowab

Mengapa manusia mesti bertuhan dan beragama ?

Ada anggapan bahwa Tuhan dan Agama merupakan sumber kekerasan dan peperangan. Karena adanya kekerasan bahkan terjadinya peperangan adalah masing-masing ummat beragama merasa dirinya paling benar dan lainnya sesat.

Lihatlah bagaimana orang melakukan bom bunuh diri atas niat membela Tuhan dan agama. Sampai-sampai ada yang mengatakan "Tuhan kok dibela?" . Ketakutan demikian kecemasan terjadi dikarenakan ada orang-orang mengatasnamakan agama melakukan "sweeping" terhadap orang-orang yang tidak sekeyakinan.

Apalagi tuduhan terhadap agama tertentu bahwa penyebarannya melalui kitab suci dan pedang. Mengkafirkan, membid`ahkan dan menyesatkan. Begitulah gambaran bagi sebahagian orang-orang terhadap agama yang dituduhkan itu.

Tuhan adalah yang menciptakan makluk-makhlukNya dan alam semesta yang tujuannya ada kehidupan. Dia memiliki nama dan sifat yang baik-baik. Sedangkan agama adalah kumpulan aturan dan hukum yang harusnya dipatuhi oleh makhlukNya, sehingga terciptalah keteraturan dan ketertiban kehidupan yang aman, damai dan sejahtera melalui keyakinan dan moral

Memang setiap agama mengajarkan kebaikan. Tetapi ada prinsip yang berbeda. Yaitu cara menuhankan Tuhan dan beribadah kepadaNya. Inilah perbedaan mendasar diantara agama-agama yang ada. Dalam hal ini Islam sangat berbeda dengan agama-agama lainnya.

Haruskah manusia bertuhan dan beragama ?
Alasan kuat manusia mesti bertuhan dan beragama adalah kebutuhan. Manusia sangat membutuhkan Tuhan. Karena diciptakan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Meskipun ada kekuatan tetapi sangatlah terbatas. Sedangkan Tuhan kekuatanNya tidak terbatas.Makanya bermacam-macam cara manusia menuhankan Tuhannya melalui apa yang diyakininya.

Begitu juga dengan agama, manusia butuh pedoman yang harus diikuti agar tidak salah paham dan kaprah dalam menjalani hidup. Sehingga mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Yang boleh pasti bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Begitu juga dengan yang tidak boleh justru merugikan dan membinasakan manusia itu sendiri juga.

Lalu kenapa Tuhan ciptakan manusia itu lemah dan tidak berdaya?
Karena manusia itu diciptakan berpasang-pasangan sehingga beranak pinak maka kekuatan ada pada diri manusia dibatasi agar tidak melampaui batas. Artinya masing-masing manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sehingga ada kalanya manusia yang satu maju dan yang lain mundur. Ibarat berlalu lintas bila tidak ada yang "mengalah" maka sudah dapat dipastikan jalanan tersebut macet. Maka dibuatlah "aturan mainnya" agar tertib dan lancar. Itulah agama.

Jadi, manusia itu pada dasarnya butuh Tuhan dan beragama. Meskipun ada orang yang tidak merasa butuh Tuhan dan beragama sebenarnya sedang membohongi dirinya. Ketika dirinya susah pasti terucap tanpa sadar kata TUHAN. Ketika dirinya membersihkan diri dari kotoran maka sebenarnya ia telah mengambil ajaran dan nilai dari agama tanpa disadarinya.

Kesimpulannya adalah tidak ada manusia di Muka bumi ini tidak butuh Tuhan dan Agama kecuali memang dirinya benar-benar tidak butuh sama sekali tetapi nuraninya tidak demikian. Walaahu a`lam bissowab.

Hampir setiap Nabi dan rasul dikisahkan mengalami hal Ini

Setiap orang dapat dipastikan bahwa suatu kebenaran harus dibuktikan agar semakin yakin (valid). Memang, ketika kebenaran diuji maka hasilnya bisa semakin yakin atau malah sebaliknya ragu-ragu dan tidak percaya. Itu makanya manusia diberi akal oleh Allah agar berfikir dan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian hati yang menentukan apakah yakin atau tidak yakin.

Bila diperhatikan di dalam Al-Quran, dimana dialog antara nabi dan kaumnya maka ketika nabinya menyampaikan suatu kebenaran maka kaumnya menanggapi dengan pertanyaan dan permintaan. Hasilnya percaya atau tidak percaya. Menerima atau tidak menerima.

Begitu juga dengan dialog Antara Tuhan dengan para malaikat ketika berfirman soal khalifah lalu malaikat mempersoalkan kehendak Tuhan tersebut. Akhirnya malaikat percaya setelah Tuhan membuktikan bahwa apa yang dikehendakiNya tidak keliru.

Jadi, percaya atau tidak percaya mesti melalui uji kebenaran terhadap suatu kebenaran. Apakah memang kebenaran atau pembenaran. Maka dialog-dialog di dalam Al-Quran itu mengandung pelajaran penting agar mengaktifkan akal dan hati terhadap suatu kebenaran. Bukan sekadar menerima tanpa bukti. Ini berlaku untuk semua, termasuk nabi dan malaikat sekalipun.

Sebagai seorang nabi dan rasul Allah, semestinya tidak menerima kebenaran begitu saja dari Tuhan agar bisa menjelaskan kepada ummatnya ketika mempersoalkan dan mempertentangkan. Dan ini baik dan sudah semestinya. Jadi soal iman bukan sekadar percaya begitu saja tanpa kritis.

Nabi Ibrahim as. misalnya pernah mengalami “pencarian Tuhan” melalui pengamatan bintang, bulan dan matahari yang dianggapnya semula masing-masing adalah Tuhan. Tetapi akal dan hatinya kompak bahwa yang menciptakan ketiganyalah Tuhan sesungguhnya. Dan nabi Ibrahim as. juga sempat meragukan soal hari berbangkit lalu dibuktikan dengan penyembelihan 4 ekor burung dan dengan tepukan beliau burung-burung disembelihnya tadi hidup kembali seperti semula.

Uzair juga pernah mengalami demikian ketika beliau berjalan di kampung mati lalu beliau ditidurkan/dimatikan selama 100 bersama keledainya. Akhirnya dihidupkan kembali seperti sedia kala.

Nabi Musa as. mengalami yang serupa beda kasus. Ketika beliau berdialog dengan Tuhan di gunung Sinai. Disitu beliau meminta kepada Tuhan agar menampakkan diriNya. Tetapi nabi Musa tidak mampu dan pingsan.

Begitu juga nabi Muhammad saw. Melalui peristiwa Isra` Mi`raj. Meskipun ada yang mengatakan bahwa dalam rangka menghibur nabi atas meninggal istri dan pamannya tetapi juga mengandung hikmah (pelajaran) untuk meyakinkan tanda-tanda kebesaran Allah dengan memperjalankannya dari masjidil haram ke masjidl aqsha dan naik ke shidratul muntaha lalu turun ke bumi menjelang shubuh dalam satu malam.

Sedangkan nabi-nabi lainnya memang tidak diceritakan pengalaman sebagaimana ketiga nabi tersebut. Tetapi jangan lupa bahwa ummatnya minta pembuktian melalui mu`jizat itu sebagai pembuktian kebenaran Allah. Sekira ummatnya tidak “nyinyiran” minta mu`jizat maka sudah dipastikan tidak ada. Persoalannya kan kemudian percaya atau tidak percaya.

Dengan demikian, tidak semestinya bila ada orang yang tidak percaya terhadap kebenaran yang disampaikan lalu dikatakanlah ia kafir. Padahal dirinya ingin yakin dengan melihat bukti kebenarannya. Itu artinya Islam tidak alergi dengan sikap kritis. Kalau tidak ada yang dipertanyakan bagaimana mungkin Al-Quran sebagai petunjuk. Wallaahu a`lam

Polemik soal "BID`AH" perayaan hari besar Islam seperti Maulid, Isra` Mi`raj dan lainnya

Setiap bulan Rabi`ul Awwal maka sebahagian besar ummat Islam hampir seluruh dunia mengadakan perayaan dan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Begitu juga bila bulan Rajab tiba maka perayaan dan peringatan Isra` Mi`raj digelar. Dan ada lagi perayaan dan peringatan lainnya yang berhubungan dengan hari dan bulan keislaman. Akibatnya ada yang pro dan kontra soal perayaan dan peringatan-peringatan tersebut.

Soal kapan pertama kali diadakan perayaan dan peringatan-peringatan tersebut. Dari berbagai sumber hasilnya beraneka ragam argumen dan data. Begitupun sampai saat ini perayaan dan peringatan tersebut senantiasa diadakan setiap tahunnya. Begitu penulis lahir, perayaan-perayaan tersebut sudah ada. Hehe.

Bagi yang pro berpendapat bahwa perayaan tersebut tidak ada masalah. Karena tidak ada dalil larangan merayakannya. Tidak ada unsur kesyirikan. Ini bukan ibadah maghdhah. Ini sebagai bentuk kesyukuran (tasyakur) sekaligus peringatan. Ini bagian tabligh akbar dan syiar Islam. Apalagi di zaman ini, orang-orang semakin jauh dari nilai-nilai keislaman maka dihidupkanlah semangat keimanannya melalui perayaan-perayaan ini.

Sedangkan yang kontra berpendapat bahwa berdasarkan dalil perayaan Islam itu hanya 2, yaitu hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha. Selain keduanya adalah bid`ah. Tidak ada contohnya dari nabi dan para shahabat, tabi`in, tabi`ut tabi`in dan seterusnya.

Dari kedua pendapat di atas, penulis berusaha mengambil pelajaran bahwa :
1. Kelompok yang pro mengadakan perayaan itu bagian dari tabligh akbar dan syiar Islam. Asal tidak ada unsur kesyirikan di dalamnya. Dan tidak ada niat menambah kedua perayaan secara resmi. Perayaan tersebut lebih kepada substansi (isi). Materi perayaan diisi dengan kajian (ceramah) dan perlombaan keislaman untuk generasi muda.

2. Kelompok yang kontra mengingatkan dengan cara "vonis" bahwa dalam Islam ada dua hari raya. Selebihnya tidak ada itu dalam Islam. Kelompok ini ingin memurnikan ajaran Islam dari unsur tradisi yang dianggap ajaran. Mereka khawatir bahwa ummat (masyarakat awwam) tidak bisa membedakan mana ajaran dan mana tradisi. Bahkan mungkin saja bila tidak merayakan Maulid dan seterusnya hukumnya wajib. Maka kehadiran mereka sebenarnya perlu sebagai pengingat. Meskipun bagi sebahagian orang yang pro menilai mereka yang kontra ini sangat gegabah memvonis amalan orang dan ada unsur memecah belah.

Kesimpulannya adalah :
Islam adalah agama nasehat. Memberi dan menerima nasehat itu memang wajib ada di dalam beragama. Begitupun cara memberi dan cara menerima nasehat sudah diatur dalam Islam.

Bagi yang tetap merayakan Maulid dan Isra` Mi`raj silahkan bila tidak ada unsur kesyirikan dan hal-hal yang justru menjauh dari substansi yang ingin dicapai.

Kemudian bagi yang membid`ahkan perayaan ini mesti sabar menerima penolakan dari kelompok yang pro perayaan. Mungkin saja caranya dianggap "vulgar", tidak sopan dan seterusnya atau butuh pemahaman yang panjang bagi yang terbiasa merayakannya selama ini.

Mungkin saja bila tidak ada kelompok yang kontra ini maka perayaan dan peringatan tersebut yang semula murni Tabligh Akbar dan Syiar Islam menjadi ritual wajib dan malah ada penyimpangan dan kemaksiatan di dalamnya. Mari bersabar dan berlapang dada. Wallaahu `alam bissowab

Sampai kapan orang Islam tertindas ?

Tertindasnya orang Islam pada hari-hari ini, mulai dari tuduhan teroris, radikal, sampai diperangi dan dibunuh di berbagai belahan negara dunia yang rata-rata dialami jumlah orang Islamnya sedikit (minoritas) oleh orang-orang yang tentu tidak suka terhadap Islam dan orangnya bukanlah hal yang baru. Peristiwa ini sudah terjadi sejak dulu, tepatnya pada zaman Nabi dan Rasul.

Dengan peristiwa ini, tentunya bagi yang punya nurani dan merasa sekeyakinan mengecam dan sangat marah. Begitupun kecaman dan kemarahan yang dilontarkan oleh orang-orang, terutama orang Islam sudah diatur dalam Islam bahwa kecam dan marahlah karena Allah. Yaitu, dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya lebih kurang "Bila melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangan (kekuasaan), lisan (parlemen, ulama, guru), hati (doa)."

Artinya, boleh marah tetapi membalas perbuatan mereka ada aturan mainnya. Bukan spontanitas angkat senjata. Itu konyol dan malah menambah masalah. Karena mereka yang tidak senang itulah yang diinginkan mereka. Bukan tidak siap tetapi strategi dan taktik dianjurkan dalam agama.

Apa yang menyebabkan orang-orang tidak begitu suka terhadap Islam dan orangnya ?
1. Sudah tabiat mereka dari dulu begitu bahwa mereka di luar Islam tidak akan senang kepadamu (orang Islam) sampai kamu keluar dari agamamu dan ikut bersama mereka (Q.S. Al-Baqarah ayat 120)

2. Islam secara keyakinan jelas berbeda dengan agama-agama lainnya. Meskipun mereka berbeda nama tetapi yang mereka sembah adalah benda-benda berbagai bentuk dan banyak. Sedangkan Islam mengenalkan keesaan Tuhan dan secara mata telanjang tidak terlihat untuk menyelisihi mereka dan membuktikan bahwa Tuhan tidak dapat diserupakan dengan sesuatupun. Dan Dia serba MAHA.

3. Islam tidak merestui hal yang haram, kemunkaran dan perzinahan.

4. Atas permintaan syaitan kepada Tuhan agar diizinkan menyesatkan anak cucu adam sampai hari kiamat.

Sampai kapan ketertindasan ini berakhir ?
Pertanyaan ini pernah juga dilontarkan oleh para sahabat nabi dan diabadikan oleh Allah di dalam Al-Quran
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ [٢:٢١٤] 
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Q.S. 2:214

Berdasarkan ayat ini bahwa kapan berakhirnya adalah hak Allah. Tugas orang Islam bersabar dan shalat dengan mengambil pelajaran dan bersiap siapa bila waktunya tiba.

Kita masih punya pemimpin. Meskipun rata-rata pemimpin yang ada jauh dari harapan tetapi yakinlah diantara mereka pasti ada yang masih peduli dan dekat dengan Allah.

Hendaknya jangan gegabah bertindak sebagaimana mereka bertindak dengan sewenang-wenang. Bukan berarti tidak berbuat dianggap tidak peduli. Tetapi orang Islam itu sebuah tim dan ada kaptennya. Dan "kaptennya" ini pasti sedang menyiapkan strategi yang matang.

Mungkin selama ini kebanyakan orang Islam lalai dan "bermesraan" dengan mereka tanpa disadari. Mulai dari meniru mereka sampai dengan bertoleransi secara berlebihan. Makanya boleh jadi ini sebuah teguran bagi Allah bahwa sesungguhnya bumi Allah ini dititipkan kepada hambaNya yang dekat denganNya. Tetapi kenyataannya yang menguasai dunia hari ini siapa ? Maka ketertindasan itu sulit dihindari. Kalau boleh dibandingkan bahwa kondisi ril orang Islam hari ini mirip-mirip kondisi di Makkah.

Jadi, seperti Imam shalat sering mengingatkan kepada makmumnya sebelum melaksanakan shalat berjama`ah "luruskan dan rapatkan shaff". Artinya luruskan niat dan rapatkan hati kalian. Dan ini mungkin belum terwujud. Sampai kapan ? Jawabannya sampai pada waktunya.

Kesimpulannya adalah marilah jadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Berbuatlah sesuai dengan kemampuan yang ada. Berdoa kepada Allah sebagaimana Allah ajarkan di dalam Al-Quran
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ [٢:٢٨٦] 
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Q.S. 2 : 186

Walllaahu a`lam bissowab

Ketika Dakwah Wahabi dan Salafi dianggap tanpa ilmu (akhlak)

Wahabi dan Salafi adalah firqah (kelompok) dalam Islam yang mendakwahkan Sunnah (tuntunan rasul) dan memberantas Tahayul, Bid`ah dan Khurafat. Sasarannya adalah penyimpangan amalan orang Islam yang dianggap menyelisihi Sunnah dan mempertahankan Bid`ah. Umumnya amalan yang dikoreksi bercampur baur dengan tradisi dan budaya yang tentunya menyelisihi Sunnah. Akibatnya penolakan bahkan penyesatan diterima oleh kedua firqah ini dari orang-orang yang tentu tidak terima amalannya dianggap bid`ah dan sesat.

Yang menolak dakwah mereka adalah yang meyakini bahwa selama ini amalan mereka sudah sesuai Sunnah dan mereka yang membid`ahkan amalannya dianggap lancang dan tidak memenuhi standar keilmuwan meskipun dalil-dalil yang dibawakan dianggap asal comot dan gegabah.

Bagi penulis, terhadap yang menolak bisa saja benar anggapan mereka terhadap Wahabi dan Salafi. Atau bisa saja keliru dan salah kaprah. Begitu juga bagi dakwah Wahabi dan Salafi mungkin juga ada benarnya dan ada juga salahnya.

Anggapan mereka (yang menolak) benar bahwa menghukumi suatu amalan itu mesti ada standar keilmuwan yang mumpuni agar jelas hukumnya.

Dan anggapan mereka (yang menolak) bisa juga keliru bahwa Wahabi dan Salafi dinilai berdakwah tanpa ilmu. Mungkin karena amalannya "diganggu" maka disebutlah demikian. Semestinya sebagai masukan tanpa harus menolak. Tetapi "gengsi" merupakan sifat manusia yang harus dimaklumi bagi Wahabi dan Salafi.

Sedangkan dakwah Wahabi dan Salafi itu ada benarnya ketika orang-orang "merasa nyaman" dengan amalannya selama ini karena "telah dijamin" oleh para ulamanya padahal diantara amalan-amalan itu mungkin saja memang ada menyelisihi sunnah apalagi tidak semuanya tradisi dan budaya itu sesuai dengan ajaran dan nilai Islam. Kalaupun diamalkan oleh ulama terdahulu, bisa saja sebagai "media" dakwah untuk menarik perhatian orang-orang yang baru mengetahui Islam.

Dakwah Wahabi dan Salafi itu bisa saja salah dan keliru ketika penyampaiannya dianggap lancang, tidak pas dan dianggap tidak berilmu. Dan ini bisa sebagai masukan bagi Wahabi dan Salafi bahwa berdakwah tidak mesti mengharap diterima atau tertolak. Karena kewajiban pendakwah hanyalah penyampai sedangkan haq pemberi adalah sang Pemilik Kebenaran.

Perlu diketahui bahwa Soal penolakan dakwah dan pengoreksian amalan itu sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak zaman nabi sudah ada demikian. Tetapi itulah resiko berdakwah yang harus diterima dengan sabar dan lapang dada bagi Wahabi dan Salafi. Mudah-mudahan bisa dimengerti dan dimaklumi.

Maka kehadiran dakwah Wahabi dan Salafi sebenarnya sebagai "warning/peringatan" bagi orang-orang yang menganggap amalannya selama ini benar-benar "pas mantab". Akibatnya orang-orang tadinya hanya terpaku kitab FIQH dan TASAWUF enggan buka kitab TAUHID, TAFSIR dan HADITS menjadi "doyan" membuka ketiganya. Hasilnya tidak sedikit yang tadinya menolak menjadi menerimanya.

Begitulah dinamika dakwah yang bukan hanya sekadar mengajak berbuat baik. Tetapi mengoreksi amalan tidak kalah pentingnya dari sekadar mengajak orang berbuat baik. Karena di luar Islampun orang-orangpun berbuat baik. Hanya saja secara prinsip antara Islam dan di luar Islam ada perbedaan yang cukup signifikan, yaitu dalam aspek Aqidah, Ibadah, dan Muamalah. Sedangkah dalam aspek Akhlak kemungkinan banyak kesamaannya. Kalau agama hanyalah sekadar berbuat baik maka untuk apa Tuhan mengutus para rasulNya ?

Mungkin karena dakwah Wahabi dan Salafi "terlalu vulgar" menghitam putihkan dan menelanjangi amalan-amalan orang yang dianggap bid`ah serta dinilai kurang adab dan cari-cari perkara saja maka disebutlah keduanya berdakwah tanpa ilmu dengan metode comot dan cocokologi. Lagi-lagi ini soal pandang dan perasaan. Walaahu `alam bissowaab

Ketika amalanmu dikoreksi oleh orang lain

Sudah sifat manusia bila ditegur dan dikoreksi tentang dirinya, apakah itu penampilannya atau ucapannya atau perbuatannya maka reaksinya pasti tidak suka, marah bahkan menolaknya.

Biasanya yang menimbulkan reaksi tidak suka itu adalah dari segi cara maupun isinya. Dan umumnya orang-orang pasti menolak dari segi caranya yang dianggap tidak etis dan tidak sopan. Ini biasanya karena faktor usia, kedudukan dan ilmu (pengetahuan) bagi si penerima teguran. Apalagi yang mengoreksi dianggap masih muda, tidak punya kedudukan (awam) dan dangkal ilmunya.

Dalam Islam soal tegur menegur, koreksi dan mengoreksi, nasehat menasehati dan seterusnya yang intinya saling mengingatkan adalah keniscayaan dan bahkan hukumnya wajib. Karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa. Makanya di dalam Al-Quran surah Al Ashr ditegaskan sungguh merugi manusia itu bila tidak ada iman, amal shaleh dan tidak saling mengingatkan.

Memang terkadang yang menegur ini niatnya ada dua; Memang tulus untuk memperbaiki orang atau memang ingin mengusik (mengganggu). Itu tergantung bagaimana cara si pemberi teguran dan pandangan yang menerima saran (teguran).

Ketika amalan seseorang dikoreksi maka biasanya bereaksi :
1. Menerima bila yang mengoreksi adalah dianggap tokoh atau yang dituakan. Sehingga tidak ada penolakan sama sekali bagi yang menerima koreksian itu.

2. Menolak bila yang mengoreksi adalah dianggap bukan tokoh apalagi usianya dianggap lebih muda daripada si penerima koreksian. Akhirnya pasti ditolak habis-habisan. dianggap kurang ajar dan mesti banyak belajar lagi.

Kalau boleh kita kembali kepada bagaimana perjuangan dakwah nabi saw. di Makkah bahwa beliau menerima penolakan yang luar biasa dari masyarakat Makkah. Apalagi di kota itu adalah kota kelahirannya dan tokoh yang terkenal menolak dakwah beliau adalah Abu Lahb yang kebenarannya adalah paman kandung beliau sendiri. Nah dari situ jelas sudah bahwa penolakan Abu Lahb terhadap dakwah nabi adalah karena faktor usia dan kedudukan. Dimana Abu Lahb menganggap bagaimana mungkin seorang keponakan menasehati pamannya sendiri.

Jadi, soal penolakan itu memang sudah menjadi kebiasaan bila dikarenakan faktor usia, kedudukan dan ilmu. Maka semestinya bagi si penerima teguran itu bijaksana menyikapi terhadap siapa yang menegurnya tanpa memandang faktor usia, kedudukan dan ilmu.

Kalaupun memang dianggap benar-benar keliru bagi si pemberi teguran maka semesti tidak buru-buru ditolak, Lihat substansi (isi)nya. Bila memang harus diluruskan maka luruskanlah dengan cara arif dan bijaksana. Bukan malah "menelanjanginya" dengan mengatakan "kau tau apa". "belajar sana". "dasar bahlul" dan seterusnya. Kalau demikian maka apa bedanya dengan orang-orang yang tidak mengenal agama yang mana dalam sebuah hadits disebutkan bahwa "AGAMA adalah NASEHAT". Wallaahu a`lam bishsowab.

Inilah alasan mengapa nabi tidak memilih langsung siapa penggantinya setelah wafat

Seperti diketahui bahwa sepeninggalan nabi Muhammad saw. maka muncullah Khulafaurrosyidin yang berarti para pengganti sebagai pemimpin ummat yang mendapat petunjuk. Dan orang-orang yang disebut khulafaurrosyidin adalah para sahabat yang terpilih, yaitu Abu Bakar AsSiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib ra.

Mereka terpilih secara musyawarah dan demokratis. Abu Bakar AsSiddiq terpilih berdasarkan musyawarah mufakat, Umar bin Khattab terpilih berdasarkan rekomendasi dari Abu Bakar AsSiddiq sebelum beliau wafat, Utsman bin Affan terpilih berdasarkan musyawarah dan begitu juga dengan Ali bin Abu Thalib. Hanya saja bagi Ali bin Abu Thalib beliau mendapatkan suara yang tidak penuh. Suara ummat terbelah ada yang mendukung dan ada yang tidak mendukungnya. Dikarenakan peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan agar diusut terlebih dahulu ketimbang memilih pemimpin (khalifah). Dan kalaupun mendesak memilih pemimpin (khalifah) maka yang berhak adalah Muawiyah bin Abu Sufyan yang memang secara hubungan kekeluargaan lebih dekat dengan Utsman bin Affan sebagai sepupunya.

Dan dari sinilah perselisihan antar ummat semakin meruncing dan tidak terelakkan perang saudara. Sampai akhirnya Ali bin Abu Thalib pun terbunuh dan digantikan oleh anaknya Hasan bin Ali. Namun tidaklah lama kepemimpinannya dan hanya sekitar 3 bulan dan kemudian kepemimpinan ummat Islam diserahkan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan maka dimulailah Daulah Islamiyah ala kerajaan (monarki) yang kemudian disebut dengan Daulah Umayyah. Dan dilanjutkan dengan Daulah Abbasiyah sampai dengan Daulah Turki Utsmani yang berakhir pada tahun 1924.

Maka dalam hal ini tentu nabi Muhammad saw pernah mengabarkannya lewat hadits-haditsnya. Apakah itu secara langsung maupun tidak langsung. Seperti hadits nabi dimana beliau mengatakan bahwa pintu fitnah (kekacauan) dimulai dari Umar bin Khattab ra. dan di dalam Al-Quran sangat terang dijelaskan bahwa berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan berpecah belah (3:103)

Pertanyaannya, kalau begitu mengapa nabi saw. tidak langsung saja menunjuk Abu Bakar AsSiddiq ra. sebagai penggantinya ? Bukankah peristiwa perselisihan sesama ummat sering terjadi bila nabinya wafat sebagaimana nabi dan rasul sebelumnya ?

Dan memang diantara para sahabat yang lainnya bahwa alasan lebih berhaknya Abu Bakar AsSiddiq menjadi khalifah antara lain adalah :
1. Orang yang mula-mula masuk Islam di kalangan sahabat (AsSabiqunal Awwaluun)
2. Orang yang pertama membenarkan peristiwa Isra` Mi`raj
3. Orang yang paling sering mendampingin nabi kemana saja.
4. Bila nabi sakit maka yang menggantikan beliau menjadi imam sholat adalah Abu Bakar AsSiddiq ra.

Dan 4 alasan inilah terpilihnya Abu Bakar AsSiddiq ra. ketika ummat Islam bermusyawarah sebagai khalifah pertama setelah nabi Muhammad saw. wafat.

Dari berbagai literatur yang penulis baca bahwa ada beberapa alasan logis mengapa nabi tidak memilih langsung soal kepemimpinan untuk ummat Islam setelah beliau tiada.

1. Nabi Muhammad saw. tugasnya memberi kabar gembira bagi orang beriman dan memberi peringatan bagi yang tidak beriman. Artinya kapasitas beliau soal agama. Beliau tidak mau melampaui tugas di luar wewenangnya setelah meninggal dunia. Apalagi alasan ini diperkuat dengan dalil bahwa tugas nabi berakhir dengan turunnya surah Al-Maidah ayat 3.

2. Bila sekiranya nabi menunjuk secara langsung siapa penggantinya maka dampaknya adalah ;
a. Seolah-olah penggantinya adalah otomatis menjadi nabi sebagaimana nabi Musa terhadap sepupunya nabi Harun as.

b. Bila terjadi perselisihan dan kekacauan setelah meninggal beliau maka hal itu diserahkan sepenuhnya (tawakkal) kepada Allah swt. yang lebih berhak menentukan "drama" kehidupan manusia.

3. Bukti bahwa Islam mengutamakan musyawarah mufakat. Karena masing-masing orang adalah pemimpin sebagaimana dalam haditsnya.

4. Nabi percaya bahwa sepeninggalnya ada sekelompok orang yang cerdas dan mengerti persoalan dan apa yang harus dilakukan setelah beliau tiada. Karena 22 Tahun, nabi mendidik para sahabatnya bagaimana mengatasi masalah sesama mereka. Dan nabi paham itu siapa orang-orangnya. Agar tidak menimbulkan kedengkian diantara mereka sebagaimana ummat-ummat terdahulu maka urusan kepemimpinan ummat diserahkan kepada para sahabatnya melalui musyawarah mufakat.

Dengan demikian, semoga artikel ini bisa memberi jawaban mengapa nabi tidak menunjuk langsung siapa pengganti beliau. Dan soal ini sempat menjadi cemoohan orang-orang yang tidak senang terhadap Islam bahwa nabi orang Islam tidak meninggalkan apa-apa.

Padahal sebenarnya nabi memang tidak meninggalkan apa-apa kecuali yang bermanfaat lagi bermutu, yaitu Al-Quran AsSunnah yang menjadi pedoman hidup bagi manusia yang ini hidupnya aman dan sejahtera dunia dan akhirat. Itupun bagi yang mau mengambil ibrah/pelajaran. Wallaahu a`lam bissowab

Pelajaran ibadah Thawaf dan Sai yang patut direnungkan

Thawaf dan Sai merupakan rangkaian ibadah Haji. Thawaf adalah mengelilingi ka`bah sebanyak 7 kali dan Sai adalah berjalan antara bukit shafa dan marwa sebanyak 7 kali.

Kedua ibadah ini diketahui dari sejarah nabi Ibrahim dan istrinya Siti Hajar. Keduanya bersama anaknya Nabi Ismail as.

Ka`bah didirikan kembali oleh Nabi Ibrahim as. dan Ismail as. anaknya. Dan di sekitar ka`bah terdapat ada maqam Ibrahim as. dan Hijr Ismail. Sedangkan Sai mengingatkan kepada peristiwa istrinya Nabi Ibrahim as, yaitu Siti Hajar yang sedang mencari air dan nabi Ismail as. yang ketika itu masih bayi sedang menunggu dan menangis kehausan.

Maka dengan demikian rangkaian ibadah Haji itu sebenarnya lebih kepada napak tilas sejarah yang dilakoni oleh keluarga Nabi Ibrahim as. termasuk melontar (jumrah).

Dengan demikian, kita semakin yakin bahwa setiap ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambaNya bukanlah sekadar ritual tanpa makna. Pasti ada hikmah dan pelajaran di dalamnya sebagaimana umpamanya shalat yang pelajarannya adalah sebagai upaya pembentukan akhlak (Q.S. Al-Ankabuut ayat 45)

Lalu, apa pelajaran dari ibadah Thawaf dan Sai itu ?
1. Mengelilingi ka`bah mengingatkan bahwa ;
a. bumi itu bulat dari segi bentuk.
b. 7 kali mengingatkan 7 lapis bumi
2. Berjalan antara shafa dan marwa bulak balik mengingatkan bahwa ;
a. bumi itu datar dari segi perjalanan
b. 7 kali mengingatkan kepada hari dalam satu minggu

Inilah beberapa pelajaran yang dapat direnungkan. Wallaahu a`lam

HIKMAH DIBALIK “PEMBAKARAN” NABI IBRAHIM AS

Mukjizat (Arab معجزة, Baca Mu'jizah) adalah perkara di luar kebiasaan yang dilakukan oleh Allah melalui para nabi dan rasul-Nya untuk membuktikan kebenaran kenabian dan keabsahan risalahnya.

Dalam hal ini ketika nabi Ibrahim as dibakar oleh kaumnya maka secara tidak normal beliau tidak terbakar sedikipun. Malah terkesan kedinginan setelah dibakar. Dan ini satu mu`jizat beliau menghadapi kaum yang menentangnya. Harapannya adalah dengan kejadian tersebut maka kaumnya menjadi percaya bahwa beliau adalah utusan Tuhan dan ucapannya itu benar dari Tuhannya.

"Hikmah pembakaran Nabi Ibrahim as. disamping membuktikan beliau itu memang benar-benar utusan Allah, juga menjelaskan kepanikan kaumnya yang musyrik setelah tidak mampu lagi mendebat argumen Nabi Ibrahim as. soal kebenaran Tuhan dan kesalahan berhala. Untuk menutupi ketidakmampuan itu maka panik dan ditangkap dan dibakarlah nabi Ibrahim as. dengan harapan tidak ada lagi yang berani mendebat mereka. Namun yang terjadi justru penampakan kebenaran dari kebenaran."

Tetapi tidak sedikit pula kaumnya malah menganggap bahwa beliau memiliki ilmu sihir sehingga wajar saja kebal dibakar. Dan akibatnya semakin tidak percaya bahwa beliau itu utusan Tuhan.

Begitulah bermacam-macam manusia menyikapi sesuatu. Ada yang percaya dan ada yang tidak percaya. Ada yang percaya kepada kebenaran dan ada yang percaya kepada kebatilan. Dan ada juga yang tidak percaya kepada kebenaran dan ada yang tidak percaya kepada kebatilan. Memang sudah begitu adanya, sejak nabi Adam as. diciptakan Tuhan sebagai manusia pertama.

Kembali kepada judul tentang hikmah pembakaran Nabi Ibrahim as setelah peristiwa hancurnya patung berhala kaumnya yang musyrik dan akitbatnya ditudukan kepada Nabi Ibrahim as yang sebenarnya memang beliau yang melakukannya yang tujuannya adalah sebagai upaya menguji akal sehat kaumnya yang tidak menerima dakwahnya bahwa tidak ada gunanya menyembah patung berhala yang tidak mendatangkan manfaat dan mudharat sedikitpun. Kisah ini diterangkan begitu rinci dalam Surah Al-Anbiya ayat 51-72

Hikmah pembakaran Nabi Ibrahim as. disamping membuktikan beliau itu memang benar-benar utusan Allah, juga menjelaskan kepanikan kaumnya yang musyrik setelah tidak mampu lagi mendebat argumen Nabi Ibrahim as. soal kebenaran Tuhan dan kesalahan berhala. Untuk menutupi ketidakmampuan itu maka panik dan ditangkap dan dibakarlah nabi Ibrahim as. dengan harapan tidak ada lagi yang berani mendebat mereka. Namun yang terjadi justru penampakan kebenaran dari kebenaran.

Begitulah kalau orang yang bila kalah berdebat pada argumennya maka ia beralih kepada sentimen orang yang didebatnya. Dan ini ciri orang yang curang dalam berdebat. Supaya harga dirinya tetap bernilai.

Maka tidak perlu kaget setelah mengetahui apa sebenar hikmah dibalik pembakaran Nabi Ibrahim as. Sebenarnya apa yang dialami oleh para Nabi dan Rasul lainnyapun merasakan hal yang sama. Nabi Muhammad saw. berapa kali mengalami percobaan pembunuhan oleh orang-orang kafir Quraisy namun usaha mereka gagal membungkam kebenaran rasulNya.

Mungkin inilah yang diisyaratkan oleh Allah swt. tentang “kecurangan” orang-orang yang kalah debat kebenaran sebagaimana tersebut di dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 6-7;
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.  

Perbanyak berfikir dan berzikir maka kesabaran semakin teruji.Wallahu `alam

Kejahatan Bermodus Kebaikan Tidak Lebih Buruk Daripada Kebaikan Bermodus Kejahatan

Kejahatan dan kebaikan merupakan dua rival abadi sejak peristiwa Nabi adam as. dan Iblis. Sampai kelak kehidupan dunia ini berakhir (kiamat kubro). Dari dua hal ini pula sebagai tolok ukur dimana tempat bagi yang melakukan kejahatan dan kebaikan. Apakah di neraka atau di surga.

Oleh karena itu, Allah gambarkan kehidupan dunia ini hanyalah permainan. Sehingga Jin dan Manusia dipersilahkan Allah untuk berkompetisi. Bila menang maka surgalah balasannya. Dan bila kalah maka nerakalah balasannya. Kuncinya ada pada kebaikan dan keburukan. Ukurannya adalah patuh tidak kepada Aturan Allah melalui Perintah dan laranganNya. Maka muncullah disitu kompetisi antara keimanan dan kekufuran.

Lalu Soal kali adalah Bagaimana jadinya bila suatu kejahatan bermodus kebaikan ? dan bagaimana pula jadinya bila suatu kebaikan bermodus keburukan ? Mengapa bisa demikian ?

"Ironinya, pada hari-hari ini kelompok ini sangat banyak dan nyata. Sasarannya adalah masyarakat awam. Dan ini biasanya dilakukan oleh bukan orang-orang bodoh dan yang kurang ilmu. Tetapi justru dilakoni oleh orang-orang yang berlebih ilmunya. Dan perbuatan ini sebenarnya lebih merusak dan sistematis. Maka jangan kaget bahwa sumber dari kebodohan di zaman jahiliyah sebelum hadirnya Islam itu adalah para pemuka agama dan orang-orang yang berilmu pengetahuan." 

Sesungguhnya antara kebaikan yang mewakili kebenaran dengan kejahatan yang mewakili kebatilan tidak bisa bersatu. Keduanya seperti terpisah jauh seperti langit dan bumi, siang dan malam, dan seterusnya yang intinya adalah saling berlawanan. Maka bila keduanya bersatu maka muncullah kalimat di atas, yaitu kebaikan bermodus kejahatan dan kejahatan bermodus kebaikan.

Semestinya kebaikan bermodus kebaikan dan kejahatan bermodus kejahatan. Itu pakemnya. Jelas. Tidak samar-samar.

Dalam contoh kasus, bila ditanya alasan atau modus perbuatannya kepada seorang pencuri maka pastilah jawabannya umumnya untuk kebutuhan sehari-hari atau lagi membutuhkan biaya-biaya yang memaksakan dirinya untuk berbuat demikian. Dan banyak lagi contoh kasus lainnya. Maka inilah yang disebut dengan kejahatan bermodus kebaikan. Dan ini bisa kita cerna mengapa bisa terjadi demikian.

Namun bagaimana pula dengan kebaikan bermodus kejahatan ? Apa memang ada ? kalau kita melihat di dalam Al-Quran, kelompok ini di alamatkan kepada pemuka agama yang mencampurkan antara yang haq dengan bathil, menghalalkan yang haram atau sebaliknya, menyembunyikan kebenaran dan seterusnya. Sehingga kejahatan dibungkus secara rapi sehingga bungkusannya terlihatan kebaikan. Padahal di dalamnya penuh dengan kejahatan.

Ironinya, pada hari-hari ini kelompok ini sangat banyak dan nyata. Sasarannya adalah masyarakat awam. Dan ini biasanya dilakukan oleh bukan orang-orang bodoh dan yang kurang ilmu. Tetapi justru dilakoni oleh orang-orang yang berlebih ilmunya. Dan perbuatan ini sebenarnya lebih merusak dan sistematis. Maka jangan kaget bahwa sumber dari kebodohan di zaman jahiliyah sebelum hadirnya Islam itu adalah para pemuka agama dan orang-orang yang berilmu pengetahuan.

Artikel ini bukanlah untuk menyerang para pemuka agama dan orang yang berilmu pengetahuan. Tetapi Al-Quran mengingatkan begitu. Supaya janganlah mempermainkan kebenaran bermodus kebatilan. Kalau ingin harta, tahta dan wanita maka laluilah dengan jalur dan cara yang benar. Sesungguhnya Harta, tahta dan wanita itu merupakan alat untuk beramal. Memperolehnyapun dengan cara yang halal lagi baik adalah bentuk bentuk beramal juga.

Semestinya ini disadari betul oleh pihak yang dimaksud. Kerusakan yang fatal lagi sistematis bukanlah dilakukan oleh kebodohan masyarakat awam, tetapi justru dari para pemuka agama dan orang yang berilmu pengetahuan yang curang dan culas. Dan ini sudah dibuktikan pada masa-masa terdahulu. Al-Quran yang membuktikan.Wallaahu a`lam

Supaya tidak "GAPAH", pelajarilah Islam dari Sejarahnya dan itu ada di Al-Quran

Al-Quran merupakan petunjuk manusia dan yang hanya meyakini sepenuhnya sebagai petunjuk adalah orang-orang yang bertakwa 2:2

Al-Quran merupakan sumber ilmu pengetahuan dunia dan akhirat. Yang berkaitan dengan dunia banyak sekali. Mulai dari sejarah, sains, teknologi dan seterusnya. Apalagi yang berkaitan dengan akhirat tidak kalah banyak.

Manusia menjadi tahu apa itu bumi, bulan, bintang dan seterusnya dari Al-Quran. Sehingga kebenarannya diuji melalui penelitian dan disiplin ilmu. Begitupula dengan surga, meskipun manusia yang hidup di dunia ini belum ke akhirat tetapi dengan penjelasan Al-Quran, menjadi tahu dan bisa membayangkan bahwa tempat itu sangat indah dan nyaman (sebaik-baik tempat). Begitulah kesempurnaan Al-Quran dibandingkan dengan kitab-kitab Tuhan lainnya bahwa isinya lebih luas dan penulis berkeyakinan bahwa apa yang dikatakan Tuhan tentang Kitab Lauh Mahfudz itu duplikatnya adalah Al-Quran yang diterima Nabi saw. (Bagi yang yakin)

Kembali ke topik artikel bahwa mempelajari Islam hendaknya dari sejarahnya supaya tidak Gagal Paham dan itu ada di Al-Quran. Adapun kitab-kitab sejarah bikinan manusia merupakan uraian dari sejarah pokok yang tercantum di Al-Quran dengan tambahan al-Hadits dan faktor pendukung lainnya sebagai pembuktian kebenaran sejarah dalam Al-Quran.

"Hendaklah pelajari dan pahami Islam dari sejarahnya agar Tidak terjebak pada fanatisme mazhab atau aliran tertentu. Sehingga tau asbabun nuzul dan dasar hukumnya. Kemudian Bisa dan mampu menangkap dan menyikapi terhadap yang sedang dan telah terjadi pada hari-hari ini bahwa peristiwa ini pernah ada sebelumnya. Barangkali tokoh dan tempatnya saja yang berbeda. Tetapi corak dan motifnya sama.

Kalau kita jeli melihat bahwa sebagai perbekalan dakwah Nabi saw., beliau selalu diingatkan oleh Tuhan dalam kitabNya bahwa peristiwa dan kelakuan ummatnya sudah ada dan pernah ada. Lihat saja bagaimana kisah Nabi Adam as. dan Iblis, peristiwanya telah berlalu. Kemudian kisah-kisah para Nabi dan rasul sebelumnya dijelaskan untuk dijadikan pelajaran agar Nabi tidak "terkejut" dan mengetahui bagaimana menyikapi dan menghadapi ummatnya selama berdakwah dan tantangannya.

Adapun peristiwa yang terjadi dengan beliau tidak begitu banyak porsinya dibandingkan dengan kisah-kisah terdahulu (sejarah).

Sejarah bukan sekadar mengetahui tempat, tokoh dan waktu peristiwanya. Tetapi lebih kepada mengambil hikmah-hikmah di dalamnya.

Yang ingin penulis katakan bahwa sebagai manusia terutama yang mengaku beriman, hendaklah pelajari dan pahami Islam dari sejarahnya agar;
1. Tidak terjebak pada fanatisme mazhab atau aliran tertentu. Sehingga tau asbabun nuzul dan dasar hukumnya,
2. Bisa dan mampu menangkap dan menyikapi terhadap yang sedang dan telah terjadi pada hari-hari ini bahwa peristiwa ini pernah ada sebelumnya. Barangkali tokoh dan tempatnya saja yang berbeda. Tetapi corak dan motifnya sama.

Dalam urusan sejarah, memang tidak banyak mampu dan mau menelusurinya. Bukan penulis ahli sejarah, paling tidak sedikit demi sedikit mengetahui dan terus mencoba menelusuri terhadap apa yang sedang dan telah terjadi dalam perspektif (pandangan) sejarah. Dan menurut penulis, nabi saw. keberhasilan beliau dalam berdakwah dikarenakan adanya pendekatan sejarah. Lihat saja dari surah ke surah, pasti ada sejarah di dalamnya.

Akhirnya penulis menyarankan agar ummat mau dan bersemangat membaca dan menelusuri sejarahnya (Islam). Dengan demikian mengetahui dan mengerti mengapa hari-hari ini ummat Islam kelihatan "mundur". Bahkan seperti yang pernah diucapkan nabi bahwa ummatnya seperti buih di tengah lautan dan menjadi santapan bagi orang-orang. Seakan-akan ummat ini "bodoh". Taunya hanya sekadar zikir-zikir lisani dan qolbi.

Padahal zikir akal fikiran juga sangat penting. Agar tidak terjebak kepada hal-hal dan kondisi merasa dalam beragama padahal sebetulnya tanpa sadar sudah jauh melenceng dari agama, ditambah pula dalam urusan duniawi sangat tertinggal dari ummat yang lain. Padahal di dalam Al-Quran, ada istilah "fastabiqul khayrat". Celakanya kalimat ini hanya dipahami sebatas Zakat, Infak sedekah. Namun kenyataannya masih banyak yang miskin dan bodoh. Wallaahu `alam.

Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis

Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gun...