Apakah TUHAN itu kelihatan ?

Soal Tuhan bagi manusia adalah suatu pemahaman dan keyakinan dasar dalam beragama. Semua agama pastinya mengenalkan, memahamkan dan meyakini ketuhanannya.

Islam mengenalkan TUHAN kepada ummatnya dalam konteks Aqidah. Dan inti berTUHAN itu adalah Tauhid. Yaitu meyakini bahwa Tuhan itu adalah Allah yang Maha Esa. Berdoa hanya kepadaNya. Tidak beranak dan diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun menyerupaiNya. Hal ini berdasarkan Quran Surah Al-Ikhlas ayat 1-4.

Soal wujud, Islam mengenalkan TUHAN melalui tanda-tanda adanya Allah. Dia tidak dapat dilihat oleh kedua mata manusia secara langsung. Hal ini pernah dialami oleh nabi Musa as. ketika beliau ingin melihat Allah sebagaimana firmanNya :

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al-A'raaf: 143)

Dari ayat ini sangat terang bahwa Nabi Musa as. ingin sekali melihat TUHANnya tetapi tidak sanggup dan pingsan. Artinya, bukan manusia melihat TUHAN tetapi TUHAN lah melihat apa yang dikerjakan hamba-hambaNya. Sebagaimana firmanNya :

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadiid: 4)

Soal manusia tidak melihat TUHANnya selain kisah nabi Musa as. yang berusaha melihat TUHAN secara langsung tetapi bisa berbicara kepadaNya, memang ada dijelaskan di dalam firmanNya :

(yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al-Anbiyaa': 49)

Jadi, bagi orang Islam bahwa TUHAN tidak bisa dan tidak mampu dilihat secara langsung sebagaimana agama lain yang mengajarkan ummatnya bahwa TUHAN bisa dilihat melalui sesembahan mereka seperti kayu, patung, api dan seterusnya. Sedangkan Allah swt. hanya bisa dilihat melalui tanda-tanda keberadaan dan kebesaranNya berupa ciptaanNya, kehendakNya dan kuasaNya. Hikmahnya adalah :

  1. Soal melihat TUHAN bukanlah urusan manusia. Tetapi TUHAN lah yang melihat apa yang dikerjakan manusia.
  2. Menyelisihi sesembahan agama lain yang mewujudkan tuhannya melalui benda-benda ciptaan mereka. Yang tidak mendatangkan manfaat apalagi kemudharatan.
  3. Ujian keyakinan bagi manusia apakah beriman atau tidak adanya Allah swt. meskipun tidak nampak langsung secara indera penglihatan tetapi bisa disaksikan melalui ayat-ayatNya (tanda-tanda keberadaan dan kebesaranNya) yang ada di langit dan bumi secara tersurat dan tersirat.
  4. Menyelamatkan akal untuk memikirkan wujud TUHAN dan menyelamatkan hati dari meyakini adanya TUHAN selain ALLAH.
  5. Tugas manusia hanyalah mentaati perintahNya dan meninggalkan laranganNya sebagai bentuk kasih sayang Allah tanpa harus repot-repot melihatNya.
Sangat lazim dan alami bahwa manusia itu ingin sekali melihat TUHANnya. Karena sebagai yang diciptakan pastilah ingin mengetahui dan mengenal siapa yang menciptakannya. Seorang anak saja ketika ia lahir dan tidak melihat orangtuanya maka ingin sekali mengetahui dimana orangtuanya. Ini alami dan keniscayaan yang pasti dialami oleh setiap manusia secara spritual. Nabi Ibrahim as. pun pernah mengalami dan mempersoalka dimana TUHAN.

Oleh karena itu, jawaban yang diberikan Allah kepada manusia adalah sebagaimana firmanNya :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah: 186)

Kedekatan TUHAN bagi manusia tidak ada batas dan jarak. Dia tidak perlu diwujudkan melalui sesuatu sebagaimana yang dilakukan oleh agama lainnya. Sepertinya Allah hendak mengatakan untuk apa manusia membuat sesuatu untuk disembah sementara sesembahannya dibuat manusia dan sesembahan itu tidak bisa menciptakan apa yang Allah ciptakan. Walaahu a`lam bissowab

Ketika eksistensi TUHAN "terlihat" hanya pada soal musibah

Dipercaya atau tidak bahwa alam ini tidak tercipta dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakannya. Dan yang menciptakannya adalah yang memiliki kuasa dan kekuatan besar. Dan yang memiliki kuasa dan kekuatan besar itu adalah Tuhan. Bagi orang Islam bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah yang Maha Esa. Dia ada tapi tidak berwujud seperti ciptaanNya.

Adanya kenikmatan dan musibah bagi manusia bagian dari kehidupannya. Karena tanpa diminta keduanya itu selalu hadir mengiringi selama dirinya hidup. Bila yang dirasakan senang, puas dan bahagia maka manusia menganggapnya sebagai kenikmatan. Dan bila yang dirasakan tidak menyenangkan, kurang memuaskan dan kesedihan maka manusia menganggapnya sebagai musibah.

Soal Tuhan, memang manusia merasa kehadirannya disaat musibah datang. Dan bila musibah berlalu maka tidak sedikit manusia "melupakan"Nya. Kenapa bisa begitu ?

Dalam diri manusia, ada kekuatan lagi kelemahan. Tidak bagi Tuhan. Dia Maha memiliki kekuatan dan tidak ada kelemahan bagiNya. Itulah yang membedakan diriNya dengan yang diciptakanNya. Ibarat kursi dengan sipembuatnya. Tentu secara fisik maupun kekuatan tentunya berbeda. Begitupun si kursi tidak bisa dikatakan bahwa dirinya anak si pembuat kursi. Ketika si kursi rusak dan patah maka dia akan membutuhkan perbaikan oleh si pembuatnya. Ketika sudah baik, si kursi mungkin saja tidak membutuhkan si pembuatnya.

Bagi orang yang bertakwa bahwa kenikmatan dan musibah itu sama saja cara menghadapinya. Yang berbeda hanya perasaannya. Dan itu alami. Tetapi tentu perasaan yang tidak berlebihan. Bila nikmat bersyukur dan bila susah bersabar. Hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh orang yang bertakwa. Berbeda dengan orang yang di luarnya. Bila nikmat kegirangan dan bisa susah berkeluh kesah.

Soal musibah, seolah-olah Tuhan hadir disitu maka berdoalah ia sesering mungkin sampai pertolonganNya tiba. Namun apa yang terjadi bila musibah itu berlalu ? Sudah tentu kebanyakan manusia itu melupakan kesusahannya dan Tuhan yang menenangkannya. Makanya dengan "jengkelnya" Tuhan bilang bahwa "manusia itu selalu melampaui batas".

Ketahuilah, bahwa Tuhan hadir di setiap saat. Dia tidak pernah mengantuk apalagi tidur sebagai makhlukNya. Dia terus menerus mengurus dan mengatur alam semesta ini dengan kuasaNya.

Pada dasarnya kenikmatan itu datangnya dari Tuhan dan musibah itu akibat dari manusia itu sendiri. Bukan Tuhan "cuci tangan" tetapi dibuatkan aturan dan hukum-hukumNya agar manusia itu senantiasa dalam kenikmatan. Namun karena manusia itu ada sifat kufur akibatnya kembali kepada manusia itu sendiri.

Begitupun di balik musibah sebenarnya ada kenikmatan dan hikmah-hikmah di dalamnya. Diantaranya adalah agar manusia itu sadar dan kembali kepada Tuhannya yang mungkin selama ini dilupakan dan dianggap "tidak ada".

Jadi, bersikap ihsan dalam suka dan duka. Yakinlah bahwa Tuhan bukan spesialis menangani "kesusahan" makhlukNya. Maka pantaslah manusia itu beribadah dengan rela hati dan tanpa paksaan. Diminta atau tidak diminta. Persoalannya adalah bagaimana pula dengan orang yang ketika senang tidak peduli terhadap Tuhannya apalagi disaat susah, tidak membutuhkanNya. Penulis berkeyakinan pasti tidak ada manusia yang demikian kecuali menipu dirinya sendiri. Wallaahu a`lam bissowaab.

Di balik musibah ada kenikmatan

Sesuatu yang menggelisahkan dan tidak menyenangkan hati maka disebut dengan Musibah. Seperti ketakutan, kelaparan, kemiskinan, kematian dan kesengsaraan maka itu semua pasti bagi semua orang merupakan musibah.

Sedangkan sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan hati maka disebut dengan kenikmatan. Seperti kekuatan, kekenyangan, kekayaan, kehidupan dan kesenangan maka itu semua orang pasti sangat setuju merupakan kenikmatan.

Musibah disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri dan atas izin Allah. Sedangkan kenikmatan itu disebabkan pemberian Allah melalui usaha manusia maupun tidak diusahakan.

Musibah dan kenikmatan datang silih berganti menghampiri manusia pada setiap saat. Hikmahnya sebagai ujian dan peringatan. Tidak dimintapun pastilah datang menghampiri. Seperti bernafas. Tidak dimintapun, manusia membutuhkan oksigen agar bertahan hidup. Dan itu kenikmatan yang tidak diusahakan manusia. Musibah terjadi bila kemudian manusia mengotori udara melalui asap pembakaran yang berlebihan sehingga manusia sulit menghirup oksigen.

Soal harta. Memang Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya. Bila manusia berusaha semaksimal mungkin tetapi belum tentu hasilnya sebesar yang diharapkannya. Dan begitu juga ada manusia usahanya sekadar atau mungkin tidak sama sekali maka boleh jadi rezeki yang diperolehnya melimpah ruah seperti anak pejabat misalnya. Maka musibah hadir bila si penerima merasa kekurangan dan kenikmatan hadir bila si penerima merasa cukup dan puas. Begitulah eksistensi musibah dan kenikmatan. Intinya bila enak maka kenikmatanlah itu dan bila tidak enak maka musibahlah itu.

Di balik musibah ada kenikmatan
Di karenakan manusia hidup dihadapkan dengan musibah dan kenikmatan maka Allah memberi dua petunjuk mengatasi keduanya. Yaitu Sabar dan Syukur.

Sabar adalah menahan diri terhadap suatu keadaan melalui ucapan maupun perbuatan yang dirasa tidak menyenangkan. Sehingga dengan menahan diri itu memunculkan suatu sikap yang bijak dan menentramkan hati.

Syukur adalah mengakui segala kenikmatan yang datang pada dirinya apakah melalui usahanya maupun tidak diusahakan datangnya dari Allah swt. Sehingga dengan pengakuan itu meningkatkan ketaatan kepada Allah dan mampu menggunakannya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh si pemberi (mendatangkan manfaat/berkah).

Maka ketika musibah hadir dihadapannya lalu disikapi dengan kesabaran maka ada kenikmatan yang dirasakannya, yaitu :
1. Menyadari bahwa musibah itu sebagai peringatan baginya agar berhenti dari kelalaian dan memperbaiki diri dan keadaan

2. Ujian naik kelas "iman". Keimanan mesti diuji apakah benar atau dusta. Maka dengan musibah sebagai uji coba apakah yang bersangkutan benar-benar beriman atau malah berdusta.

3. Musibah mendekatkan diri kepada Tuhan. Memang sudah kebiasaan manusia bila ditimpa suatu persoalan maka disitulah Tuhan disebut. Namun bila sudah mendapat kenikmatan maka tidak jarang manusia lupa bahwa dirinya pernah sengsara.

Jadi, bila musibah itu dipahami ada kenikmatan dibalik itu maka sipenerima tidak begitu saja mengeluh dan berputus asa. Karena boleh jadi memang ada kesalahan yang dianggapnya selama ini tidak ada soal. Begitulah Tuhan menegur hambaNya. Ada teguran lembut dan ada teguran tegas. Mungkin teguran yang tegas itu termasuk di dalamnya musibah. Oleh karena itu yakinlah bahwa di balik musibah ada kenikmatan bagi yang mengerti. Wallaahu a`lam bissowaab






Hijrah mengingatkan bahwa manusia itu makhluk dinamis dan bukan statis

Manusia adalah makhluk bergerak sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Itu makanya diberi kaki untuk berjalan, berlari dan melompat. Gun...